
"Habisnya Atan usil sih," omel ku.
Atan tertawa hingga menahan perutnya, tawa Atan membangunkan ayah yang lagi beristirahat.
"Eee, ada Atan ya? Sudah dari tadi ya?"
"Barusan Om, sekitar 10 menitan."
"Maaf ya Om, Atan sudah membangunkan Om."
"Tidak kok, Om yang sudah bosan terus tertidur di tempat tidur."
"Sepertinya ada yang seru ya?"
Ibu menghampiri kami.
"Ini loh Tanta, Lilanya lucu."
Atan masih saja tertawa.
Ayah dan ibu saling berpandangan, memasang wajah bingung.
"Yuk ayah dari pada kita tambah bingung dengan percakapan anak muda, sebaiknya kita ke taman yuk!"
Ibu mengajak ayah untuk bersantai - santai di taman depan rumah.
"Ihhhh...Atan."
Ku mengejar Atan dan akhirnya aku dan Atan main kejar - kejaran.
Di Taman
"Bu, kapan ibu merealisasi rencana kita?"
"Sabar dulu Yah, sekarang kita fokus dulu untuk pembiayaan obat Ayah."
Ayah terdiam sesaat.
"Bagaimana kalau sambil berjalan usahanya. Nanti untungnya baru kita gunakan buat biaya kebutuhan harian kita dan biaya obat ayah."
"Hmmm, boleh juga Yah. Nanti ibu bagikan ke group arisan ibu dan ibu akan meminta Lila untuk promosikan di sosmet."
Di Dalam Rumah
Ku berhenti menarik nafas karena kecapaian mengejar Atan.
"Ayo sini kejar aku," teriak Atan.
"Ya Tuhan mengapa Atan sudah seperti ini? Di mana Atan yang cool, cuek dan keren?"
"Masa hanya begitu saja sudah kecapaian sih?" Goda Atan.
"Ah..., aku menyerah deh."
"Kok menyerah?"
"Malas ah, Lila capek."
Atan menghampiri ku dan duduk di samping ku.
"Kena kamu!"
Ku memegang lengan Atan.
"Lila, curang."
Atan menarik lengannya yang sudah ku pegang erat. Aku dan Atan saling tarik menarik dan....
Creeaaakkk, lengan baju Atan sobek.
Aku dan Atan tersontak kaget melihat baju Atan yang sudah tersobek.
Muka ku mendadak menjadi pucat.
"Maaf!"
Rasa bersalah dan gugup menghantui ku.
"Maaf!"
Aku meminta maaf berulang kali kepada Atan. Bukannya memaafkan ku Atan malah tertawa. Tawa atan memecah kecanggungan ku.
"Tidak apa - apa Lila," kata Atan sambil mengusap rambut ku lembut.
"Maaafff," kata ku terbata - bata.
"Benaran tidak ada apa - apa kok."
"Loh Atan, baju kamu?" Tanya ibu yang bingung melihat baju Atan yang sudah sobek.
"Ini Tanta, tadi kesangkut paku di pojok sana," kata Atan berbohong.
"Sini Tanta betulin."
__ADS_1
Atan membuka bajunya dan memberikan kepada ibu untuk dijahit. Aku begitu beruntung memiliki ibu yang serba bisa.
"Jangan merasa bersalah lagi, kan Ibu mu sudah menjahitnya," bisik Atan.
"Senyum dong," goda Atan.
Ku memberikan senyuman termanis ku buat Atan.
"Begitu dong, aura kecantikannya jadi nampak."
"Kamu mulai lagi deh."
Ku mencubit lengan Atan.
Atan menangkap tangan ku dan menggenggamnya erat.
Menatap ku dalam.
"Tetaplah seperti ini ya, ku harap senyuman mu terus terukhir indah di bibir mu dan jangan pernah pudar," pinta Atan.
"Ekhmmm, ekmmm."
"Atan ini baju kamu."
Ibu memnerikan baju Atan yang baru selesai dijahit.
Atanpun kelabakan dan melepaskan tangan ku.
"Terima kasih tanta," ucap Atan sambil memakai bajunya.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Setelah menyantap makan siang, Atan berpamitan untuk pulang.
Ayah dan Ibu ku sangat menyukai Atan, menurut mereka Atan anak yang baik dan sopan.
Di Rumah Atan
Mobil sport berwana biru memasuki perumahan elit dan melaju menuju parkiran.
Atan keluar dari mobilnya dan mensenandungkan lagu cinta.
Atan yang terkenal pendiam, akhir - akhir ini berubah menjadi sosok yang periang.
Atan melangkah menuju rumah megahnya, dia membuka pintu dan menuju ke dalam rumah sambil menari. Langkahnya terhenti karena suara bik Inah.
"Nak Atan lagi jatuh cinta ya?" Tanya bik Inah.
"Yah iya lah, kan bibik juga pernah muda. Pernah merasakan jatuh cinta."
"Bik inah hampir lupa, nak Atan di tunggu Tuan di ruang kerjanya."
"Terima kasih, Bik."
Atan menuju ruang kerja ayahnya.
Tok..., tok..., tok...
Atan mengetuk ruang kerja ayahnya.
"Silakan masuk," terdengar suara dari balik pintu meminta Atan untuk segera masuk.
"Malam yah."
"Malam, silakan duduk."
"Ada apa yah?"
"Lusa kita akan pindah ke luar kota. Ayah sudah mengurus semua berkas pemindahan mu dan untuk sekolah baru mu."
"Atan tak mau pindah, yah. Atan pingin di sini saja."
"Ayah tak bisa meninggalkan mu sendirian di sini, Atan."
Hati Atan terasa begitu resah dan gelisa. Atan teringat akan Lila.
"Aku ingin tetap berada di sini."
"Ini sudah menjadi keputusan ayah, jadi ayah harap kamu jangan membantahnya."
Ayah Atanpun pergi meninggalkan Atan seorang diri di ruang kerjanya.
Atan termenung seorang diri.
Di Rumah Lila
Ibu membuat daftar belanjaan yang cukup panjang.
"Ada acara ya, Bu?"
"Ibu mendapat orderan nih, nanti Lila bantuin ya."
"Beres, Bu."
__ADS_1
"Lila tolong belanjain ini semua ya."
Ku menerima daftar belanja dari ibu.
Ku bersiap dan mengambil jaket woll ku.
Aku menuju ke halte bus menuju pasar tradisional untuk berbelanja sesuai daftar belanjaan yang diberikan ibu.
Begitu banyak belanjaan yang ku pegang hingga membuat ku kewalahan.
Ku menuju halte bus dan menunggu bus untuk kembali ke rumah.
Hp ku bergetar di dalam saku jaket woll ku. Ku mengambil hp ku dan satu pesan dari Atan.
"Kamu di mana?"
Ku meletakan kantong belanjaan di dekat kaki ku dan membalas pesan Atan.
"Di pasar tradisional dekat rumah ku.1"
"Yang di jalan 'M', Tanya Atan."
"Iya!" Balas ku.
"Tunggu aku di situ, 10 menit lagi aku tiba."
"Baik," balas ku.
10 menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarnah putih berhenti tepat di depan ku.
Atan membuka pintu mobilnya dan menghampiri ku
"Ayo masuk," perintahnya.
Atan mengambil kantong belanjaan ku dan menyimpannya di begasi mobilnya.
Atan mulai mengemudikan mobilnya.
Terlihat jelas rasa gelisa di wajahnya.
"Lila," panggil Atan.
"Iya, ada apa?"
"Aku...," Atan menghentikan pembicaraannya.
"Ada apa?"
"Aku rindu sama kamu."
"Ihhhh..., Atan mulai deh."
Atan tertawa terpingkal - pingkal tapi jelas terlihat di wajahnya rasa gelisa dan resah.
Atan mengantar ku sampai ke rumah dan membatu ku membawakan belanjaan ku.
"Aku pamit ya, besok baru aku ke sini lagi."
Ku mengangguk mengantar kepergian Atan.
"Sepertinya tadi ada suara Atan?" Tanya Ayah.
"Iya yah, tadi Atan hanya mengantar Lila dan sekarang Atan sudah pulang kok yah."
"Wah, padahal ayah ingin mengobrol bersama Atan."
"Di mana ibu?"
"Ibu lagi di kamar, baru selesai mandi."
"Lila ke kamar dulu ya, mata Lila terasa begitu berat."
Aku meninggalkan ayah yang lagi asyik menonton acara TV.
Ku langsung menuju tempat tidur. Ku meletakan tubuh ku di atas tempat tidur. Menari badan dan tertidur.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Sayup - sayup ku mendengar suara ibu memanggil ku.
Tapi mata ku begitu berat sehingga membuat ku enggan bangun.
Akupun terlelap lagi.
Kali ini suara ibu terdengar lebih jelas lagi memanggil nama ku.
Suara ibu memaksa ku untuk bangun.
"Ada apa bu?" Tanya ku yang masih menahan kantuk.
"Sana bersiap, Atan ingin mengajak mu makan malam."
To Be Continued
__ADS_1