
Ku merenungkan segala kelakuan dan sikap dingin yang membuat semua orang menjadi khawatir.
"Maafkan aku!" Lirihku.
Ku terdiam dalam gelapnya kamar. Ku menutupi dan menghalang agar cahaya tak masuk ke dalam kamar.
Ku mengurung diri.
Ayah dan ibu seakan memahami apa yang ku rasakan sehingga mereka tak mengganggu sedikitpun membiarkan ku dalam kesendirian.
Ku menenangkan diri.
Berjam - jam ku menyendiri seorang diri.
Ku menguatkan diriku untuk bisa menerimanya.
Langkah kakiku membawa ku menuju kamar mandi.
Duduk menikmati aroma mawar yang keluar dari sabun.
Ku oleskan ke seluruh tubuh dengan sabun beraroma mawar, benar - benar aromanya menenangkan dan sangat khas.
Ku diamkan sejenak busa sabun yanh menempel di tubuh dan menikmati setiap inci aroma yang masuk dalam hidung ku.
Setelah menyudahi acara terapi, ku membilas seluruh tubuh dengan air dingin dan tak menyisahkan secuil busa yang melekat.
Byuuurrrr
Begitu menyegarkan, seakan dukaku ikut hilang bersamaan dengan air yang mengalir.
Ku mengenakan handuk dan kembali ke kamar, mengeringkan tubuh yang basah dan ku kenakan pakaian lalu keluar dari kamar.
Ku bertekat untuk menjadi Lila yang seperti sedia kala.
"Ibuuuu, Lila lapar."
Ibu dan ayah saling menatap bingung.
"Iya sayang, ibu siapkan sebentar ya."
Ibu menuju dapur mengolah makanan buat ku.
"Ini sayang," Ibu memberikan piring yang berisi makan buat ku.
Ku menyantap makanan dengan lahapnya.
Ayah memandang simpatik buat ku.
"Tambah?" Tanya Ayah sambil menyodorkan hidangan.
"Iya Yah, Lila lapar."
Ayah tersenyum dan mengelus rambut ku.
"Ini makan saja, tok makanannya ada banyak."
"Terima kasih Ayahku sayang," jawabku manja.
Di Restoran
Vita, Aby, dan Margot melakukan pertemuan dadakan di restoran "K", agendanya membahas soal Lila.
"Apa yang harus kita lakukan agar Lila yang dulu kembali?" Tanya Vita membuka percakapan mereka.
"Lila sangatlah berbeda, aku ingin Lila yang dulu," lanjut Aby.
"Apa kita harus mencari Atan dan menyeretnya untuk meminta maaf kepada Lila?" Tanya Margot.
Vita dan Aby saling menatap bingung karena ucapan margot.
"Ternyata Margot galak ya," Ledek Aby.
"Ihhh, aku lagi serius malah diledekin," protes Margot.
"Di mana Atan ya? Apa dia bersembunyi dalam bumi sehingga kita tak bisa menemukannya," lanjut Vita.
"Coba hubungi Neno, pasti dia tahu keberadaan Atan," lanjur Vita.
"Masa selama ini Neno menyembunyikan rahasia pada kita. Seperti tak mengenal Neno saja, rahasia di tangannya tak akan diam dalam sedetikpun. Mulutnya bagaikan ember bak pecah," ucap Aby.
"Iya juga ya, Neno tak bisa memegang rahasia," Lanjut Margot.
"Yuk, kita ke rumah Lila. Kita akan menghiburnya," ajak Vita.
"Sebaiknya biarkan dia menenangkan dirinya," lanjut Margot.
Mereka bertiga menarik nafas sambil menikmati minumum yang telah mereka pesan.
"Lantas apa yang harus kita perbuat?" Tanya Aby bingung.
__ADS_1
Merekapun tersontak diam, tak ada kata yang dapat mereka ungkapkan lagi.
Hp Vita berdering.
Lila Calling
"*Sssstttt, Lila telpon nih."
"Hay guys, di manakah kalian? Aku kangen nih."
"Kami lagi di restoran nih."
"Wah tegaaaaahhhhh, masa aku tak diajak."
"Bukannya tak diajak."
"Kalian tegah, jeput aku dong.
"Ok deh*."
"Guys aku jemput Lila dulu ya," ucap Vita.
"Siiiipppp deh," jawab Margot dan Aby.
Vita mengambil mobilnya yang terpakir rapih di parkiran restoran dan melaju menuju rumah Lila.
Di Rumah Lila.
Di depan teras rumah Lila duduk mengamati jalan, menanti jemputan dari sabahatnya.
Mobil berwarnah merah masuk ke halam rumah Lila.
"Maaf ya jalanannya cukup macet," ucap Vita.
"Aman, aku bisa makhlumi kok."
"Ayo!"
Aku dan Vita masuk ke dalam mobil dan menuju restoran "K."
Vita mengemudikan mobil dengan lajunya.
"Sepertinya sahahat ku ini sudah bangkit dari kubur ya?" Vita mengejek ku.
"Emangnya aku mayat?"
"Mau ku jitak ya?"
"Eitsss jangan dong, nanti kecantikannya ku hilang."
"Apa hubungannya?"
"Ya dihubung - hubungi saja, menjadi satu-kesatuan sehingga menjadi indonesia."
"Ya ampun!" Ku memukul dahiku karena bingung dengan apa yang diucapkan Vita.
Tawa Vita terbahak-bahak, sehingga air matanya mengenang di kedua matanya.
Ku memasang wajah cemberut menatapnya tapi Vita menganggap raut wajahku lucu sehingga tawanya tak terhenti.
"Cukup tawanya," ucapku.
"Habisnya kamu lucu sih," Vita mencubit pipi ku.
"Emangnya aku badut?"
"Kamu sendiri yang bilang loh, tapi kayaknya kamu cocok kok jadi badut."
"Vittttaaaaa."
"Sudah sampai, ayo turun."
"Malas ah."
"Ayolah atau mau ku gendong."
"Vitaaa."
Akupun keluar dari mobil dan mengejar Vita.
"Awas kamu ya!"
Tawa Vita tetap mengelegar sehingga semua mata dalam reatoran "K" melihat ke arah kami.
"Hai kalian berdua ke sini," panggil Margot.
Seperti seorang anak kecil yang diperintah ibunya aku dan Vita menuju ke tempat Margot dan Aby.
"Iya kanjeng mamy, ada apa ya?" Ucap Vita.
__ADS_1
Vita menutup mulutnya dan menahan tawa.
"Vita usilnya kebangatan deh," Abypun ikut tertawa.
"Hello kalian sudah SMA bukan anak SD jadi bersikaplah seperti anak SMA," omel Margot.
"Maaf kanjeng mami, Siapa ya yang masih SD?" Tanyaku serius.
"Kalian lah!"
"Kalian? Aku juga?" Aby menujuk dirinya.
"Kok aku dibawa-bawa," lanjut Aby.
"Hahahahaha." Tawa Vita tak henti-hentinya.
"Sudah cukup ya, perutku mulas nih," ucap Vita.
"Mas mau pesan makan," pangil Aby kepada Waiter yang berdiri di pojok restoran dan Waiterpun datang menghampiri kami.
Waiter itu begitu tampan sehingga Aby memulai membuka jurus gombalnya.
"Mau pesan apa, Mbak?" Tanya Waiter.
"Bisa pesan hati, Mas?"
"Hati?" Tanya Waiter yang bingung karena restoran mereka tidak menyediakan menu hati.
"Iya, mas. Hati!"
"Maaf Mbak tidak ada dalam daftar menu kami."
"Oooo, Kalau hatinya Mas bisa dipesan?" Mumpung hati ku lagi kosong nih."
Kami berempat serentak tertawa karena tingkah Aby. Dan wajah Waiter itu berubah merah karena digombal oleh Aby.
"Maaf ya, Mas. Sahabatku penyakitnya lagi kambuh," ucap Margot.
Waiter itu hanya tersenyum.
"Iya Mas, penyakitnya muncul ketika lihat coga ( cowok ganteng ) kaya Mas," Lanjut ku.
"Iya Mas, penyakit gombalnya akan bangkit dari tidur panjangnya jika melihat cowok tampan."
"Maaf Mbak mau pesan apa ya?" Lanjut Waiter yang kikuk karena gombalan Aby.
"Aku mau spageti," ucap Vita.
"Aku ayam keju," lanjut Margot.
"Kalau aku salad buah ya," ucapku.
"Kalau aku pesan Mas ya," penyakit Aby belum juga hilang.
"Abyyyyy," teriak kami bertiga.
"Aku pesan ayam keju, sama seperti Mbak yang itu," Aby menujuk Margot.
Waiter mengangguk dan mengambil pesanan kami.
Di Rumah Lila.
"Bu, kok Lila tak kelihatan?"
"Lila lagi sama sahabat-sahabatnya, tadi dia di jemput Vita."
"Syukurlah dia tak mengurung diri lagi."
"Iya Yah, Ibu sempat berpikiran yang aneh-aneh."
"Ayo Yah, kita makan."
Ayah dan ibu menyantap makanan yang sudah disajikan ibu.
Di Restoran "K".
Canda tawa mewarnai acara makan kami.
Kesedian dan kebencian terhadap Atan hilang seketika.
Ku mulai membuka hati dan menerima apa yang diputuskan Atan.
Dalam keseruan kami, sesaat aku teringat akan makan malam terakhir bersama Atan. Yang menyimpan berbagai kisah indah dan pilu di keesokan harinya.
Hidup itu penuh misteri.
Hari ini kita bahagia belum tentu esok kita juga kan bahagia.
__ADS_1