Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Semakin Dewasa


__ADS_3

"Ayah lila datang yah..." panggilku.


"Sahabat - sahabat ku datang menjenguk ayah." Lanjut ku.


"Lila...biarkan ayahmu beristirahat," kata vita.


Aku menghela nafas panjang dan duduk di samping ayah.


"Yang sabar ya," atan memengang pundakku.


Setelah seperempat menit atan dan vita bergantian dengan margot, aby dan neno untuk menjenguk ayahku.


"Lila yang kuatnya," margot menguatkan ku.


Aku pun mengangkuk, dan tersenyum kecut.


Tak lama kemudian ayah membuka matanya.


"Ayaaahhhh," sapaku.


Ayah ingin memaksa dirinya untuk duduk.


"Ayah biar baring saja, jangan memaksakan diri ayah." Kata ku.


"Om istirahat saja," lanjut neno.


"Kami pamit pulang dulu ya om?" kata margot.


"Maaafff ya," lanjut ayah.


"Tidak apa - apa om, kami pulang dulu." lanjut margot.


"Lila kami pamit dulu ya," pamit sahabat - sahabatku.


"Iya, makasi ya." Kata ku.


"Ayah sabar sebentar ya, aku mengantar mereka." Kata ku.


Ku mengantar ke lima sahabatku ke pintu ruangan ICU dan kembali menemani ayahnya.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


AYAH LILA POV



Ayah lila seorang yang pekerja keras, ulet, penyayang dan suka menuruti apa saja yang disukai oleh lila, humoris, ramah dan selalu menjadi andalan lila.


Walaupun wajah ayahnya lila sangar tapi sebenarnya ayahnya orang yang sangat bersahabat dan baik.


Ayahnya akan melakukan apapun agar lila bahagia.


Ayahnya lila sangat memanjakan lila. Beliau akan menuruti semua kemauan lila.


Ayahnya sangat menyanjung lila. Lila begitu berharga baginya karena lila anak satu - satunya.

__ADS_1


Ayahnya lila lebih menguatirkan lila dari pada dirinya sendiri.


Bahkan saat sakit, ayahnya akan menyembunyikan sakitnya agar lila tak sedih.


Masakan lila selalu di anggap paling enak, walaupun sebenarnya tidak seperti itu.


Ayahnya lila menyayangi sahabat - sahabatnya lila. Beliau mengangap sahabat - sahabatnya lila seperti anaknya sendiri.


LILA POV



Lila anak yang sangat manja.


Lila gadis yang periang, lucu, imut, pintar dan sangat berasahabat.


Lila adalah bintang di kelasnya tapi dia tidak sombong.


Dia suka membantu teman - teman maupun orang yang kesusahan. Menurut lila jika membantu sesama pahalanya besar.


Banyak cowo yang mendekatinya tapi lila begitu cuek.


Menurutnya dia akan membahagiajan orang tuanya dulu baru memikirkan tentang cowok.


Lila menpunyai sifat yang buruk yaitu egois. Lila tak akan sudi sahabat atau orang - orang terdekatnya dekat dengan orang lain.


Sekain egois, lila juga pencemburu.


Lila percaya perbuatan baiknya akan di balas Tuhan dengan cara yang tak terduga bahjan mungkin tampa kita sadari.


Lila tidak akan bisa hidup tampa ayahnya.


Ketika ayahnya sakit, dunia lila berubah seketika terasa hampa dan keceriaannya pun hilang.


Tapi, ketika berhadapan dengan orang tuanya lila menyembunyikan perasaannya karena takut membuat kedua orang tuanya kuatir dan bertamba sedih.


Ada hikmat dibalik sakitnya ayahnya, lila mulai menjadi gadis yang dewasa dan tidak manja lagi. Dia tidak bergantung lagi kepada kedua orang tua.


Lila menjadi gadis yang mandiri dan bisa mengatur dirinya sendiri.


Back To Stories...


"Ayah makan ya, lila suapin."


"Iya sayang,"


Aku menyetel tempat tidur ayah agar ayah dapat menyantap makanannya dengan mudah.


"Makan yang banyak ya karena obat ayah sangat banyak!"


Ayah mengangguk lemah.


Ku melihat ada air mata di pelupuk mata ayah, dan air mata ayahpun menetes membasahi pipinya yang mulai nampak garis keriputnya.


Ku menghapus air mata ayah.

__ADS_1


"Jangan menangis yah..., Lila tak akan sanggup melihat ayah menangis"


"Maafkan ayah, Lila."


"Untuk apa yah?"


"Karena bukan ayah yang menjaga dan merawat Lila, tapi Lila yang menjaga dan merawat ayah."


"Untuk apa ayah? Bukankah selama ini ayah sudah menjaga dan merawat Lila sampai segede ini? Jadi kini giliran Lila untuk menjaga dan merawat ayah. Biarkan Lila berbakti kepada ayah."


Ayah mengelus rambut ku, wajahnya masih nampak sedih.


"Anak ayah sudah semakin dewasa ya," kata ayah sambil tersenyum kepada ku.


Akupun membalas senyuman ayah.


"Ini obatnya ayah,"


Ku memberikan ayah segelas air untuk meminum obat - obatnya.


"Habis ini, ayah istirahat ya."


"Oh ya di mana ibu mu Lila? Sedari tadi ayah tak melihat ibu mu


?"


"Ibu kembali ke rumah yah, untuk beristirahat sejenak."


"Hmmm...kasihan ibu mu. Dia pasti sangat lelah."


"Iya ayah, jadi malam ini biar lila yang menemani ayah. Agar ibu dapat beristirahat di rumah."


Baru beberapa saat berbicara tentang ibu, ibupun datang.


"Ibuuu..." Aku dan ayah tersontak kaget.


"Ibu seharusnya istirahat di rumah dulu, biar ayah, aku yang temani." kata ku.


"Besok kan Lila sekolah, kalau lila menjaga ayah berarti besok lila tidak ke sekolah."


"Tak apa - apa bu, nanti lila minta ijin."


"Ibu mu benar lila, nanti kamu bisa ketinggalan pelajaran." Kata ayah.


"Tidak kok yah, kan sekali - kali bukan setiap hari lila minta ijin."


Aku tak tega melihat ibu yang sudah nampak lelah tapi tetap memaksakan diri untuk menemani ayah.


Ayah dan ibu ku memiliki ke samaan yaitu selalu menguatirkan ku dari pada diri mereka.


Oleh karena itu, aku bertekat kalau aku harus membahagiakan mereka dan tidak akan mengecewakan mereka.


Dan aku mengambil keputusan, aku lah yang akan menemani ayah di RS.


"Sebaiknya ibu pulang dan beristirahat, wajah ibu tampak pucat; lanjut ku.

__ADS_1


Akhirnya ibu mengalah dan pulang untuk beristirahat.


__ADS_2