Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Mimpi Jadi Kenyataan


__ADS_3

Hari ini sama seperti biasanya, aku melakukan rutinitas harian ku.


Mandi, berbenah, sarapan dan berangkat sekolah.


Tapi hari ini, aku berangkat ke sekolah lebih pagi.


Memang aku sengaja berangkat pagi agar tidak bersamaan dengan Atan.


"Loh, tumben duluan?" Tanya ibu bingung.


"Iya bu, Lila takut terlamabat bu."


"Kok tidak nunggu atan?"


"Eee....eee...hari ini Lila piket bu, takut telat." Jawab ku berbohong.


"Lila berangkat yah...bu."


Sebelum berangkat, ku mencium tangan ayah dan ibu ku.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Tok...tok...tok.."


"Siapa?" Tanya ibu.


"Saya tanta, Atan!"


"Creaaaakkkk," ibu membukakan pintu.


"Eeee...Atan! Lilanya barusan berangkat, kalau atan berangkat sekarang pasti ketemu sama Lila."


"Atan pamit dulu ya tanta."


"Hati - hati."


Tit...tit...tit


Bunyi klakson motor terus mengikuti ku.


"Ihhhh...siapa sih, rese amat!" Umpat ku dalam hati.


Tiiiitttt...tiiiiitttt...tiiiiittttt...


Kali ini kkaksonnya lebih panjang, akupun tak sabar ingin melabarak pengendara motor itu.


Ketika ku berbalik, ternya Atan yang mengikuti ku.


Akupun menghentikan langkah ku.


"Atan usil deh, Lila kira cowok usil tadi."


Atanpun terbahak bahak mendengarkan perkataan ku.


"Kenapa Lila jalan duluan? Biasanya Lila di jemput Atan kan?"


"****** aku! Mau jawab apa ni?"


"Maaf ya Tan, tadi Lila sudah nungguin Atan hanya saja Atan lama datangnya sih," dan akupun harus berbohong.


"Bukannya tiap kali Atan jemput Lila di jam jam begini ya?"


"Ya Tuhan, aku harus menjawab apa lagi nih?"


"Lila kan hari ini piket, jadi takut telat."


"Ayo naik, biar lebih cepat sampainya."


Dan akupun menumpang di belakangnya.


"Lain kali kalau ada piket, beri tahu sama Atan. Biar Atan bisa menjemput Lila lebih pagi."


"Iya, maaf!"


"Tadi Atan sempat berpikiran kalau Lila ingin menghindari Atan."


Aku diam sesaat sebelum ku lanjutkan obrolan ku dengan Atan.


"Lila tidak menghindar kok, hanya saja..."


Lagi lagi aku berbohong kepada Atan.


"Hanya apa Lila?"


Atan menghentikan laju motornya dan menoleh ke arah ku.


"Hanya saja Lila masih bingung!"


"Bingung kenapa Lila?"


"Ahhhh, sebentar baru lanjutin ya, Lila hampir telat nih." Rengek ku.


Atan pun menstater meticnya dan melanjutkan perjalanan kami.


Tapi, aku tahu di lubuk hatinya tersimpan banyak pertanyaan yang siap untuk ditanyakan pada ku.


"Dah...Atan, aku duluan ya."


"Sabar Lila..., tunggu lah bersama ku."


Akupun menghentikan langkah ku dan menunggu Atan.


"Ayo!" Ajak Atan.


"Ayo"


Kami melewati tiap ruangan kelas dan akupun tiba di kelas ku.


"Dah Atan, Lila duluan ya," pamit ku.


"Dah...,sampai bertemu waktu jam istirahat.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala ku dan tersenyum.


Ku melihat di wajahnya terukir jelas kebahagiaan setelah mengantar ku ke kelas ku.


"Tumben Atan mengantar mu sampai ke sini? Kayaknya ada aroma aroma yang mencurigakan nih?" Vita mengelilingi ku dan menatap ku penuh curiga.


"Ahhh...kamu ada ada saja." Akupun berlalu dan menuju tempat duduk ku.


Ku letakan tas di meja ku dan ku duduk termenung.


"Kok pagi pagi pikirannya sudah melayang kemana mana? Mikirin apa sih?" Goda vita.


"Tak ada yang ku pikirkan kok!"


"Ayo ngaku, masa sama sahabat sendiri tak mau jujur?"


Sebelum ku menjawab pertanyaan Vita, wali kelas kami ibu Iin memasuki kelas kami.


Percakapan kami pun terhenti.


Kami semua berdiri dan memberi salam kepada ibu Iin.


"Selamat pagi bu!"


"Selamat pagi anak - anak, silakan duduk."


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya ibu Iin.


"Baik bu!" Jawab kami kompak.


"Besok penerimaan raport, diharapkan orang tua bisa menyempatkan diri untuk menghadiri penerimaan raport besok. Karena ada beberapa hal yang perlu ibu bicarakan langsung dengan orang tua kalian."


"Bu...!" Panggil ku sambil mengangkat tinggi tangan ku.


"Bisa diwakili bu?"


"Maaf tidak bisa!" Jawab ibu Iin.


"Tapi ayah dan ibu saya lagi berhalangan bu."


"Hmmm...ok buat Lila ibu memberikan keringanan."


"Terima kasih bu."


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Setelah kami menyelesaikan segala tugas dan nerapikan ruangan jelas untuk persiapan penerimaan raport, pihak sekolah mengijinkan kami pulang duluan.


"Aduh aku rengking berapa ya? Muda - mudahan kali ini rengking ku naik." Kata Vita penuh harap.


"Ammmmiiiinnnn." Jawab ku.


Kami melanjutkan perjalanan kami menuju gerbang sekolah dan langkah kami pun terhenti karena teriakan Atan yang memangil aku dan Vita.


"Lila...Vita..., tunggu dong, kok tergesa - gesa seperti dikejar setan saja."


Aku dan Vita bersamaan menoleh ke arah Atan.


"Mau pulang!" Jawab Vita.


"Kalau aku mau ke rumah sakit."


"Ha rumah sakit?" Vita dan Atan berbarengan bertanya.


"Iya, hari ini jadwal kontrol ayah ku. Jadi, Aku ingin menemani ayah ku."


"Aku ikut ya?" Pinta Atan.


"Aku juga ya?" Vita pun tak mau kalah.


"Biar aku sendiri saja, aku tak mau merepotkan kalian."


"Tidak merepotkan kok, aku melakukannya dengan sukarela." Lanjut Atan.


"Betul...betul...betul," kata Vita menirukan film kartun Upin dan Ipin.


"Sabar ya Lila, aku pinjam Vita sebentar." Kata Atan sambil menarik Vita.


"Pinjam? Emangnya kamu pikir aku barang?" Omel Vita sambil mengikuti langkah Atan.


Aku hanya tersenyum mendengarkan omelan Vita.


"Lila, kok sendiri?" Tanya Aby.


"Sama Vita dan Atan kok."


"Terus, mereka di mana?"


"Aku tak tahu," jawab ku sambil mengangkat bahu ku.


"Kalau begitu kami duluan ya," pamit Aby, Margot dan Neno.


"Tumben mereka tak menunggu ku." Tanya ku dalam hati.


Tak lama kemudian Vita dan Atan muncul entah dari mana.


"Lila...aku duluan ya!" Vita berpamitan pada ku.


"Tadi bilangnya mau ikut bersama ku ke rumah sakit?" Tanya ku bingung dengan sikap Vita yang tiba - tiba berubah.


"Aku lupa kalau aku ada janji sama mami ku. Kami berencana ke salon kecantikan langganan mami." Vita menjelaskan panjang lebar tentang janji bersama maminya.


"Aku yang akan menemani mu Lila," kata Atan.


"Maaf ya Lila!" Vita pun pergi sambil melambaikan tangannya pada ku.


"Ayo!" Panggil Atan yang sudah menunggu ku di atas motor meticnya.


Kamipun menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan aku teringat kalau sebenarnya jadwal kontrol ayah nanti besok.

__ADS_1


Aku mulai panik dan bingung, aku tak tahu bagaimana mengatakannya pada Atan.


Ku mengumpat diri ku sendiri karena bisa seteledor itu.


"Eee...Atan!"


"Iya"


"Maaf ya."


"Untuk apa?"


"Jadwal kontrol ayah ku nanti besok."


"Apa?" Hahahhahha..., Atan tertawa terpingkal - pingkal. Menertawakan keteledoran ku.


"Pulang yuk!" Pinta ku.


"Siap tuan putri."


Entah mengapa tiap kata yang keluar dari mulut Atan selalu membuat hati ku berbunga - bunga.


Akhirnya sampai juga di rumah ku.


"Terima kasih ya!"


"Ohya, sebentar sore kamu sibuk tidak?" Tanya Atan.


"Tidak."


"Ooo... bisa tidak kita jalan - jalan?"


Ku diam sejenak.


"Bisa, tapi jangan pergi terlalu sore dan pulangnya jangan terlalu kemalaman ya!"


"Siap tuan putri. Sampai ketemu jan 03.00 ya!"


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Ku melihat jam di hp ku, jam menujukan pukul 02.30, setengah jam lagi Atan akan menjemput ku.


Aku bergegas untuk menyiapkan diri ku.


Lemari pakayan ku acak - acak karena bingung ingin memakai apa.


Entah mengapa aku ingin Atan melihat ku nampak cantik.


Ku bongkar semua pakayan ku dan akhirnya ku nemutuskan untuk mengenakan celana jins biru ketat, tank top putih dan jeket jins biru. Tak lupa sepatu rajut berwarnah biru putih menampah kesempurnaan penampilan ku.


"Lila...ada Atan nih sayang," Panggil ibu.


Sebelum aku keluar dari kamar ku. Aku tak melupakan poleaan terakhir, lip glos pink dan parfum kesukaan ku.


"Bu... ayah...Lila keluar dulu ya!" Pamit ku.


"Ayo Atan!"


"Om...tanta..., kami berangkat dulu ya."


"Hati - hati ya," kata ayah ku.


"Pulangnya jangan kemalaman ya," kata ibu.


"Baik om...baik tanta." Jawab Atan.


"Mana motor mu?" Tanya ku bingung karena meticnya Atan tak kelihatan sama sekali.


"Itu!" Atan menunjukan mobil sport berwarnah biru.


Aku tersenyum bahagia, entah di segaja atau Atan memang tahu warnah kesukaan ku, biru. Sehingga dia membawa mobil sportnya berwarnah biru. Jadi terkesannya begitu serasi dengan pakian ku.


Atan membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan masuk, dan kami menuju taman yang terletak di pusat kota.


"Lila, bolehkah aku mentup mata mu?" Tanya Atan begitu lembutnya.


Lagi - lagi suara Atan membuat hati dan jantung ku nenjadi tak karuan.


Ku menganguk kepala ku dan atan langsung menutup mata ku menggunakan sapu tangannya.


Atanpun menutun ku, kurang kebih 3 menit lamanya.


Diapun membuka ikatan sapu tangannya dari mata ku.


"Taraaaaa..."



Hamparan bunga di mana - mana, aku begitu bahagia melihatnya.


Dan entah dari mana, Atan memegang sebuket bunga dan memberikannya kepada ku. Persis seperti dalam mimpi ku.


Kini mimpi ku menjadi kenyataan.


"Mau kah kamu menjadi pacar ku?"


"Ya Tuhan apa yang harus ku jawab, ya? Atau tidak?"


To My Readers...


*Tunggu ke lanjutannya ya, apakah Lila menerima cinta Atan?


Dukung terus author ya dengan cara :


Like


Coment


Vote


Rate

__ADS_1


Love you all, dukungan kalian sangat berarti bagi author***


__ADS_2