
"Selamat pagi!" Sapa Dokter.
"Selamat pagi, Dok."
"Pagi Dok!"
"Pagi Bapak, bagaiman kabar Bapak?" Tanya Dokter sambil memeriksa Ayah.
"Lumayan, Dok!"
"Kok, lumayan?" Tanya Dokter sambil tersenyum.
"Kadang - kadang enakan, kadang - kadang sakit."
"Itu karena luka operasi Bapak belum sembuh. Jangan terlalu pikiran yang berat - berat ya Pak, karena itu bisa mengganggu dan memaksa otak Bapak untuk bekerja keras."
"Baik, Dok!"
"Aku permisi dulu ya. Semoga lekas sembuh." pamit Dokter.
"Terima kasih, Dok."
"Terima kasih banyak, Dok." Ucap Ibu sambil mengantar Dokter ke luar kamar Ayah.
Sekitar 10 menit ibu berbicara dengan Dokter, ku melihat wajah ibu begitu serius. Sepertinya ada hal penting yang sedang mereka bicarakan.
"Bu, apa yang Dokter katakan?" Tanya ku.
"Dokter bilang kalau Ayah jangan banyak pikiran. Itu saja!" Jelas ibu.
Ayah nampak segar hari ini, membuat ku semakin bersemangat. Karena kesehatan Ayah adalah pioritas ku saat ini.
Hari berganti hari, kondisi Ayah semakin membaik dan luka bekas operasi sudah mulai mengering. Dokter sudah mengijinkan ayah untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Aku sangat bahagia karena kami akan kembali ke kota kami. Kota dingin yang memiliki berjuta kenangan dan membuat kami rindu akan keluarga, sahabat, dan rumah.
Home Sweet Home.
Aku dan Atan membereskan semua koper dan tas kami yang berada di hotel sedangkan Ibu mengurus administrasi Ayah sebelum kami kembali.
"Semuanya sudah beres," kata ku sambil menarik keluar koper dari dalam kamar hotel.
"Aku juga!" Kata Atan yang juga menarik kopernya keluar dari kamar.
Aku dan Atan beradu pandang dan kami tersenyum.
Kami menarik koper menuju lobi menggunakan lift.
Atan dan aku menyerahkan kunci kamar ke bagian resepsionis untuk check out.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu" Ucap resepsionis.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Atan menghidupkan mobil dan melaju menuju rumah sakit Kasih Ibu.
Atan menyetel musik rap, dan dia berdendang dan menggerakan tubuhnya bak penyanyi rab mengikuti alunan musik.
Ku tersenyum melihat tingkahnya, begitu manis.
Seseorang secool Atan bisa melakukan hal yang lucu dan sekonyol benar - benar fantastik buat ku.
Setibanya di rumah sakit, aku dan Atan langsung menuju kamar Ayah.
Atan mengangkat koper pakaian yang sudah di rapikan Ibu untuk dimasukan ke dalam bagasi mobil.
"Nak Atan, maaf ya! Kami selalu merepotkan mu," Kata Ayah.
"Tidak kok Om, selama ini Atan senang kok bisa membantu Om dan Tanta."
"Terima kasih ya," lanjut Ayah.
Atan membuka pintu mobil dan mempersilakan Ayah untuk masuk.
__ADS_1
Ibu menghampiri Atan menggenggam tangan Atan dengan eratnya.
"Terima kasih ya nak Atan, telah menemani kami di sini."
"Sama - sama Tanta."
Kami melanjutkan perjalanan, Atan mengemudikan mobil dengan santainya.
Nada dering hp ku berbunyi, mengalihkan pandangan ku dari menatap indahnya pantai menuju hp ku.
Vita calling
"Hay Lila, kalian sudah sampai mana ni?"
"Kami baru keluar dari kota nih."
"Ohhh...ok deh, see you!"
"Anak ini main matikan hp seenaknya saja," omel ku.
Atan tersenyum mendengar omelan ku.
"Ayah, nyaman kan," tanya ku sambil memasukan hp dalam tas ku.
"Iya sayang, kalau Atan yang mengemudinya pasti nyaman."
"Iya dong Om, kepuasan Om adalah kebahagian tersendiri buat ku," kata Atan.
Perjalanan kami memakan waktu yang begitu lama, untung saja diselingi dengan canda tawa sehingga tak membuat kami jenuh.
Pukul 11.30 malam, kamipun tiba di kota dingin.
Semakin malam udaranya semakin menusuk sum - sum ku, terasa sangat dingin.
Atan membuka jaketnya dan memberikan pada ku karena melihat ku menggigil kedinginan, sedangkan Ayah dan Ibu begitu terlelap dalam dekapan masing - masing. Begitu terlihat romantis.
Ku melihat ayah dan ibu lewat kaca depan mobil, sesekali ku tersenyum.
"Kamu mau didekap juga ya?" Tanya Atan yang ternyata memperhatikan ku sedari tadi.
"Jika kamu mau, aku bisa kok," goda Atan.
"Apaan sih, aneh - aneh saja kamu," kata ku sambil mencubit lengan Atan.
"Hahahahhaha." Tawa Atan begitu menggelegar, membuat Ayah dan Ibu ku terbangun.
"Ada apa nih? Sepertinya ada yang menarik nih," tanya Ayah.
"Iya nih, kayaknya mereka berdua hebo sendiri nih. Ada apa ya," lanjut ibu.
"Biasa Tanta, anak muda."
"Apaan sih!" Omel Lila.
"Ayah dan Ibu lanjut istirahat ah, takut ganggu," goda Ayah.
"Iiiihhhhh ayah, mulai lagi deh."
Ibu, Ayah dan Atan tertawa terbahak - bahak. Mereka begitu kompak mengusili ku, mereka tambah bahagia melihat wajah ku yang kusut karena kejahilan mereka.
Akhirnya kami tiba di rumah ku.
"Kok banyak mobil ya?"
"Kok banyak mobil ya?" Tanya Atan bingung.
"Iya ya, siapa ya?"
Aku, Atan, Ayah dan Ibu sempat ragu untuk turun. Kami berdiam diri sesaat untuk mengamati keadaan di sekitar kami.
"Om, Tanta, dan Lila, kalian tetap di dalam mobil ya, biar aku yang mengecek ke luar."
Jantung ku berpacu cepat, mungkin juga dengan kedua orang tua ku.
__ADS_1
"Atan hati - hati ya," pinta ku.
Atan mengangguk dan membuka pintu mobil.
"Taraaaa..., kejutan!"
Sahabat - sahabat ku keluar dari persembunyian mereka bersama kue yang dihiasi lilin warna - warni.
Ku mengelus dada ku, merasa begitu legah.
Ada rasa bahagia dan terharu bercampur aduk dalam hati ku.
Sahabat - sahabat ku selalu membuat ku bahagia dengan cara mereka yang begitu unik.
"Kalian, hampir saja. Bisa - bisa Om masuk rumah sakit lagi nih," goda Ayah.
"Maaf Om," kata Neno sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf ya Om, Tanta," ucap Vita.
"Ayo, masuk di sini begitu dingin," ajak Ibu.
"Lilinnya di tiup dulu dong Om," pinta Aby.
Kami semua menghitung yang diberi aba - aba oleh Margot.
"Satu, dua, tiga." Ayah meniup lilin.
Kami semua bersorak gembira.
"Ayo masuk," ajak ku lagi.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Atan dan Neno mengangkat semua barang - barang yang ada dalam bagasi mobil kami.
"Terima kasih ya!" Ucap Ayah.
"Terima kasih untuk segalanya," lanjut Ibu.
"Sama - sama Om, Tanta," jawab sahabat - sahabat ku hampir bersamaan.
Ayah dan ibu berpamitan untuk dulan istirahat.
Ku menuju ke arah Vita, Margot, dan Aby, yang kebetulan duduk berdekatan. Ku merangkul mereka dengan begitu eratnya.
"Terima kasih ya," ucap ku.
"Kok aku dan Atan tidak dipeluk sih," perotes Neno.
"He..., enak saja! Yang boleh dipeluk oleh Vita hanya aku," perotes Atan.
"Ke sini kalian semua," panggil ku.
Kami berenampun berpelukan seperti Teletubies.
Jam menunjukan Pukul 12.00 malam, sahabat - sahabat ku semua berpamitan untuk kembali ke rumah mereka masing - masing.
Akupun menuju ke tempat tidur ku, tempat yang paling ku rindukan dan paling ternyaman buat ku.
Ku membuka pintu kamar dan tanpa aba - aba aku langsung terjun bebas ke atas tempat tidur ku.
Kupun terlelap.
****Hay para Readers ku tersayang.
Maaf ya dua kalau Author baru Up lagi.
Tetap dukung Author ya.
Vote sebanyak - banyaknya.
Boom Like.
__ADS_1
Rate 5.
Sekali lagi terima kasih buat dukungan dan sudah mau baca Novel Author ya**.