Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
10. Hanya pada Dinia


__ADS_3

"Maaf, Nyonya. Mungkin ini kurang sopan. Menurutku, orang yang bicara sembarangan tentang orang lain jauh lebih tidak sopan. Ini Heren, tinggal serumah belum menikah atau hamil di luar nikah sudah jadi pemandangan yang biasa. Tapi kenapa hanya pada Nona Kenan kalian mengeluarkan pernyataan seperti itu?" Taran menegur wanita yang tadi melontarkan kalimat tidak mengenakan.


"Ini mulutku. Hakku ingin bicara apa pun." Wanita itu bersikukuh.


"Kalau begitu hakku untuk bilang kalau mulutmu itu kurang ajar!" balas Taran. Pria itu berjalan pergi meninggalkan wanita tadi sambil menggendong Ditrian.


"Enak aja kamu bilang! Memang kamu siapa berani bicara begitu padaku?" Wanita tadi menunjuk-nunjuknya.


Taran terkejut saat melihat Dinia sudah berdiri di depan. Langkahnya terhenti begitu saja. "Kenapa kamu ikut campur masalahku?"


"Saya tidak suka mereka memperlakukan Tuan Ditrian seperti itu. Memang itu urusan Anda, hanya karena Tuan Ditrian bersama dengan saya, itu jadi urusan saya, Nona." Taran menjawab tanpa merasa ragu sedikitpun.


Dinia menatap putranya. "Kalau Ditrian tidak dekat denganmu, mungkin aku sudah pecat kamu saat ini." Dia melewati Taran dan mendekati wanita yang tadi mencelanya.

__ADS_1


"Anda punya anak seumuran saya?" tanya Dinia.


Wanita tadi tak melawan. "Aku tahu alasan kenapa kalian begini. Pasti dulu Anda fans papa saya yang mimpi ingin menikahinya, tapi tidak kesampaian. Bisa juga anak Anda lelaki dan ingin dinikahkan dengan saya, tapi karena saya punya anak dengan lelaki, jadi musna. Dan ketiga, anak Anda perempuan yang iri dengan kecantikan saya." Dinia tersenyum jijik.


"Jangan asal bicara. Aku hanya tidak suka dengan orang-orang seperti kamu melawan aturan sosial dan dicontoh anak muda lain!" Wanita itu berkaca pinggang.


"Begitu. Lebih baik Anda pindah dari Heren. Karena aturan sosial yang Anda anut, tidak cocok di kota ini." Dinia memanggil stafnya. "Katakan kembali penghinaan tadi dengan lantang. Staf saya akan urus hingga ke pengadilan."


Kini wanita itu merasa terancam. Dia mengalihkan pandangan. "Dengar, Nyonya. Selama mulut Anda tidak bisa dididik untuk berkomentar dengan sopan, lebih baik Anda diam. Karena mulut Anda menunjukkan betapa buruk sopan santun Anda!"


Taran mengikuti wanita itu. Meski masih terlihat sangat muda, Dinia cekatan menyuapi Ditrian, melap mulutnya dan bercanda dengan putra kecilnya itu.


"Ma. amama," ucap Ditrian sambil menunjuk mulut Dinia.

__ADS_1


"Hap!" Dinia berpura-pura seakan mengigit tangan Ditrian. Bayi itu tertawa dengan menggemaskan.


Taran melihat semua itu. "Ayahnya Ditrian harusnya menyesal meninggalkan mereka. Padahal melihatnya saja seindah ini. Nona Dinia wanita yang mengagumkan dan Tuan Ditrian sangat menggemaskan," pikir Taran.


"Jangan melamun, Taran. Kalau kamu kerasukan, aku yang repot." Dinia membuat Taran terkaget. Wanita itu tidak menatap Taran sama sekali.


"Maafkan saya. Saya sedang memikirkan tentang pertemuan Anda besok, Nona. Tempat tersebut kurang ramah anak. Apa Tuan Ditrian tidak akan Anda bawa?" Taran mengingatkan.


"Kamu saja, yang bawa dia. Ajak main, di rumah. Biar Sanchez yang urus segalanya," saran Dinia.


"Tapi tugas saya yang mengatur perlengkapan Anda...."


"Aku lebih percaya kamu menjaga Ditrian daripada pengasuhnya. Kalau aku pergi, dia tidak akan mencari. Kalau kamu yang pergi, dia akan terus memaksa kamu datang padanya. Jadi baik-baik di rumah," tegas Dinia sambil tersenyum.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2