
"Kamu berarti buat aku!" ucapan Taran membuat Dinia dan dirinya sendiri membeku. Entah apa yang ada di pikiran pria itu hingga berani mengatakannya.
"Karena aku atasan kamu?" tegur Dinia dengan suara lemah. Dia mendorong tubuh Taran.
Pria itu masih diam, merenung dengan isi hatinya. "Kenapa kamu lakukan itu pada Betty?"
Dinia berbalik. "Sanchez bicara sama kamu? Kenapa dia bocor sekali?"
"Kamu gak jawab pertanyaan aku."
"Aku gak punya kewajiban buat itu!"
"Kalau gitu, aku juga gak punya kewajiban buat jawab pertanyaan kamu tadi!" Taran berbalik dan pergi dari kantor Dinia.
Melihat punggung pria itu menjauh, Dinia merasa ada sakit mendalam di dirinya. Perempuan itu berpegang ke meja, menyentuh dada yang terasa sesak. Terbeku dia beberapa saat hingga lutut terasa nyeri.
Dinia berbalik, dia masih mencaris sesuatu untuk bersandar. "Aku ini kenapa?" pikir Dinia.
Sebuah bayangan hadir. Wanita itu melihat ke sekitar di mana kemudian masa lalu tercermin.
"Dinia Kenan, kamu cantik banget, ya? Aku Tiana Heidi. Senang berkenalan denganmu." Perempuan itu mengulurkan tangan. Dinia meraihnya meski wajah dia masih terlihat datar.
"Bisa kita berteman."
"Aku gak suka dekat dengan orang lain," balas Dinia lalu membuang muka.
"Aku pikir tidak begitu. Aku lihat kamu orang yang baik," terka Tiana.
Dinia menatap heran. Biasanya setelah dia berkata begitu, orang yang diketusi akan pergi. Wanita ini lain.
"Kamu kenapa enggak makan?" Marta, sahabat Dinia datang membawa nampan berisi makanan.
"Malas. Rasanya belakangan ini aku jalan terasa berat," balas Dinia.
"Kamu sedang galau gara-gara berat badan?" Marta terkekeh.
__ADS_1
Obrolan mereka tidak terganggu akibat kedatangan Tiana yang ikut duduk. "Kamu ngapain?" tanya Marta. Circle Dinia hanya Marta, sulit untuk menerima orang lain dalam grup mereka.
"Aku anak baru. Sulit nyari teman di sini. Tidak apa ya kalau aku sama-sama kalian?"
Tiana perlu waktu lama hingga dia benar bisa bergabung dengan grup Dinia. Ketiganya senantiasa bersama. Bahkan hingga semester akhir kuliah.
Suatu hari hal terberat harus Dinia lalui. Tiana jatuh cinta dengan seorang pria. Dinia masih ingat bagaimana wanita itu begitu bahagia menceritakan tentang pria yang dia sukai.
"Edward begitu luar biasa. Dia keren banget waktu jadi perwakilan basket fakultas kita. Aku yakin kampus kita akan menang," ucap Tinia dengan mata berbinar.
Dinia tentu ikut senang. Apalagi saat Tiana ungkap dia dan Edward sudah menjalin hubungan. Kadang kalau mereka kumpul, Edward ikut bergabung dengan Tiana.
"Sayang, bisa ambilkan aku minuman?" pinta Edward.
Begitu Tiana pergi, Edward banyak mengajak Dinia bicara. Herannya tidak pada Marta. Hal yang semakin hari membuat Dinia curiga dengan pria itu.
Beberapa bulan berlalu. Dinia ditelepon orang tua Tiana. Perempuan itu masuk rumah sakit karena berusaha bunuh diri. Sebagai sahabat, tentu Dinia dan Marta harus selalu menghiburnya.
Tiana akhirnya mau bercerita tentang hubungan dia dan Edward yang berakhir tanpa alasan. Karena kesal, Dinia dan Marta mencari keberadaan Edward. Mereka memarahi pria itu di depan tim basketnya.
Namun, keadaan mental Tiana memburuk. Perempuan itu lagi-lagi mencoba mengakhiri hidup. Untung Dinia dan Marta menemukannya di atap kampus. Saat itu Tiana minta agar Dinia dan Marta tidak mempercayai pria. Dia pun mengaku sudah beberapa kali dinodai Edward.
Amarah Dinia pada Edward semakin tidak tertolong. Wanita itu melabrak Edward di kantin kampus. Namun, Edward malah menyalahkan Dinia. "Aku dekati dia karena cinta padamu. Tapi dia gak guna. Tetap saja aku tidak bisa dapatkan kamu!"
"Dasar gak waras!" umpat Dinia.
Siapa sangka kejadian itu direkam dan disebarluaskan hingga Tiana melihatnya. Perempuan yang ternyata tengah mengandung itu, benar-benar mengakhiri hidup. Dia mengirim video pada Dinia.
"Aku pikir kita teman. Ternyata kamu sejahat itu. Kayak aku, kamu gak akan pernah bahagia sama pria mana pun Dinia!"
Melihat sahabatnya sendiri meregang nyawa, Dinia trauma hingga jatuh pingsan. Dia masuk rumah sakit hingga berminggu-minggu dan mengalami depresi berat. Rasa bersalah yang hingga kini masih menakutinya.
"Apa iya aku gak akan pernah bahagia dengan orang yang aku cinta?" tanya Dinia pada dirinya sendiri.
Malam masih begitu ramai di kota Heren. Dinia membuka mata. Dia kaget melihat Taran duduk di samping sambil memegang tangannya. Dinia merasakan dingin di kening. Taran menjaganya sepanjang malam dan mengompres badannya.
__ADS_1
Dinia bangun. Dia duduk dan memandang Taran. Tak lama pria itu bangun. "Kamu udah baikan?" tanya Taran.
"Iya. Kamu masih marah?" tanya Dinia.
Taran tersenyum. "Jangan pikirkan aku. Kalau ada masalah, aku bisa bantu kamu selesaikan."
"Aku tadi ingin mengakhiri semuanya dengan Kak Kris. Aku bilang bagaimana aku kecewa sama dia. Ternyata semua pria sama saja. Benar kata temanku," ucap Dinia.
"Tidak semua. Ya mungkin banyak. Tapi ada juga yang baik." Taran menunjukkan senyuman yang lebar.
"Kamu juga." Dinia menunjuk Taran.
"Jangan nangis lagi. Kamu orang yang baik. Setiap orang baik mungkin sulit bahagia. Tapi, kebahagiaan jauh lebih terasa indah." Tara mengusap mata Dinia yang basah karena tetesan air mata.
Dinia memeluk Taran. Dia tersedu dipelukan pria itu. "Makasih udah maafin aku."
"Kalau gak maafin, aku gak akan digaji," timpal Taran.
Ditrian bolak-balik di kamarnya. Dia sudah pura-pura tidur dari pukul delapan dan terbangun tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan ibunya. Hendak menengok, pelayan melarang takut Ditrian tertular demam. Dinia memang sangat protektif pada anak itu.
Ditrian mengambil barang paling mahal yang dia punya. Buku yang dihadiahkan kaket buyut juga kunci mobil mainannya. Kedua benda itu dibawa ke kamar Dinia dengan mengendap-endap.
Ditrian kaget, melihat Taran dan Dinia saling berpelukan. "Napa Ian gak ajak! Gitu, ya! Kalang belanina sikulih dali Ian!" omel Ditrian sambil berkacak pinggang.
Dinia dan Taran melepas pelukan. "Siapa yang selingkuh. Kenapa kamu belum tidur anak kecil?" omel Dinia.
Ditrian menghampiri. Kedua benda tadi diberikan pada ibunya. "Mama abil aja. Bikin ceneng hati Mama. Ian gak apa. Asal Mama gak mati," pinta Ditrian.
"Mama gak akan mati karena demam," omel Dinia. Walau dia senang Ditrian sudah perhatian, tetap saja rasanya seperti disumpahi.
"Ya udah baliin cini. Ian masih butuh." Ditrian mengambil kembali barang miliknya.
"Kamu kenapa labil sekali?" tegur Dinia.
"Olang dewasa malam-malam napa peluk-peluk. Anak kicil bobo aja sindili." Ditrian balas menyindir.
__ADS_1