
Berjalan semakin ke atas, Dinia dan Taran melihat pemandangan yang semakin memanjakan mata. Lembah yang hijau dengan pepohonan cemara dan lereng terjal. Sungai terapit dua bukit.
"Pa, ada ail apa ni?" tanya Ditrian penasaran. Taran menghampiri anak itu, berjongkok di sampingnya. Memang ada cekungan tidak terlalu dalam dan diisi air yang sangat jernih.
"Namanya mata air. Diminum langsung bisa. Tapi, kamu masih kecil, bahaya. Soalnya pahlawan di dalam tubuh belum banyak," jelas Taran.
"Capa tuh palawanna? Alonmen?"
"Namanya sistem imun. Dia yang melawan semua kuman yang masuk dalam tubuh kamu. Semakin kamu dewasa kalau menjaga kesehatan, dia juga akan semakin banyak," jelas Taran.
"Ian mau jadi sitem imun. Bial Ian kuat," ungkap Ditrian sambil berlarian di atas tanah gunung yang tertutup rerumputan dengan daun menyirip.
Mencari tempat yang agak landai, Taran akhirnya mengajak keluarga kecil itu untuk duduk. Mereka makan bekal yang Dinia bawa.
"Dulu seingatku kalau ke gunung mendakinya jauh sekali. Aku sampai minta pulang karena kakiku sakit." Dinia mengambil minuman jeli dan membuka tutupnya. Rasa jeruk lumayan asam saat menyentuh lidah.
"Gunung ini sudah habi tergerus oleh Kota Heren. Tanahnya turun. Kalau kamu ke New Green, di sana puncak gunung sangat tinggi hingga butuh beberapa hari tiba di puncak," balas Taran.
Selesai makan, Dinia, Taran dan Ditrian berbaring di atas karpet dari busa tipis. Angin sepoi yang meniup tubuh seakan menjadi pengantar tidur hingga mereka menutup mata dan masuk ke dalam alam mimpi.
Dinia membuka mata. Dia bangkit, melihat ke cermin. Saat itu dia kenakan dress merah muda. Dinia merasa kenal dengan pakaian itu.
Begitu sadar, dia berteriak. Berdiri lalu lari sekuat tenaga. "Taran!" panggil Dinia. Namun, suaranya tidak muncul. Lorong yang dia lewati gelap, hanya ada cahaya merah temaram dari jendela.
Udara tercium seperti kayu basah. Terdengar suara-suara aneh dari sekitar, seperti gaung. Dinia menuruni tangga. Dia terpaksa berhenti saat melihat tubuh seorang wanita di ujung tangga. Kepala wanita itu menunduk, rambutnya terurai hingga menutupi wajah. Dengan langkah juntai, tubuh itu menaiki tangga untuk menyusul Dinia.
"Kamu siapa?" tanya Dinia. Namun, hanya suara rintihan yang di keluarkannya.
Sadar itu bukan manusia normal, Dinia berbalik dan lari menaiki tangga. Dia terengah-engah, berhenti sejenak kemudian berbalik. Tubuh itu masih mengikuti, mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Dinia, kembalikan anakku!" panggilnya membuat Dinia ketakutan setengah mati.
Dinia kembali melarikan diri. "Dinia, aku ini temanmu," panggil suara itu lagi.
Tubuh Dinia gemetar. Dia merasakan lemas hingga kekuatan untuk melarikan diri turun drastis. Kaki terasa berat dan dalam hitungan detik Dinia ambruk.
Wanita itu berusaha bangkit dengan berpegangan pada dinding. Namun, saat menghadap ke sisi kiri, wajah penuh darah muncul di hadapannya. "Kamu tidak akan bahagia!" teriak tubuh itu.
Dinia menutup mata dan berteriak kencang. Saat itu dia merasa tubuh diguncang. " Ini aku, Taran!" panggil suara lelaki.
Mendengar suara Taran, Dinia berani menaikkan kelopak mata. Dia merasa sangat lega melihat suaminya di sana.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Taran.
"Tania, dia datang lagi, Taran! Aku gak mau mati." Dinia melihat Ditrian yang menangis akibat kondisi ibunya. Perempuan itu memeluk Ditrian dengan erat.
Kondisi Dinia membuat dia harus dibawa ke rumah sakit. Psikiater melakukan observasi dan memberinya obat penenang karena hampir sulit bernapas akibat panik.
Taran duduk di luar ruang perawatan sambil menggendong Ditrian. "Papa, Mama baik aja?" tanya Ditrian masih sesenggukan.
"Iya. Mama wanita luar biasa. Ditrian tahu itu. Buktinya Mama besarkan Ditrian sendiri selama ini."
Bohong kalau Taran tidak sedih. Hatinya sakit. Namun, dia harus menahan gejolak itu agar Ditrian tidak semakin panik.
Tidak lama keluarga Dini datang, ayah dan ibunya. "Bagaimana bisa begini, Taran?" tanya Dira.
"Tiba-tiba saja. Padahal sebelumnya dia masih ceria. Tiba-tiba tertidur dan terus berkeriau," jelas Taran.
Bia masuk ke dalam. Dia lihat kondisi anaknya yang tengah tertidur pulas. Diusap kening Dinia. "Bagaimana bisa anakku yang begitu cerah jadi begini? Maafin, Mama. Harusnya kamu tidak menuruni sifat Mama yang terlalu merasa bersalah."
__ADS_1
Di luar Taran dan Dira masih berbincang. "Selalu nama Tania yang dia sebut, Tuan," ungkap Taran.
"Dini memang sangat sayang pada temannya. Apalagi yang terjadi dengan Tania memang memprihatinkan. Lebih dari itu, keluarga Rubey memperumit." Dira mengawang.
"Maksud Anda?" tanya Taran.
"Mereka membayar orang tua Tania untuk menyalahkan Dinia dan melakukan teror. Saat itu aku tidak tahu kalau anakku sering dihubungi hingga dimintai uang. Kami sangat menjaga privasi Dinia. Jika saja Bia tidak curiga dengan keadaan fisik Dinia yang mengalami penurunan berat badan, mungkin seumur hidup kami tidak akan tahu."
Dira duduk di sofa. Dia usap wajah. "Sehebat apa pun pola asuh yang kami terapkan, lingkungan tetap berpengaruh. Namun, sedikitnya itu yang menolong Dinia untuk terus bertahan hidup dengan keadaan mentalnya."
"Aku paham apa yang Anda maksud, Pak. Pola asuh memang tidak menjamin orang lepas dari masalah, tapi itu menjadi salah satu senjata untuk melindungi diri hingga efeknya tidak terlalu jauh." Taran mengusap rambut Ditrian.
Dira tersenyum. Ditatap wajah cucu angkatnya itu. Aku bersyukur ada kamu di sini. Biasanya dia melewati ini sendiri. Dinia itu sangat gengsi, termasuk pada kami orang tuanya. Sifatku," tambah Dira.
Di sisi lain, hasil pemeriksaan DNA Taran akhirnya keluar juga. Seorang staf khusus membawanya ke ruang Chairman.
"Kamu boleh pergi," titah Divan. Meski sudah menerka hasilnya, ketika lembaran itu dibuka, Divan masih terkejut.
"Jadi bukan Green, dia Rubey," ucap Divan sambil tersenyum kecil.
Saat ini, Divan akan membuat keputusan atas Taran. Namun, dia mendapatkan telepon dari kedua orang tuanya tentang kondisi Dinia.
"Adik kamu mulai stabil setelah bicara dengan Taran. Tadinya dia benar sangat ketakutan sampai tidak mau makan. Ini Taran yang suapi," cerita Mama.
Divan tertegun. Kini dia bingung hingga memijiti kening. "Bagus kalau begitu. Bahkan Kris saja gagal melakukan itu." Mata Divan melihat foto keluarganya. Senyum Dinia begitu lebar di sana, adik manis yang selalu penuh canda dan tawa.
Tidak heran kalau Divan begitu benci pada Rubey begitu kasusu Tania terungkap. Dia ingin balas dendam, membuat Pablo merasakan hal yang sama. Namun, adik tiri lelaki itu malah menjadi obat.
Divan menyimpan ponsel di atas meja. "Apa aku katakan saja pada pria itu? Kalau Taran dan Pablo sama saja, ini malah jadi racun bagiku."
__ADS_1