Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
11. Kamu pria yang baik


__ADS_3

Ponsel Taran berbunyi. Dia bangun dengan keadaan terkaget. Nakas bergetar karena gerakan benda itu. Dia usap wajah dan menyingkap selimut.


Begitu mengangkat, telinga Taran seakan ditusuk jarum. "Taran! Di mana kamu?" teriak pemilik suara itu.


"Ini siapa?" tanya Taran.


"Kamu mau dipecat?"


Taran yang tadi masih setengah sadar, mendadak kembali ke dunia nyata. "Nona Dinia, maaf. Ada apa?" Kali ini Taran tidak salah melihat jam dinding. Ini masih pukul empat pagi.


"Ditrian, nangis. Dia mau ketemu kamu!"


Setelah beberapa bulan bekerja dengan Dinia, Taran merasakan tujuan awal hidupnya berubah. Apa yang dia kerjakan tidak sesuai ekspektasi. Inginnya bekerja di kantor atau menjadi staf berjas hitam yang mengikuti bosnya ke mana-mana. Namun, Taran malah terjebak dengan anak berusia satu tahun.


"Baik, Nona. Saya segera ke sana." Taran lekas mandi dan berganti pakaian.


Karena masa lalunya seorang anak terbuang, Taran tidak tega melihat Ditrian menangis. Dia selalu berusaha untuk menghibur bayi itu. Rupanya, Ditrian menjadi terlanjur nyaman pada Taran.

__ADS_1


Akhirnya pria itu tiba di apartemen Dinia. "Cepat, Taran. Tuan Ditrian mengamuk sampai tidak ingin tidur lagi," ungkap seorang pelayan.


Taran berlarian ke kamar Ditrian. Anak itu tengah membelakangi ibunya. "Mama bawa biskuit kelinci. Masa kamu gak mau. Lihat, lucu." Dinia masih bersusah-payah membujuk putranya.


"Tuan Ditrian ingin main apa?"


Mendengar suara Taran, Ditrian berbalik. Dia terlihat meneteskan air mata. Tangannya mengulur minta Taran menggendongnya. Lekas Taran raih anak itu. "Siapa yang menyakitimu?" Ditepuk pelan tubuh Ditrian. Anak itu menunjuk Dinia.


Tentu Dinia kaget luar biasa. "Mama salah apa? Gak ngapa-ngapain, kok."


Ditrian menatap ibunya. Mata anak itu terlihat sayu. "Ada apa? Hal apa yang buat Mama nyakitin kamu, Nak?" tanya Dinia.


Ditrian menunjuk Dinia, meminta ibunya memegang tangan. Dinia raih tangan Ditrian. "Dia tidak ingin Anda pergi meninggalkan dia sendirian."


"Masalahnya di sana banyak barang pameran. Kamu gak akan suka kalau dilarang menyentuh apa pun. Jadi tunggu sebentar saja. Mama hanya akan kerja dan kembali ke sini, ya?" Dinia mencium pipi Ditrian.


Bayi itu tersenyum kecil. "Nona, sepertinya Anda belum bicara dengan Tuan Ditrian tentang hal ini. Jadi dia kecewa dan takut. Dia pikir Anda akan benar meninggalkannya," ungkap Taran.

__ADS_1


Dinia gendong anak itu. "Gak mungkin. Kamu anak Mama satu-satunya. Mama tidak ingin kehilangan kamu, Sayangku."


Akhirnya setelah Dinia gendong dan ayun beberapa kali, Ditrian tertidur lelap. Tara usap kepala anak itu. "Taran, terima kasih banyak sudah mau memahami putraku," ucap Dinia.


"Saya pernah belajar tentang ekspresi orang. Ternyata bisa ampuh juga pada bayi." Taran terkekeh.


"Kenapa kamu tidak menikah dan punya anak saja?" Dinia tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat Taran terkaget.


"Saat ini? Tidak bisa. Saya punya tujuan lain."


Dinia terkekeh. "Kamu jawabnya serius sekali. Aku tidak yakin kamu bisa mendekati wanita. Bicaramu saja lembut kalau dengan anak kecil. Selain itu, pikiranmu mudah terbaca." Dinia dekatkan wajahnya dengan Taran. Jantung pria itu berdegup amat kencang.


"Maksud Anda, apa Nyonya?" Taran mengalihkan pandangan dengan pipi yang memerah.


"Kamu pria yang benar-benar baik," jawab Dinia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2