
"Lagi?" Pablo Rubey menegur bawahannya.
"Saya sudah berusaha sekeras mungkin. Saya juga tidak menyangka DW Fashion akan melakukan cara seekstrem itu. Mereka melakukan produksi dengan keuntungan yang mungkin hampir nol."
Pablo meremas tangannya. "Dia menyelamatkan nama baik. Dengan begini, penilaian orang-orang malah semakin baik. Padahal kita sengaja menghancurkan orderan ini karena pembelinya orang penting semua. Sepertinya kita harus mencari cara lain," tegas Pablo.
"Bos, kalau sampai kita ketahuan bagaimana? Sekarang saja mereka sudah menyindir kita dalam wawancara."
Pablo mengetuk-ngetuk meja. Dia sudah hilang cara. "Kita berhenti sejenak sampai mencari celah. Siapa tahu ada hal yang ternyata kita lewatkan."
Stafnya menyetujui keputusan itu. "Pak, ingat status anak Dinia Kenan? Selama ini aku merasa ada yang janggal."
"Apa itu?"
"Sepertinya, Dinia sengaja menutupi masa lalunya dengan ayah anak itu. Hingga saat ini, orang-orang yang berada di sekitar Dinia saat kejadian, seperti dipaksa tutup mulut."
Pablo tekekeh. "Begitu, ya? Kalau kita temukan ayah kandung anak itu, aku ingin manfaatkan dia untuk menjatuhkan Dinia. Kalau perlu kerjasama. Kita janjikan hak asuh anak itu sebagai syarat pertukaran." Pablo terkekeh, wajahnya begitu licik.
Terdengar suara cekitan kursi saat pria itu bergerak. "Kita kalah dengan Kenan di bidang lain. Satu-satunya pintu yang lemah dari keluarga itu adalah Dinia Kenan."
Bisa dibilang pria ini saking liciknya seperti pengecut, beraninya melawan perempuan. "Kenan punya staf ahli yang tidak kita miliki. Apa perlu kita tawari saja mereka pekerjaan?"
"Staf ahli?" Pablo terlihat heran.
Pegawainya itu menunjukkan foto. "Lelaki ini, dia yang selalu ada mendampingi Dinia Kenan. Pria ini menurut informan kita, selalu memberikan solusi dan ide untuk perempuan itu. Termasuk masalah kali ini. Kalau sampai kita bisa membawa dia di sisi kita, Dinia akan hancur total."
"Siapa dia dan asal-usulnya?" Pablo terlihat tertarik dengan Taran.
"Taran. Hingga saat ini informasi tentangnya disembunyikan keluarga Kenan. Bukan artinya kita tidak bisa tahu. Beberapa informan sudah kita sebar di perusahaan mereka."
Firasat Taran bisa sangat peka karena IQ yang dimilikinya. Ini bukan indra keenam, tapi perhitungan yang akurat.
"Alasan dia melakukan ini, sudah pasti dia tahu siapa saja pemesan. Artinya ada pengkhianat di antara kita. Nona tahu siapa saja orang yang berurusan dengan pesanan?" Taran dan Dinia kini melanjutkan perbincangan di rumah. Tempat itu jauh lebih aman dengan kantor.
Mereka kadang terlihat melakukan hal konyol hanya untuk menipu mata pekerja yang lain.
__ADS_1
"Iya juga, ya?" Dinia baru sadar.
"Tanpa sadar saat melakukan ini, musuh malah memperlihatkan dirinya sendiri. Kita hanya tinggal mencari persembunyian mereka."
"Apa yang akan kita lakukan kalau mereka tertangkap?"
Dinia dan Taran duduk saling berhadapan. Mereka hanya terhalang satu meja kantor. Dinia sudah mengenakan pakaian rumah. Sedang Taran melepas jas dan menyampirkan di sandaran kursi.
"Tentu saja melakukan tuntutan hukum. Aku ingin pastikan mereka membayar keuntungan yang harusnya aku peroleh. Biar kita buat mereka bangkrut sekalian." Dinia sudah terlampau kesal. Dia akan mengingat ini seumur hidup.
"Mama, Ian tayon. Atu ilang, Ma. Mana ya? Cubuni sini." Ditrian datang dan berjongkok.
"Cari dekat kamu tadi main. Tentu tidak ada di sini," saran Dinia. Dia usap rambut putranya itu.
"Sudah waktunya dia tidur." Taran mengingatkan.
Ditrian menguap. "Ian bobo. Antuk. Mama cali," pinta Ditrian karena malas. Dia rebahkan kepala di atas pangkuan Dinia. "Ian keja tulus. Capek."
"Kamu kerja apa? Setiap hari kamu cuman main perasaan." Dinia menekan pipi Ditrian dengan telunjuknya. Dia gendong anak itu dan menepuk-nepuk pelan.
"Gak mungkin," balas Dinia dan Taran bersamaan. Dinia tentu saja tidak mau menikah dan Taran ikut trauma karena sifat wanita itu.
Ditrian melirik Taran. "Gak besti! Talan jahat. Gak ayang Ian!"
"Tuan Muda, rasa tidak harus jadi Papa," jelas Taran.
"Ian mau Papa." Ditrian terlihat sedih.
Namun, Dinia tahu anaknya itu pasti punya motif lain. "Kamu untuk apa punya Papa?"
"Uang taun dua. Mama atu, Papa," jawab Ditrian.
"Pantas saja perasaanku gak enak. Rupanya alesan dia gitu aja." Dinia tekan hidung Ditrian yang mancung dengan gemas.
Taran terkekeh. "Nona, saya pulang dulu. Lebih baik Nona dan Tuan Muda istirahat agar pikiran lebih lega. Ditrian membungkuk.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Taran. Kalau kamu celaka, Ditrian bisa mengamuk setiap hari," pesan Dinia.
"Tentu." Taran meninggalkan ruangan itu. Dinia kini hanya berdua dengan Ditrian yang tengah menunggu terlelap sambil memegang kakinya.
"Kenapa kamu suka banget sama Taran? Dia 'kan ngeselin?" Dinia usap kening Ditrian yang berkeringat.
"Talan gateng. Ia mau sama. Talan kelen." Ditrian menjawab.
"Jadi di mata kamu, dia begitu?" Dinia sedikit paham. Ditrian membutuhkan sosok ayah yang bisa jadi panutannya.
Perlahan, Ditrian tertidur pulas. Dinia gendong anak itu ke tempat tidur. Ditrian terbaring sendiri di box bayinya yang sangat besar. Dia masih bisa berguling di sana.
Dinia masih di sana, memastikan Ditrian tidak terbangun kembali. Tak lama Dinia memperoleh panggilan telepon.
"Ada apa Sanchez?" untuk panggilan khusus dengam staf ahlinya, Dinia perlu menggunakan ponsel biasa yang tidak mudah disadap dan keamanannya tinggi. Tentu ponsel itu tidak bisa terhubung dengan internet. Hanya mengandalkan fasilitas telepon dan berkirim pesan.
"Anak buah Rubey kembali mencari tahu tentang Tuan Ditrian. Mereka terus mendesak mencari informasi. Ada berita di beberapa media tentang Nona dan Tuan."
Dinia lumayan tertegun. Dia membuka ponsel apelnya dan membaca apa yang dimaksud.
[PERGI DENGAN TUBUH MASIH PROPOSIONAL KE LUAR NEGERI, KAPAN DINIA KENAN MELAHIRKAN?]
"Sial! Mereka mulai curiga," batin Dinia. Bahkan di artikel itu, mereka mempertanyakan ayahnya Ditrian. Pasalnya, Dinia tidak dekat dengan lelaki manapun.
[Sempat dekat dengan Kris Sulivan dan Reynold Alfred, Dinia Kenan masih bungkam perihal ayah dari anaknya. Mungkinkah kedua lelaki pewaris perusahaan besar tersebut, ayan kandung dari Ditrian Kenan?]
"Apa-apaan ini? Memang aku tidak bisa menjalin hubungan dengan pria lain apa? Lelaki di dunia ini bukan hanya mereka berdua!" Dinia merasa kesal.
"Itu tidak penting Nona. Kalau sampai Tuan Sulivan dan Tuan Alfred bicara dan berkilah, kita akan terus dicurigai. Kecuali, Anda mengakui jika Tuan Ditrian itu anak angkat."
"Tidak, Sanchez! Sampai kapanpun, Ditrian akan jadi anak kandungku. Aku tidak akan membiarkan anakku dihina atas asal-usulnya. Mau dia sebagai anak angkat atau anak haram."
"Kalau begitu, Anda tidak punya pilihan lain. Anda harus menciptakan pernikahan sah yang asli sebelum Tuan Ditrian lahir," saran Sanchez.
πππ
__ADS_1