
Taran termenung lama. Dia masih syok. Malam itu, dia pikir Dinia hanya akan membicarakan perihal pekerjaan seperti biasa. Namun, tak begitu. Mendadak Dinia melamarnya. Bisa dibilang seperti itu, meski hanya sebatas pernikahan palsu, tetap Dinia meminta Taran menjadi suami.
(baca ulang chapter 1)
Taran menatap ke cermin. "Apa Nona Dinia gak malu mengaku pria sepertiku di depan publik?" batinnya. Taran memang bukan orang yang percaya diri. Meski wajahnya tampan dan bisa menarik perhatian banyak staf, tetap dia merasa jelek.
Efeknya terasa hingga pagi hari. Saat Taran pergi ke kantor, dia melirik ke segala sisi. Dinia sudah pasti tidak akan membahas semua itu di depan banyak orang. Karenanya, Taran putuskan memegang tangan Goul.
"Kamu gila? Orang akan menyangka yang bukan-bukan!" Tentu saja Goul tidak terima. Apalagi di zaman sekarang ini, banyak bertebaran manusia beradu pedang.
"Kali ini saja, aku mohon." Taran terus menarik lengan Goul.
Dinia keluar dari kamarnya. Dia sudah kenakan pakaian dinas berupa blazer dan rok dari kain dril berkonsep monochrome.
"Hari ini kita diminta ke black tower," ungkap Dinia.
"Saya akan siapkan bodyguard khusus." Tentu tak sebarang petugas keamanan bisa masuk ke sana.
Mata Dinia melirik ke arah Taran. Pria itu malah bersembunyi di balik punggung rekannya. "Taran!" panggil Dinia.
"Saya, Nona?" Taran memiringkan kepala hingga terlihat di sisi Dinia.
"Ditrian belum bangun. Kamu tunggui dia. Datang ke Black Tower dan bawa dia kalau sudah membuka mata."
"Baik." Taran harusnya senang Dinia tidak membahas masalah tadi malam. Namun, tidak tahu kenapa dia kesal akibat itu.
Taran izin masuk ke kamar Ditrian. Semalam karena terlambat tidur, anak itu jadi susah dibangunkan pagi. Kini tempat tidurnya berantakan. Bahkan selimut, entah bagaimana ceritanya bisa ada di pintu kamar mandi. Lebih lucu lagi, bantal yang ada di atas sofa.
Tempat tidur kosong tanpa benda apa pun. Spreinya miring dan berlipat. Hanya Ditrian merebah sambil menutup mata dengan kedua tangan merentang.
Taran sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Dia ambil alat tidur Ditrian dan sedikit merapikan.
"Jagoan, mau berpetualang hari ini. Kalau Tuan telat, gajinya dipotong," acam Taran.
Ditrian malah mendorong Taran. Tangannya menggosok hidup sesekali. "Anak yang dewasa, belajar bangun pagi."
__ADS_1
"Ya. Ian mau. Kue bulu beyi," ucapnya lalu melakukan gerakan mengunyah. "Enak. Manis."
"Anda melantur, Tuan Ditrian." Taran usap rambut Ditrian.
"Kamu cukup asuh dia dan menuliskan nama kamu di akter kelahirannya," kalimat Dinia itu masih terngiang.
"Apa harus aku melakukan itu? Aku gak suka kamu dihina. Kamu lucu, tidak berdosa apa pun. Kenapa harus kamu." Taran kecup pipinya. Tanpa sadar, rasa kasih sayang Taran pada Ditrian semakin besar. Hingga dia sudah bersikap layaknya seorang ayah.
Lama menunggu Ditrian, akhirnya anak itu bangun juga. Dia langsung menanyakan keberadaan ibunya. "Ian kiciangan. Buluk, bisa pecat," keluh Ditrian.
"Anda ini, anaknya Bos, Tuan Muda. Jadi tidak mungkin dipecat. Lagipula, untuk apa Anda ingin punya gaji?" tanya Taran penasaran.
"Ian bili kado," jawabnya.
"Kado untuk Mama Dinia?" terka Taran.
"Ya. Talan uga. Ia makasih, Talan main Ian. Talan uang taun, kan?" Ditrian meneruskan pernyataannya.
"Saya ini bukan siapa-siapa. Jadi, Tuan muda tidak perlu memberikan saya apa pun," tolak Taran.
"Tala cayangna Ian." Tangan Ditrian meraih tangan Taran. Wajahnya menatap penuh dengan kasih sayang hingga Taran terharu.
"Tidak apa kalau saya jadi Papanya Tuan Muda?" Taran kembali mengeluarkan pertanyaan.
"Benel? Talan mau? Ian seneng, yeay!" seru Ditrian, memeluk Taran dengan erat.
Anak itu mandi, kemudian Taran ke black tower sesuai dengan titah Dinia. Menara besar milik keluarga Kenan itu, berdiri dengan megah di jantung kota Heren. Taman-taman hijau, kontras dengan bangunan kaku dan modern.
Macet, sudah menjadi hal biasa di sini. Tidak heran kalau Ditrian merasa bosan hingga menyanyi tak karuan. "Pap majik dagon. Lip bade si," senandungnya. Hanya lirik itu yang terus dia nyanyikan.
Taran melanjutkan lagu. Ditrian terkejut. "Napa Talan tahu?"
"Waktu kecil, Papanya Taran yang ajarkan. Waktu itu, Taran ingin jadi naga. Biar bisa terbang dan pergi ke banyak tempat," ungkap Taran.
"Talan naga jadi?" Ditrian terlihat seram. Dia tidak menyangka teman mainnya adalah naga.
__ADS_1
"Bukan. Itu hanya keinginan, tapi gak bisa." Taran mengilah.
"Napa? Talan gak cukula?" terka Ditrian.
"Apa harus sekolah untuk jadi naga?" Taran terkekeh.
Obrolan kedua orang itu berakhir di depan gedung tujuan. Taran tuntun Ditrian ke dalam gedung. Dia menuju resepsionis agar salah satu staf Dinia menjemput mereka ke bawah.
Goul tak lama datang dengan napas ngos-ngosan. "Ada apa?" tanya Taran bingung.
"Kenapa kamu baru dateng? Apa kamu gak tahu rumitnya kejadian di dalam?" Goul berbisik.
"Kejadian apa? Nona Dinia dimarahi karena pernyataan di depan wartawan?" terka Taran.
Lebih baik, kamu naik dengan Tuan muda. Gedung itu memang sangat luas. Bahkan liftnya saja ada enam dan satu khusus keluarga Kenan dan pemilik saham.
Karena bersama Ditrian, Taran bisa ikut mengenakan lift itu. Memang beda dengan lift lain yang pernah Taran naiki. Bahkan interiornya saja dibuat mewah dengan kesan klasik.
Hingga lantai paling atas, Goul tunjukkan Ditrian arah menuju ruang Chairman. Sebelumnya Ditrian pernah ke sini. Hanya tidak ke lantai paling tinggi.
Ditrian melihat staf yang berjaga di sana. "Napa Om Saces ilang?" tanya Ditrian.
"Tidak bisa naik, Tuan. Pasti di larang. Jadi Om Sanchez harus menunggu di lantai lain," ungkap Taran.
"Gak adil! Kacian, Om. Capa suluh gitu." Ditrian protes sambil berkacak pinggang. Wajahnya sungguh lucu dengan celana overall dan kaos putih. Di kepalanya ada topi pantai dengan warna senada dengan kaos.
Pintu ruangan itu terlihat tinggi. Taran menarik napas dan mengembuskan. "Saya ingin titip Tuan Muda." Taran minta staf lain membawa Ditrian masuk, karena dia merasa rendah diri untuk ke sana langsung.
"Taran Calisto Green?" Staf itu malah menanyakan namanya.
"Benar."
"Anda harus masuk ke dalam sekarang juga." Staf itu membukakan pintu. Dia beritahukan akan kehadiran Taran di sana.
Taran masuk dengan malu. Benar-benar ruangan yang sangat besar. Bahkan jendelanya saja setinggi itu. Taran merasa kerdil di dalamnya.
__ADS_1
"Ini dia, ayah dari anakku," ungkap Dinia tiba-tiba sambil menunjuk Taran.
"Kami bertemu di luar negeri. Aku tutupi latar belakangku dan berteman dengannya. Hingga kami diam-diam saling jatuh cinta dan memutuskan tinggal bersama hingga Ditrian lahir," cerita Dinia.