
"Sepertinya ada masalah di lambung. Sebaiknya Nona menjaga jam makan. Dietnya dikurangi dulu. Asam lambung yang naik bisa memancing gejala kepanikan juga, Nona." Dokter memberikan resep vitamin untuk menjaga lambung. Setelah itu beliau pamit.
"Dengar? Kamu kalau makan pilih-pilih terus." Taran duduk di samping Dinia dan mengusap rambut wanita itu.
"Mau gimana lagi? Aku gak suka kalau ada rasa telur di mulut." Dinia bergidik.
"Kamu makan telur rebus kapan hari." Taran merasa ada yang janggal dari ucapan istrinya.
"Bodo ah!" Dinia berbaring sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Ditrian ikut naik ke tempat tidur. Dia membawa mainan. "Mama, Ian cakit labung juga." Ditrian memegang perutnya.
"Kamu gak muntah-muntah," kilah Taran.
"Cekit-cekit cini." Ditrian mengusap perut. Tiba-tiba berbunyi.
"Kamu lapar itu. Minta Miss bawakan makanan." Dinia mengulurkan tangan agar Ditrian lari ke pelukannya. Anak itu berbaring dalam dekapan Dinia.
Taran tekan bel yang terhubung ke ruang pelayan. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pelayan wanita yang tak lama datang.
"Ditrian ambilkan camilan. Dia belum makan siang. Nona Dinia juga," jawab Taran.
"Sesuai permintaan Anda, Tuan." Daftar makanan hari ini sudah disampaikan pada chef apartemen. Pelayan tinggal menyajikan di jam tertentu. Hanya saja waktu makan siang Dinia dan Ditrian agak maju.
Baru beberapa menit, pelayan tadi datang dengan temannya, membawa dua nampan berisi kudapan manis dan minuman hangat.
"Terima kasih, Miss."
Pelayan itu meninggalkan kamar sambil membungkuk. "Bilangnya gak usah mesra gitu!" omel Dinia.
"Biasa aja kok. Kamu yang berlebihan nanggepinnya." Taran berkilah.
"Pukun aja, Ma. Papa nakan genit." Taran gelitiki pinggang Ditrian hingga tertawa puas.
__ADS_1
Setelah makan, Ditrian main mobil seperti biasa. Dia memang banyak gerak. Nanti kalau sudah capek akan minta tidur siang. Sedang Dinia masih rebahan. Taran duduk di sampingnya, melihat laporan di laptop.
"Layar laptop kamu cantik banget, ya?" Dinia menyindir.
"Katanya aku harus bisa ambil alih kerjaan kamu selama sakit." Taran berkilah. Tidak ingin dia disalahkan sendiri.
"Aku dengar dari orangku. Hari ini Pablo kabur ke luar negeri."
"Bagus. Dia selamat."
"Orang yang mau bunuh dia juga lagi ngejar kamu, tapi keburu ditangkap."
"Syukurlah."
Dinia mencebik. "Diajak ngomong sama istri sendiri malah ke mana aja. Pantas kalau Dinia kesal. Dia inginnya kalau sakit diperhatikan dan terus diajak bicara. Sayang Taran malah sibuk mengurusi hal lain.
"Tidur dulu. Kamu baru minum obat, kan? Nanti aku nyusul sama Ditrian." Taran kecup kening Dinia dan merapikan selimutnya.
"Malam ini. Kita tidur sama-sama lagi?" Dinia memainkan jemari.
Gustavo mengepalkan tangan sambil terduduk di depan jendela. "Beraninya keluarga Kenan ikut campur masalahku."
"Tuan, kalau kita macam-macam dengan mereka saat begini, malah kita akan diremukkan hingga berkeping-keping. Orang-orang kita sudah banyak pula yang berkhianat." Sekretarisnya memberikan saran.
"Rasanya dalam hidupku sudah tidak ada yang bisa diandalkan. Benar-benar menyebalkan. Semua karena anak tidak berguna itu. Dia hanya menghabiskan uangku saja. Usir saja ibunya dari rumah. Biar dia rasakan bahagia susahnya hidup di luar sana. Perempuan itu, mendidik anak satu saja tidak bisa."
Gustavo rasanya sudah sangat putus asa menghadapi hidup. Fisiknya sudah tidak sekuat dulu dan harta yang dia punya pun semakin berkurang banyak. Dia tidak bisa lepas tangan atas hutang kerugian yang Pablo buat karena anaknya itu melakukan keputusan atas persetujuan Gustavo dan di bawah namanya.
Pria itu meminta salah satu pelayan mendorong kursi roda ke luar kamar. "Apa kalian tidak bisa menemukan anak hasil hubungan gelapku dengan wanita lainnya?"
Sekretaris menggelengkan kepala. "Anda selalu main aman kecuali dengan model itu, Pak." Tiba-tiba pemberitahuan muncul di ponsel pria itu. Video wawancara Taran muncul di internet.
"Saat aku semakin besar dan semua orang bilang aku bukan anak ayahku, aku tidak pernah bertanya aku ini anak siapa. Karena begitu sayangnya dia padaku. Tiba-tiba seorang pria datang, memberitahukan tentang siapa dirinya. Kupikir bisa bahagia, merasakan kasih sayang dari dua ayah. Ternyata dia menyatakan maksudnya mencariku. Taran menarik napas, terlihat sedih. Kecewa. Bukan soal harta. Ternyata kasih sayang yang tulus tidak selalu didapatkan dari orang tua kandung."
__ADS_1
Pernyataan pria itu menuai reaksi keras dari netizen pada Gustavo. Mereka ingin Gustavo berhenti menganggu Taran, agar pria itu bisa bahagia.
[Dari awal aku dengar Gustavo buat video klarifikasi, aku sadar dia memang bermasalah.]
[Bahkan aku dengar perusahaannya dijual ke investor lain]
[Definisi karma dibayar di dunia nyata]
[Kalau aku jadi Gustavo, lebih baik cukup sayangi anakmu. Untuk apa mengejar harta. Memang kamu bisa bawa mati]
Saking kesalnya, Gustavo sampai melepar tablet PC ke lantai. "Anak tidak tahu diuntung. Bodohnya dia dan Pablo tidak ada bedanya. Aku berikan hidup mewah, dia malah lebih senang jadi buntut anak keluarga Kenan."
"Sabar, Tuan. Sekarang lebih baik Anda pikirkan kesehatan Anda."
Harusnya memang Gustavo merasa mulai tenang dan menikmati masa tuanya dengan uang hasil penjualan perusahaan meski harus dipotong utang. Namun, sebulan setelah dia menandatangani surat pengalihan nama, Gustavo tertegun akan berita yang ramai dibicarakan.
"PERUSAHAAN KENAN RESMI MENGAKUISISI PERUSAHAAN RUBEY"
"Bagaimana bisa?" Gustavo jelas kelu.
"Kami sudah hubungi pihak pembeli saham Anda, Pak. Dia bilang karena tidak kunjung mendapatkan laba, dia jual saham pada Kenan Gruop," ungkap sekretarisnya.
Gustavo tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah menekan perjanjian untuk tidak ikut campur. Gustavo yang saat itu tengah dipasangi selang obat, pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. Dia hanya sendiri dengan staf yang menjada tidak sebanyak dulu. Tanpa ada istri karena sudah dia usir. Dan anak tertuanya pun lari akibat ketakutan.
Taran tengah main bola dengan Ditrian saat Sanchez datang memberitahukan keadaan Gustavo. "Kamu gak akan jenguk dia? Bagaimanapun dia ayah kandung kamu."
"Saat ibuku meninggal pun hanya sendiri."
Sanchez menepuk bahu Taran. "Maafkan dia, Taran. Dengan begitu hidupmu akan bahagia. Aku memang tidak ada di posisi kamu. Akan ada waktu manusia menyesali kehidupannya."
Taran melirik Dinia. Wanita itu tersenyum. "Aku antar kamu." Dengan kebaikan hati, Dinia masih memberikan Gustavo kesempatan melihat anak kandungnya.
Malam itu Taran dan Dinia datang ke ruang rawat Gustavo dengan pengamanan ketat dari keluarga Kenan. Gustavo berbaring dengan alat medis menempel di tubuh. Pria itu sudah tidak bisa bicara.
__ADS_1
"Saya minta maaf, tidak bisa menjadi anak yang baik versi Anda. Tapi, saya ingin bilang terima kasih. Anda sudah bawa saya ke dunia ini."