Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
30. teman kamu


__ADS_3

"Tidak mungkin sekebetulan itu, Nona," komentar Sanchez.


Dinia menyimpan telunjuk di bibir. "Bisa saja Sanchez. Ingat, insting wanita tidak pernah salah," ucap Dinia.


"Meski begitu, kita harus rasional. Meski tempat dan usia merela sama belum tentu. Apalagi mana mungkin Tuan Gustavo tidak mengenali anaknya sendiri."


Dinia mendengkus. "Namanya kepisah dua puluh lima tahun, jangankan anak. Nemu rambut sendiri aja belum tentu sadar," omel Dinia.


"Saya akan cari tahu lebih jauh." Sanchez meninggalkan ruangan.


Kini Dinia duduk di kursinya. Dia mencari keberadaan pulpen. "Kayaknya aku harus berikan posisi buat Taran. Kalau dia gak jelas gini, yang ada orang akan rendahin dia. Apalagi Kris." Sesekali Dinia gunakan ujung pulpen untuk menggaruk rambut. Kalau sedang gabut, Dinia bisa diam berlama-lama dengan posisi itu.


"Kira-kira jabatan apa yang cocok dengan Taran, ya?" pikir Dinia. Lama dia di sana sambil bertumpang kaki, akhirnya Dinia mengambil jalan tengah paling luar biasa, voting.


Kegiatan itu mengundang seluruh elemen di perusahaan fashionnya. Setiap yang mengisi wajib memberikan alasan.


Dinia menjadi orang yang punya akses membaca saran dari karyawan itu.


[Manager. Karena Tuan Taran sangat mengayomi staf. Terutama perempuan]


"Taran! Dasar buaya belang! Awas kamu!" Membacanya malah membuat Dinia kesal hingga ke ulu hati.


[CEO. Tuan Taran sangat mumpuni dalam membuat strategi bisnis.]


"Kalau dia jadi CEO, aku harus mundur. Yang benar saja!" Dinia tetap tidak suka dengan ide ini.


[Brand ambassador DW Fashion. Karena dia tampan memesona]


"Siapa orang yang kirim ini? Tidak sopan!" Dilempar tablet PC ke atas meja.


Taran tentu mendapatkan pesan voting itu. Dia kaget luar biasa. "Dinia ngapain lagi?" Dipijat kening. Entah kenapa istri sah secara hukumnya itu selalu berperilaku ajaib.


Hingga akhirnya meski voting bukan yang terbanyak, Taran tetap dijadikan sebagai manager strategi. Alasannya lucu, karena staf di sana seluruhnya laki-laki. "Memang kenapa kalau ada perempuannya?" pikir Taran.


Pria itu hadir ke perusahaan untuk melakukan serah terima jabatan secara dadakan. "Dinia, bukannya ini terasa seperti komedi. Mana mungkin jabatan bisa dipindahkan hitung hari."


"Ini demi aku, jadi karyawan lain tidak boleh sama sekali menolak. Ingat, membuat Dinia kecewa sama dengan membuat seisi dunia sedih." Dinia tersenyum manis seakan senang dengan keputusannya yang langsung disetujui anggota dewan.

__ADS_1


"Jadi staf kamu aja aku udah senang. Tidak perlu berlebihan," pinta Taran.


"Kamu ini suami aku. Daripada kamu disebut pengangguran banyak acara, lebih baik kamu punya pekerjaan yang jelas. Kamu harus menafkahi anak dan istri ini." Dinia mengedipkan mata jahil.


"Aku pasrahkan padamu saja. Aku yakin sekeras apa pun aku menolak, ujungnya kamu akan lakukan banyak cara agar aku menyerah."


"Pintar." Dinia usap pipi Taran dengan lembut. Taran hanya tersenyum kecil. "Besok kamu mulai kerja. Kamu boleh periksa ruangan sana."


Taran mengangguk. Baru mau keluar, dia dihalangi oleh Ditrian. "Ikut Papa. Ia bocan kali. Main anak-anak cumua cana!"


"Kamu juga masih anak-anak, Ditrian." Taran gendong anak itu.


"Ian dewaca. Udah keja puna uang banak. Ian gak nangis. Anak tadi nangis. Kicil macalah besalin."


Mereka melangkah menjauhi kantor Dinia. "Memang ada masalah apa?"


"Ia tampal," jawab Ditrian dengan polosnya. "Pantas dia nangis. Yang baik sama teman tolong," pinta Taran.


"Ian gak duluan."


"Sebelumnya kenapa?"


"Kamu gak terima karena dia sok jadi bos. Padahal kamu anak bos di Perusahaan ini?"


"Iya. Ambil aja Ian pagi. Gak suka. Beci kale."


Tiba di lantai bawah, karena Taran hendak mengambil delivery, seseorang memanggil namanya. Taran berbalik, kaget melihat wanita itu.


"Kamu lupa sama aku? Ini aku, Betty," ungkap perempuan itu menunjuk dirinya.


Ditrian menggelengkan kepala. "Bos Mama tahu, pelang ental Papa. Mama medelak emosi," saran Ditrian berbisik.


"Mama gak akan peduli," balas Taran.


"Apa kabar kamu? Kerja di sini sekarang?" tanya Taran pada wanita itu.


"Iya. Aku mau ngelamar kerja di sini. Katanya sedang menerima cleaning service. Tapi, anak ini siapa?" tanya Betty heran.

__ADS_1


"Kamu tidak dengar berita di televisi, dia anak kandungku. Ibunya atasan di sini," ungkap Taran.


Terlihat menyesal perempuan itu. Padahal awalnya dia yang menjauh berteman dengan Taran hanya karena punya pacar kaya. Kini mendadak menanyakan kabar.


"Bagaimana bisa kamu bertemu dengan atasan kamu itu? Itu di luar nalar." Betty menunjukkan sikap basa-basinya.


"Kenapa memang? Taran pintar dan tampan. Wajar kalau perempuan ada yang suka dan ngejar dia. Kenapa? Kamu gak terima aku salip?" tegur Dinia tiba-tiba ke lobi.


"Saya minta maaf, Nona. Saya pikir Anda hebat karena bisa menerima Taran apa adanya." Betty memuji.


"Maksud kamu karena dia miskin begitu? Percuma dengan pria kaya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Jangan terlalu pilih-pilih, nanti kamu bisa jadi jomlo sejati." Tanpa sadar Dinia tersakiti ucapannya sendiri.


Tanpa pernikahan dengan Taran, dia mungkin akan tetap jadi single parents di depan orang lain. Mana ada sejarah ditinggal nikah pula.


"Ma, bujuang dapet Talan. Ental cium Papa," pinta Ditrian mengompori.


"Dinia, kamu jangan salah paham begitu sama temanku. Dia dan aku kenal sejak kecil. Tidak ada apa-apa antara kami," jelas Taran.


Dinia menatap perempuan itu tajam dari ujung rambut ke ujung kaki. Tetap saja perasaannya tidak enak. "Kalian sedekat apa?" interogasi sang istri.


"Dulu sekali kami pernah sekelas dari key stage satu. Karena itu kami menghabiskan waktu bersama saat pulang sekolah," jelas Betty.


"Katanya gak pernah dekat perempuan. Terus ini apa?" tegur Dinia.


"Maksudnya sedekat pacar, aku gak punya. Hanya teman biasa." Taran bingung juga kenapa dia harus ikut menjelaskan.


"Masuk ke dalam dan bawa Ditrian. Aku perlukan mencari tahu tentang hidupmu," titah Dinia dengan tubuh yang masih tegap.


"Kenapa harus begitu?" Taran keberatan. Dia juga butuh apa yang disebut dengan privasi.


"Kita bisa bicara sambil menonton acara musik," ajak Dinia ke home teater rumah.


Taran tatap punggung kedua wanita itu yang semakin menjauh. "Dinia apa salah makan? sepertinya trauma semalam bikin otaknya jadi bermasalah. Sejak kapan peduli dengan orang yang aku kenal?" batin Taran.


Ini pertama kalinya Betty melihat tempat seperti ini. Dua duduk di salah satu kursi. "Kamu melamar ke sini karena lowongan, atau Taran? Aku bisa melihat dari matamu."


"Maaf, Nona. Saya sedang butuh pekerjaan ini. Orang tua saya sakit. Karenanya ingin minta tolong pada Taran. Saya tidak sadar kalau ini salah," cerita Betty.

__ADS_1


"New Green ke sini cukup jauh. Kamu berani juga. Sayang, ada hal yang harus aku jaga. Karena itu, kamu ikut stafku nanti. Dia yang akan mengurus kamu." Dinia berucap santai.


"Saya tidak akan disakiti, kan?"


__ADS_2