Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
12. Dinia Dirbia Kenan


__ADS_3

Begitu turun dari mobilnya, Dinia menjadi sosok yang menarik perhatian. Tubuhnya yang tinggi dan langsing tampak indah mengenakan shift dress yang roknya panjang. Warna hitam gaun itu terlihat elegan di bawah cahaya ruang pameran.


"Nona Dinia Kenan, selamat datang." jaxon Oscar, creator dari pameran ini menyambut kedatangan Dinia.


"Terima kasih sudah mengundang saya, Tuan Oscar," ucap Dinia.


"Suatu kehormatan mengadakan acara dan tamu yang hadir dari keluarga Kenan. Saya yang harusnya mengucapkan beribu kata terimakasih," ucap Jaxon.


Pria itu mengantar Dinia menuju ruang acara di mana tamu lain berkumpul. Standing party ini dihadiri banyak pebisnis di bidang fashion.


Dinia berkeliling melihat barang-barang pameran. Jiwa seni yang tinggi dari sang ayah membuat Dinia mudah menilai barang di sini.


"Bukannya ini terlalu berlebihan, hanya karena dia yang buat lantas dijual mahal. Bahkan detailnya kurang rapi. Jelas ada keraguan di sini ini," pikir Dinia.


Niatnya ingin menambah koleksi di rumah. Namun, selain karena tidak ada yang memanjakan mata, Dinia lupa kalau sekarang dia punya anak balita yang suka meraih barang-barang.

__ADS_1


"Dinia?" panggil seseorang. Lekas Dinia berbalik. Itu Wilow Hazel, teman satu kampusnya dulu. "Kamu semakin cantik setelah pulang dari luar negeri," puji wanita itu.


"Kamu juga, Wilow. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabar suamimu?" Dinia balas menyapa.


"Kami berpisah. Dia selingkuh," jawab wanita yang kini jadi janda itu.


"Lelaki. Karena itu aku tidak ingin menikah. Jadi sekarang kamu sendiri?" Dinia memutar bola matanya.


"Tidak. Sekarang aku tinggal dengan pacarku. Kami sama-sama tidak ingin berkomitmen," jawabnya.


"Kalau aku jadi kau, lebih baik fokus dengan bisnisku." Dinia terus saja bersikap dingin tentang cinta.


Dinia meneguk minuman di tangannya. "Aku tidak peduli dengannya. Dia membuang anakku," jawab Dinia. Memang kenyataannya seperti itu. Ayah Ditrian yang membuang anak itu, di tempat sampah.


"Keterlaluan. Pasti sulit mencari lelaki yang bisa menerima anak itu. Sayang juga, kamu dicintai banyak lelaki. Bahkan sekarang, yang sudah punya kekasih saja menatap padamu. Perhatikan!" Wilow diam-diam melirik setiap lelaki yang ada di sana.

__ADS_1


"Biarkan saja. Semakin begitu, aku semakin muak dengan mereka. Mata mereka hanya melihat kecantikan saja."


Wilow menepuk lengan Dinia. "Kris Sulivan dan istrinya datang."


Lelaki yang dulu pernah Dinia cintai, kini datang menuntun istrinya. Mereka terlihat sangat mesra. Dinia mendengkus. "Biarkan saja. Kalau dia datang menyapa, baru aku peduli." Siapa sangka kalimat tadi malah memancing hal itu terjadi.


Kris dan istrinya memang datang menghampiri Dinia. "Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu," sapa lelaki itu.


"Baik. Kakak bagaimana? Kalian serasi sekali," puji Dinia.


"Terimakasih. Kami juga baik. Di mana putramu?" Dari ekspresinya pria itu penasaran dengan Ditrian.


"Semalam ini, tentu dia sudah tidur. Ada yang menjaganya di rumah. Lalu, kapan Kakak memperkenalkan Tuan Sulivan yang baru?" Maksud Dinia menanyakan anak Kris dengan istrinya.


"Kami masih belum merencanakan itu. Pernikahan kami pun belum menginjak usia dua tahun. Kamu beruntung bisa memiliki anak lebih cepat." Kris sepertinya sadar jika Dinia tengah menekannya.

__ADS_1


"Iya, keberuntungan orang berbeda. Kakak bahagia dengan pasangan, dan sebagai ibu, aku bahagia dengan anakku. Bukannya itu terdengar sempurna." Dinia mengaitkan rambut ke belakang telinga. Lehernya yang seksi tampak menarik perhatian lelaki manapun yang melihat.


🍁🍁🍁


__ADS_2