Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
43. Jangan dibuka


__ADS_3

"Ini bigini?" tanya Ditrian. Hanya mengikuti tutorial menggambar dari Taran, keringat sudah mengucur dari keningnya seperti anak sungai. Tangan bergerak perlahan dan agak ditekan. Untung kertas yang Taran sediakan cukup kuat hingga tidak robek, ditambah ada meja lipat menjadi alas.


"Ini cukup bagus. Kamu belajar dengan cepat," puji Taran.


Mereka tengah berada di atas tempat tidur Taran. Ditrian membawa selimut dan bantal, katanya ingin menginap. Ternyata ada hal yang tengah anak itu incar, minta diajari membuat gambar beruang.


"Apa agi, udah ini tulus?" Ditrian tidak sabaran meski setelah gagal, dia berhasil membuat lingkaran yang di samping kirinya agak penyok.


"Mata. Buat di sini agak kecil."


Bagian ini yang paling sulit bagi Ditrian. Sejak tadi pasti hasilnya terlalu besar hingga keluar dari lingkaran kepala. "Mau Papa pegangi tangannya?" tawar Taran.


"Tak pelu, Ian ingin bangga. Bikin cindili ini cumua." Dia mulai berkonsentrasi. Tangan berputar, kali ini berhasil.


"Satu lagi di kanan." Taran masih memberikan tips.


Tangan Ditrian agak bergeser. Di tempat yang tepat, dia mulai mencoba cara baru yang ditemukan sebelumnya. Sudah setengah putaran.


"Taran! Belum tidur?" Dinia muncul membuka pintu kamar dan membuat Ditrian kaget. Anak itu terdiam, melihat salah satu mata berbentuk seperti kue ubi keju, bukan bulat sempurna.


"Tak apa, kita buat yang baru," ajak Taran mengusap kepala putranya.


"Kalian lagi apa?" Dinia masih belum peka dengan apa yang tengah anaknya perjuangkan.


Bibir Ditrian gemetar. Tak lama matanya basah dan keluar tangisan yang keras. "Ian bulusaha, Mama kaget. Ian lusak gabalna. Gak mau agi Ian, susah." Ditrian berdiri dan memeluk ayahnya dengan erat. Dia ingin kabur saja.


Dinia melihat apa yang Ditrian maksud. Dia merasa bersalah dan ikut sedih. "Maaf, Nak. Mama gambarkan mau?"


"Enggak. Bikin dili. Tapi nyelah Ian. Udah laki-laki benelin. Mama gagal," protes Ditrian dengan suara terpenggal-penggal. Jelas sekali dia merasa kecewa dengan apa yang terjadi.


"Sini. Biar Mama gendong." Dinia raih tubuh Ditrian. Dia tepuki punggung anak itu hingga mulai tenang. Tidak lama, Ditrian berhenti menangis. Dia tatap wajah ibunya.


"Kamu duduk sini. Mana pensilnya?" Dinia raih alat tulis di atas meja. "Pegang."


Ditrian menurut saja. Di atas lembar baru dia akan mulai. Dinia pegang tangan Ditrian di atas. Dia ulang beberapa kali cara membuat lingkaran. Ditrian praktekan cara yang sama. Terus Dinia lakukan repetisi hingga Ditrian selesai membuat apa yang dia mau.

__ADS_1


"Keren!" seru Dinia dan Taran memberikan tepukan tangan.


Namun, Ditrian terdiam. "Jelek. Bagus Papa bikin. Gambal Ian Papa." Anak itu membuang gambarnya sendiri dan mengambil selembar kertas pada ayahnya.


"Terus buat apa kamu berusaha kalau diri kamu sendiri gak menghargai, Donto!" omel Dinia kesal. Dia sampai mengacak rambut saking gemasnya.


"Ian iseng aja."


Dinia tertawa miris. "Iseng, tapi malah nangis."


Di ujung kegiatan, Ditrian menguap. "Waktunya tidur." Taran turunkan meja dan peralatan lain ke sisi tempat tidur. Dia baringkan Ditrian dan menyelimuti anak itu. Dinia ikut terbaring. Posisi Ditrian ada di tengah mereka.


"Ian melasa tilindungi." Ditrian berucap lega.


Perlahan karena usapan lembut ibunya di kening, Ditrian tertidur juga. Taran menatap anak itu dengan dalam. Hanya sesekali pria itu berkedip.


"Dari tadi siang, aku lihat kamu ngelamun terus. Ada masalah apa, Pa?" tanya Dinia penasaran.


Taran tatap wajah sang istri. "Kalau aku anak orang jahat, kamu bakalan benci aku gak?" tanya Taran membuat perandaian.


"Enggak. Itu perbuatan orang tua kamu. Lagian orang yang asuh kamu baik. Didikan itu tergantung lingkungan juga setelah dewasa. Contohnya aku. Waktu kecil aku ini penurut, anak yang sangat manis. Begitu sekolah dan bertemu teman bar-bar, aku ikutan. Belum lagi Kakakku Dio, dia paling bisa ajak aku berbuat nakal. Kayaknya dari anak Papa dan Mama hanya Kak Divan yang baik." Dinia mengenang masa kecilnya.


"Ayolah, kenapa tanya hal kayak gitu. Lagian bikin jahat gimana? Aku baik-baik aja. Maksudnya mereka ingin aku sama kamu pisah gitu?" Dinia mencoba memahami apa yang Taran katakan.


"Itu gak penting. Tidur saja. Kamu pasti lelah." Taran mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku penasaran." Dinia menyipitkan mata.


"Aku ngantuk. Kalau gitu, bergadang aja sendiri." Taran menutup mata lebih dulu.


Dinia guncang tubuh suaminya. "Kamu harus jelasin sama aku, maksudnya apa itu?" omel perempuan itu.


Siapa sangka suaranya membuat Ditrian terbangun. Anak bangkit. "Napa bisilik mulu. Ia butuh pelipasi. Gak bobo nyenyak, Ian gagak dewasa," protesnya, menarik selimut dan membawa bantal.


"Kamu ke mana?" tanya Taran melihat Ditrian turun.

__ADS_1


Tubuh Ditrian berbalik. "Tidul cidili enak lebih." Dia mendengkus dan berjalan pergi ke luar kamar.


Dinia cekikikan. "Dia tahu aja apa yang Mamanya mau," ucapnya.


"Dia kesel sama kamu! Dasar aneh!" Taran cubit pipi Dinia. Perempuan itu bangun dan turun dari tempat tidur. "Kamu juga mau kembali ke kamar?"


Dinia menggelengkan kepala. Dia keluar menyusul Ditrian. Tak lama Dinia kembali menutup dan mengunci pintu. "Ditrian udah tidur," ucapnya.


"Sini." Taran menepuk di samping tempat tidurnya. Dinia naik dan merangkak. Taran tarik lengan sang istri hingga masuk dalam pelukan. Seketika setelah saling tatap, bibir mereka saling bertautan hingga beberapa kali.


"Lepasin?" pinta Taran.


"Apa?" Dinia menaikan alisnya hingga kening berkerut.


"Pakaianmu."


Kini senyum Dinia terlihat jahil. Dia naik ke atas pangkuan Taran. Dia tarik kerah pria itu hingga kembali diraihnya bibir Taran. "Buka sendiri," bisik Dinia ke telinga Taran.


Pagi hari, lagi-lagi hal serupa terjadi. Kali ini Ditrian mencari ke kamar Dinia lebih dulu. Karena kosong, dia pergi ke kamar Taran yang terkunci.


"Tuan muda ingin diantar Sanchez ke kantor lagi?" tawar pelayan.


"Ian makan cini. Main lumah dulu. Papa cama kacian lapat, belat. Ian gak paham, miss apalagi," jawab anak itu sekenanya.


"Jadi mau langsung makan?"


Ditrian mengangkat tangan dan menggerakkannya. "Miss, Ian ganteng dulu. Makan balu."


"Ya sudah, kalau begitu, Miss siapkan untuk Tuan mandi, ya?"


Ditrian berjalan ke kamar, menyeret boneka dinosaurus. Anak itu main perosotan sambil menunggu air di kamar mandi penuh dan diberikan banyak busa.


"Tuan, sudah siap," ajak Miss.


Ditrian masuk ke kamar mandi. "Miss tugu lual. Ian butuh waktu cidili. Banak pikil-pikil," pinta Ditrian.

__ADS_1


"Tuan hati-hati, ya?" Miss memilih menunggu di kamar.


Ditrian masuk ke dalam bak. Dia ajak bebek dan dino karet sebagai teman. "Blo, hali ini kejaan banak. Ian mandi gak lama, ya?"


__ADS_2