Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
chapter 54


__ADS_3

"Ini rumah kamu?" tanya Dinia dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Iya."


"Dari bayi?" Perempuan itu melihat-lihat sekitar. Dia hanya duduk di sofa ruang tengah.


"Aku tidur di sana." Taran menunjuk ruang di samping televisi.


"Kenapa tidak di kamar?"


Taran hanya tersenyum tipis. "Tidak ada tempat lagi. Memang kenapa? Ada kasur yang bisa aku pindahkan ke manapun aku suka." Taran malah tersenyum seakan itu kenangan indah yang ingin dia ulang.


"Dingin Taran." Tangan Dinia memegang suaminya.


"Ian mau bobo cana juga," pinta Ditrian. Dinia melirik tajam putranya. "Apa salah?"


"Iyalah. Kalian bisa demam dan masuk angin. Sekarang sudah ada kamar. Tidur seperti orang normal," omel Dinia.


Ayah dan anak itu menunduk lesu. Mereka tidak berani kalau Dinia sudah melotot. Pintu rumah terbuka, ayahnya Taran masuk dan tersenyum ke arah mereka. Kursi roda didorong kakak angkat.


"Papa." Taran menyalami pria itu.


"Rasanya senang bisa kembali ke kampung halaman." Ayah Taran baru selesai berkeliling desa untuk menyapa tetangga.


"Sudah pasti. Aku pun sama." Taran berjongkok dan memegang tangan ayahnya. Pria itu berdeham. "Aku minta maaf, karena pernikahanku, Papa harus sembunyi."


"Tak apa. Bahkan di sana aku tidak kekurangan apapun. Beda dengan di sini. Hanya saja sudah tua inginnya punya teman berbagi. Apalagi kamu sekarang sudah punya istri." Mata ayahnya Taran melirik Dinia.


Lekas Dinia berdiri, menghampiri pria itu dan berjongkok di samping Taran. "Papa, aku ini Dinia, istrinya Taran. Salam kenal. Maaf baru bertemu dengan Papa hari ini."


Ayahnya Taran tersenyum. Lain dengan kakaknya yang justru membuang muka karena kesal. "Tentu aku kenal Nona, Nak. Nona besar dari keluarga sangat kayak di Livetown. Aku merasa ini mimpi melihat Nona di sini, apalagi menjadi istri dari anak nakal ini."


"Papa tidak perlu berkata demikian. Aku ini juga anaknya Papa. Kalau ada apa-apa bilang saja." Meski Dinia menunjukkan wajah ramah, tetap saja ayahnya Taran merasa segan. Mereka berbeda seperti langit dan bumi.


Duduk di sofa, keluarga itu mengalami jeda panjang. Ayahnya Taran bingung harus menanyakan apa pada menantunya. Bukannya hanya karena Dinia menantu pertama, pria itu pun takut dengan keluarga Kenan yang terkenal punya kekuasaan hingga pejabat saja tidak berani menyenggol mereka.


"Kalau ada yang mau Papa tanyakan, tak apa." Dinia berusaha untuk terus menunjukkan sikap ramahnya. Namun, tetap saja ayah dan kakaknya Taran hanya menggelengkan kepala.


"Begini, Nona. Soal pendidikan dan segalanya kami sudah tahu."


"Papa memang tidak ingin tahu tentang perasaanku pada Taran? Sifatku seperti apa?" Dinia memberikan opsi.

__ADS_1


"Kalau itu, sudah pasti Anda mencintai dia Nona. Mana mungkin Anda mau dengan dia kalau bukan ada perasaan. Sikap seorang Nona Kenan sudah pasti baik dan terhormat." Kakaknya Taran yang menjawab.


"Anda bisa saja, Kak. Aku senang sekali dipuji begitu. Aku akan berikan Kakak hadiah nanti."


Ditrian dan Taran saling sikut. "Mama cantik kali," puji Ditrian.


"Makasih, Sayang." Dinia mengusap kepala Ditrian. Anak itu menantikan penawaran kado, tidak ada.


"Napa Ian bedain, Pa?" tanya Ditrian bingung.


Tak lama mereka di sana, Dinia dan Taran harus pamit. "Kapan ke sini lagi?" tanya Ayahnya sambil memegang tangan Taran.


"Segera. Aku harus kerja di sana. Papa jaga diri baik-baik. Aku tidak akan melupakan Papa." Taran peluk ayahnya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Perjalanan dari New Green ke Heren memang memakan waktu yang lama. Ditrian tertidur sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di rumah.


"Lebih baik kamu tidur. Kayaknya kamu lelah," saran Taran sambil menggendong Ditrian yang masih belum bangun juga. Malah anak itu sesekali melantur menyebut kata es krim dan dino.


"Kebalik mungkin, Sayang. Kamu yang nyetir seharian." Dinia bergelayut di lengan suaminya.


"Aku lapar." Taran nyengir.


"Aku juga."


"Miss, siapkan kami makan," pinta Dinia saat masuk ke dalam rumah. Seluruh pelayan menyambut mereka di depan pintu.


"Baik, Nona. Sesuai permintaan Anda."


Taran bawa Ditrian ke kamarnya. Dia baringkan anak itu di atas tempat tidur. Tiba-tiba Ditrian duduk, tapi matanya masih terbuka. "Papa, gak tawal Ian?"


"Tawarin apa?" Taran agak terkejut juga.


"Makan."


"Kamu lapar juga?"


"Iya. Pelut Ian mau. Ian enggak."


"Bangun dulu." Taran mengajak anaknya untuk membuka mata.


Ditrian malah kembali berbaring. "Makan ada, bangun."

__ADS_1


"Kamu ini, malas saja." Taran peluk Ditrian dan mengecup keningnya. Pria itu pergi ke ruang makan.


Esok hari Taran dan Dinia pergi ke kantor seperti biasa. Turun dari mobil, mereka langsung didatangi banyak wartawan. Taran melindungi Ditrian dalam gendongan.


"Nona Dinia, apa benar Anda sengaja mengakuisisi perusahaan Rubey demi suami Anda?"


"Saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Rubey," timpal Taran.


"Seluruh dunia sudah tahu kalau Anda anak kandung Gustavo Rubey, Tuan. Bagaimana pendapat Anda atas hal ini?"


"Anak kandung bukan artinya ada hubungan. Tuan Gustavo mengakui suamiku setelah dia sedewasa ini. Suami saya menolak segala bentuk pemberian Tuan Rubey. Jadi jangan selalu disambungkan!" Dinia memberikan pernyataan tegas.


"Lagipula saya anak di luar nikah, Nona. Apa secara hukum saya ini bisa diakui?" Taran membalikkan pertanyaan. Wartawan itu tidak bisa menjawab. Dinia dan Taran langsung masuk ke dalam kantor karena penjaga menahan wartawan agar tidak masuk ke dalam gedung.


Pasangan itu menunggu di depan lift. Taran sempat kembali melirik ke arah luar. Dia melihat seorang pria itu berdiri. Di antara wartawan, hanya dia yang mengenakan pakaian tertutup dan tidak membawa kamera apa pun. Taran menaikkan sebelah alisnya.


"Siapa dia?" tanya Taran heran.


Pintu lift terbuka, membuat pikiran Taran terpecah. "Pyuh! Ian gak napas." Ditrian mengeluh sambil mengusap kening.


"Kalau enggak napas, kamu bisa mati, Anakku." Dinia menekan lembut pipi Ditrian.


"Udah talik-talik. Bau keingetnya." Ditrian menutup hidung.


"Kamu mungkin belum mandi?" Taran menerka.


"Papa tuduh palsu. Ian mandi tadi. Liat gateng ini."


Sampai di lantai atas, pasangan itu terpisah. Seperti biasa, Ditrian main dengan pengasuhnya. Anak itu menumpuk lego. Beberapa menara dibariskan.


"Miss, tahu apa ini?"


"Apa, Tuan?" Pengasuhnya pura-pura penasaran.


"Ini ombak."


"Kenapa ombaknya seperti gedung?"


"Bukan. Gudung ada jedela, pitu. Ini gak puna. Ini lautna." Ditrian memberikan kertas HVS di atas lantai.


"Bagus sekali. Imajinasi Anda benar-benar bagus."

__ADS_1


"Iya. Ian pintel, ya? Kasih bintang miss. Sini." Ditrian minta kaosnya digambari. Tentu pengasuh menolak karena tahu itu pakaian bermerk.


__ADS_2