
Dinia terlihat heran mendengar ide Taran. "Aku bisa mati. Kamu mau lenyapin aku, ya?" omel Dinia.
"Tidak akan. Sejauh ini saya melakukannya masih aman," timpal Taran. Pria itu membuka jas kemudian perlahan turun ke bibir pantai. Dia duduk berjongkok menghadap ke belakang. "Ayo!" ajak Taran.
"Gak mau. Kalau tiba-tiba ombaknya besar?" Dinia masih memperhitungkan keadaan sekitar.
"Paling tenggelam. Selama bisa renang balik lagi."
"Gak segampang itu, Taran!" Dinia menunjukkan tinju.
"Ya sudah. Biar aku yang melakukannya. Anak-anak jangan meniru ini di rumah, ya?"
"Aku bukan bocah!" Dinia berkacak pinggang.
Taran memeluk lutut dengan bokong yang mendarat di atas pasir. Ombak pertama tubuhnya masih aman. Hanya terseret ke depan beberapa senti. Hingga ombak keempat, tubuh Taran tergulung. Dia kembali terbawa maju lalu tertarik mundur.
Pria itu mencoba bangun meski merasakan oleng beberapa saat, kemudian tertawa dengan puasnya. "Anda yakin tidak mau ikutan?"
Kini Dinia merasa itu ide yang menyenangkan. "Kalau aku kebawa, kamu tarik aku, ya?" pinta Dinia.
"Tentu. Kalau Anda celaka, saya jadi duda jejaka. Itu tidak lucu."
Dengan posisi tadi, Taran bersiap. Dinia ada di sampingnya. Perempuan itu masih berdebar. Ombak agak besar datang, dia didorong hingga terjungkal ke depan. Dengan posisi menelungkup, tertarik ke arah laut.
Begitu ombak mulai landai, mereka bangun kemudian tertawa lepas. "Gimana?"
"Lagi!" seru Dinia. Menurutnya ini lebih menyenangkan dibandingkan main perosotan air di waterpark. Delapan kali melakukan hal yang sama, mereka bosan juga.
Pakaian Dinia dan Taran sama-sama basah. "Gimana pulangnya ini?" tanya Dinia.
"Ada toko pakaian di sana." Taran menuntun Dinia menuju tenda yang menjual kaos khas pantai.
"Aku pakai yang ginian? Enggak, aku bisa jelek!"
"Anda memilih mobil mahal itu basah?" Taran mencoba memengaruhi Dinia.
"Oke! Ayo beli."
Dengan harga murah, mereka mendapatkan pakaian baru. Berganti di toilet umum, Dinia berputar di depan Taran setelah selesai berpakaian. "Gimana? Aku kaget, ternyata masih secantik ini meski pakai baju murah." Dia terlihat bangga.
"Begini lebih cantik, apa adanya," balas Taran.
Dinia mengangguk. "Kalau kamu yang bilang, aku percaya."
Taran dan Dinia kini bisa bebas pulang. Pakaian yang basah dimasukkan dalam plastik besar kemudian ditempatkan di bagasi.
__ADS_1
Dinia melambai ke arah pantai. Meski dari apartemennya terlihat hamparan pasir, tapi dia jarang main langsung ke sana karena kesibukan.
Tiba di jalan masuk kota, Dinia kaget melihat kemacetan panjang. Taran menengok ke arah luar. Ada polisi yang berjaga. "Ada apa, Pak?" tanya Taran.
"Terjadi teror di kota. Kami harus menutup akses masuk. Jadi, Anda dimohon untuk putar balik atau menunggu hingga pembukaan blokade.
"Kira-kira berapa jam?" Taran langsung panik.
"Kami tidak bisa prediksi, Tuan. Mungkin saja semalaman atau hingga malam esok."
Taran menatap Dinia. "Anda akan menunggu di sini?"
Dinia menggelengkan kepala. "Kita cari hotel di luar Heren saja," saran perempuan itu.
Taran anggukkan kepala. Dia putar stir ke tempat awal. Kebetulan di dekat pantai ada hotel bintang lima. "Maaf, Nona. Kejadian ini di luar prediksi saya."
"Dinia. Jangan sampai keceplosan seperti tadi. Hampir saja kita ketahuan Kris. Kamu sendiri yang bilang, kan? Tidak perlu dimasalahkan." Dinia mengangkat tangan. Mobil menepi di depan hotel. Taran meminta petugas valet memarkirkan mobilnya.
"Saya akan pesan dua kamar," izin Taran.
"Satu. Mereka semua mengenal kita. Jangan ambil resiko." Dinia menolak.
"Tapi, bukannya itu terasa tidak nyaman?"
Taran mengerti maksud Dinia. Sayangnya, kamar itu penuh. "Jadi semua kamar VIP dan VVIP sudah terisi?"
"Benar, Tuan."
Taran melaporkan kejadian itu pada nona istrinya. Dinia memijiti kening. Dia sudah sangat lelah dan jam menunjukkan pukul sebelas malam.
"Yang ada aja! Aku gak mau nyari ke tempat lain lagi!" Terpaksa Dinia harus menurunkan ego.
Kini pasangan yang secara negara sudah sah menikah itu berada di kamar yang hanya memiliki satu tempat tidur dan tanpa sofa.
"Saya bisa tidur di lantai." Taran menawarkan diri. Hanya itu satu-satunya solusi.
"Apa kamu gak akan sakit? Kalau kamu kenapa-kenapa, aku harus tanggung jawab."
Taran terkekeh. Aku sudah tidur di lantai sejak kecil. Taran mengeluarkan selimut dari lemari dan menggelarnya di lantai. Pria itu itu berbaring di sana.
Dinia masih merasa bersalah. Meski naik ke atas tempat tidur, dia tetap menengok Taran beberapa kali.
"Aku telepon Ditrian dulu. Takut dia menungguku dan tidak bisa tidur." Dinia hubungi pengasuh Ditrian. Namun, dia harus kecewa.
"Gak apa. Goul biang, Papa duaan Mama ada adek," balas anak itu.
__ADS_1
"Bilang sama Goul, aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman berat padanya!" omel Dinia.
"Malem, Ma. Ian bobo. Gak dengel, biang apa ya?" Ditrian mematikan panggilan.
"Anak itu!" Dinia mengepalkan tinju.
Karena kesal dengan jawaban Ditrian, Dinia lalu menyimpan ponsel dan berbaring santai.
"Taran, kenapa kamu tidak tidur di tempat tidur saja?" tanya Dinia.
"Anda di sana. Mana berani say tidur di samping Anda," jawab Taran.
"Bukan itu. Aku tanya waktu kamu kecil. Bukannya itu jahat?"
"Saya masih hidup meski dibaringkan di atas rerumputan dengan angin sekitar yang besar," jawab Taran dengan santainya.
"Apa kamu gak kepikiran buat balas dendam? Kamu malah sekarang bikin hidup mereka enak?" Dinia menatap langit-langit.
"Bukan kewajiban Papa menafkahiku, Dinia."
Dinia tertegun. "Dia beda dengan laki-laki kebanyakan," pikir Dinia.
"Yang penting perutku tidak kosong dan tidak kehujanan." Taran menambahi.
"Masih hidup?" tanya Gustavo pada orang yang dia percayai.
"Kemungkinan seperti itu. Wanita itu pergi tanpa bayinya. Dia hanya mengelabui orang-orang Nyonya," ungkap staf kepercayaan Gustavo.
"Jadi di mana anakku?" Gustavo sudah sangat penasaran. Apalagi sejak mengetahui kalau bayi itu laki-laki.
"Saya akan terus mengumpulkan informasi, Tuan."
Tentu saja Pablo pun dengar. Dia menggebrak meja dengan kesal. "Sialan! Bagaimana bisa? Cari dia sampai ketemu!" titah Pablo.
"Tuan, masalahnya dengan siapa bayi itu masih belum ada yang tahu." Staf tentu tidak bisa langsung menyanggupi.
"Dengar! Kalau aku hancur, kamu juga. Sekali setia, harus begitu. Aku tidak segan-segan membuat hidupmu sengsara kalau sampai ini gagal!" Pablo menunggu stafnya.
"Baik."
Stafnya pergi dan tinggal Pablo di sana duduk menatap ke luar jendela. "Aku ini anak sahnya! Di mana kamu berada, tidak akan aku lepaskan. Kamu sangat berbahaya bagiku!" Pablo bersedekap.
Telepon berdering. Pablo angkat panggilan itu. "Tuan Pablo, Tuan Sulivan akan menandatangani kontrak dengan Kenan Grup."
"Ini tanda bahaya!"
__ADS_1