Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
17. Apa dia anak angkat?


__ADS_3

"Nona sedang memikirkan apa?" Taran heran melihat Dinia termenung sejak tadi. Wajahnya begitu pucat. Entah hal apa yang tengah membebani wanita itu.


"Tak apa." Sama sekali Dinia tidak berbalik pada sumber suara. Taran masih duduk di kursi depan dengan Sanchez.


"Kalau Anda kurang enak badan, saya bisa handle beberapa pekerjaan. Jangan menyulitkan diri sendiri, Nona."


Dinia melirik pria itu. "Taran, menurut kamu, apa menikah itu sesuatu yang harus dilakukan."


"Itu hak masing-masing orang. Lagipula kebahagiaan dan kesedihan bisa datang dari mana saja." Taran mengeluarkan kalimat yang bijak.


"Kamu mau menikah?" Dinia kemudian menunjukkan masalah itu ke sisi Taran.


"Tidak. Wanita itu makhluk yang mengerikan. Bayangkan kalau seumur hidup kita harus memahami mereka. Tapi, mereka saja tidak mau paham. Kaos kaki hilang sebelah marah. Bahkan bercanda saja kena semprot. Lebih baik saya menghindari makhluk seperti itu."


Dinia tendang bagian belakang jok yang Taran naiki. "Aku ini perempuan! Masih punya nyali, kamu ngomong itu depanku?" Tentu saja Dinia langsung mengeluarkan taring.


"Ampun, Nona. Maksud saya bukan Anda, tapi perempuan lain."


"Istriku tidak begitu." Sanchez tidak sependapat.


"Sanchez, apa yang buat kamu ingin bertahan dengan istrimu?" Dinia penasaran. Dia pikir lelaki bisa berubah rasa dengan mudah.


"Dia sempurna. Bukan karena dia tidak pernah salah, tapi saya yang menilai begitu. Taran benar, istri saya juga sering mengomel, tapi saya selalu melihat sisi lain. Ada hal baik di balik itu. Misal kalau kaos kaki saya hilang satu, mungkin saja itu masuk ke sela tak terlihat di rumah kemudian jadi sarang penyakit," jelas Sanchez.


"Harusnya laki-laki begitu!" Dinia menepuk bahu Taran.


"Saya ingin tanya Nona. Kalau perempuan boleh lihat lelaki ganteng, kenapa laki-laki gak boleh?"


Dinia langsung terbatuk. Dia tentu merasa mendapatkan serangan paling berat. "Karena laki-laki kalau udah mandang perempuan lain paling cantik, ujungnya selingkuh. Perempuan belum tentu."


"Memang selingkuh itu apa?" Malah Taran kembali bertanya.


"Beralih ke lain hati."


"Kalau lelaki lain tampan di mata perempuan pasangannya, sama saja beralih hati, kan?" Taran langsung skakmat Dinia.

__ADS_1


"Taran, kamu itu lahir dari siapa?" Kalimat pamungkas Dinia langsung keluar.


"Tapi saya dibuang. Jadi itu tidak mempan untuk saya."


Tiba-tiba Dinia mencubit lengannya. "Minta maaf gak? Aku bisa potong gaji kamu!" ancam Dinia.


"Iya, aku gak ulangi lagi. Maaf." Taran usap tangannya yang sakit.


"Mama, Talan cayang Ian. Gak gitu! Ian kabul." Akhirnya Ditrian harus turun tangan. Dia tak ingin Taran pergi hanya karena sikap galak Dinia.


"Tapi Taran nakal sama Mama," keluh Dinia.


"Mama, cantik maafin. Mama bilang Ian, anak baik, mau maaf. Malah buluk. Ian selem malah. Mama cemin cana. Milip montel gunung. Api cini-cini." Ian menunjuk wajah ibunya.


"Iya. Kalau bukan karena Ditrian, ini gak akan selesai sampai sini!" Dinia ingin menuntaskan rasa kesalnya.


Mereka tiba di gedung DW fashion. Wartawan sudah mengerubungi gedung itu. Pasti karena berita yang viral tentang Dinia.


Rasanya benar-benar memancing emosi. "Taran, kamu gendong Ditrian. Aku biar hadapi mereka." Dinia mengambil ikat rambut dan mengucir rambutnya."


"Nona yakin? Kalau begitu, saya akan minta bodyguard melindungi Anda segera." Taran melirik wajah Dinia. Garis wajahnya yang tegas menandakan kalau dia sudah sangat siap.


"Mama juga?" Ditrian memegang tangan ibunya.


"Tidak. Mama nanti menyusul."


Ditrian menggelengkan kepala. "Gak. Ian mau Mama. Cini. Gak pegi, Ma. Ian takut." Ditrian memeluk ibunya.


"Di mana anak yang tadi mau kabur?" Dinia terkekeh. Dia tatap mata Ditrian. "Lihat, Mama masih senyum. Mereka gak akan nyakitin Mama. Bukannya Ditrian bilang kalau, Mama ini wonder woman?" Dinia cium kening Ditrian.


Anak itu melihat ke luar jendela. Bahkan ada wartawan yang mengetuk kaca jendela mobil. Ditrian berdiri. Dia balas mencium pipi sang ibu. "Mama, Ian tugu ya? Mama jaji." Ditrian mengeluarkan kelingking. Dinia balas mengaitkan jari kelingking mereka.


"Jaji kinci, halu pati. Gak inkali. Nanti, Gak sayang peli," ucap Ditrian sambil menyanyi. Itu lagu yang diajarkan Bia pada Dinia waktu kecil. Kini dia turunkan pada Ditrian. Janji sang kelinci yang harus ditepati. Kalau sampai ingkar, nanti tidak disayang lagi peri.


Ditrian pindah ke kursi depan. Taran melepas jas dan menutupi anak itu. Perlahan Taran turun. Dia langsung lari menembus kerumunan. Dinia ikut turun agar perhatian wartawan beralih.

__ADS_1


"Apa yang kalian ingin tahu dariku?" tanya Dinia. Petugas keamanan langsung berjaga di sisi dan belakang Dinia.


"Apa benar Ditrian anak angkat Anda?" tanya salah satu wartawan.


"Apa Anda senang kalau ada orang yang bilang, Anda anak angkat ibu Anda?" Dinia membalikan kalimat.


Wartawan itu langsung kena mental. "Anak kandung, anak angkat, anak yang kalian cap haram. Apa bedanya? Mereka terlahir dengan suci. Ibu tetap saja ibu. Mau yang melahirkan, membesarkan. Kalian yang membedakan itu semua, yang rendahan. Maaf, memang tidak enak dikatai. Kalau begitu, jangan mengatai lebih dulu."


"Nona Dinia, bukannya perkataan Anda ini terlalu vulgar? Anda publik figur, harusnya Anda mengeluarkan statemen yang baik."


Dinia terkekeh. "Apa Anda mau dinasihati oleh maling untuk tidak mencuri barangnya? Kalian ini publik figur juga. Dibandingkan kehidupanku, orang-orang lebih banyak membaca artikel Anda. Pikirkan baik-baik pertanyaan tadi. Apa Ditrian anak angkat Anda? Siapa yang vulgar di sini?" Dinia balas.


Wartawan lain saling tatap. "Dia benar," timpal mereka.


"Bagaimana Anda menanggapi tentang tuduhan tersebut?" wartawan lain berusaha untuk berhati-hati saat bertanya. Dinia sangat terlatih dalam komunikasi.


"Keterlaluan, kasar, immoral. Menurut Anda sendiri bagaimana?"


Wartawan itu heran. "Apa mungkin tuduhan itu berasal dari keadaan tubuh Anda sebelum ke luar negari? Pasalnya putra Anda lahir terlalu cepat."


Dinia mengambil sapu tangan. Dia mulai mengeluarkan air mata. Dinia terisak. "Dalam hidup ini, hal yang paling menyakitkan adalah tidak diakui."


"Bagaimana dengan ayan Tuan Ditrian. Apa lelaki itu pernah mengunjungi kalian?"


"Ayah? Lantas jika Anda sudah melihatnya, apa Anda akan berhenti mencurigaiku?" Dinia usap air mata.


"Paling tidak itu akan menjawab rasa penasaran publik, Nona Kenan."


Dinia mengangguk. "Baik, aku akan minta ayahnya untuk menunjukkan diri. Hanya jangan berekspektasi berlebihan tentang dirinya."


Kilatan cahaya dari kamera membuat Dinia lebih mudah menangis. "Aku minta maaf kalau aku menyakiti kalian. Aku tidak bermaksud menghina profesi kalian. Tapi ucapan teman kalian tadi...."


"Yang tabah, Nona. Kami paham. Anda pasti kuat menghadapi semua ini. Kami akan tunggu sampai ayah kandung Tuan Ditrian menunjukkan diri. Semangat!"


Setelah ini Dinia bingung. Di mana dia temukan sosok ayah itu?

__ADS_1


🍁🍁🍁


maaf telat update. aku lagi sakit gaess


__ADS_2