Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
35. Kita berdua


__ADS_3

Taran meluaskan pandangan ke depan. "Dinia, kalau mencari cinta, apa kamu ingin yang seperti Kris Sulivan? Tampan dan kaya raya?"


"Aku memang pernah suka dengan dia. Hanya bukan soal uang."


"Lelaki rendah sepertiku pasti akan dihujat kalau menyukai kamu, kan? Karena itu aku." Taran menghadap kembali ke arah Dinia. Dia terkejut karena wanita itu meraih bibirnya.


Mereka berciuman. Taran sama sekali tidak melawan. Dia peluk tubuh Dinia dan menenggelamkan wanita itu dalam dekapan panjang. Mereka sama-sama menutup mata, merasakan cinta yang semakin membesar dalam inti hati.


Ketika ciuman itu lepas, mereka saling tatap. "Apa kamu cinta sama aku?" tanya Dinia.


"Iya. Meski dunia ini melarang. Aku mau kamu." Taran mencium lagi bibir Dinia. Entah berapa kali mereka melakukan itu. Taran alihkan tubuh Dinia dalam pangkuannya. Tanya Dinia mengusap punggung Taran dengan lembut.


Angin meniup rambut keduanya. Taran cium punggung tangan Dinia. "Kamu kedinginan. Kita masuk aja, ya?"


"Kamu bisa peluk aku." Dinia melingkarkan lengan di leher Taran.


"Bahaya. Ini sudah malam," jawab Taran dengan pipi yang memerah.


"Kamu mikir apa, ayo!" Dinia jawil hidung Taran.


"Besok aku kerja, kamu juga. Waktunya tidur." Taran gendong Dinia seperti pengantin baru.


"Taran, jangan tinggalkan aku."


"Aku malah takut kamu yang lakukan itu." Taran kecup kening Dinia. Mereka masuk ke dalam lift, turun di lantai apartemen Dinia dan masuk ke dalamnya. Seluruh ruangan terlihat gelap.


Taran baringkan Dinia di atas tempat tidur. "Mimpi yang indah, Cantik." Taran usap rambut Dinia.


"Kamu gak mau temani aku sampai tidur?" Dinia memegang tangan Taran.


Taran tarik salah satu kursi dan duduk di sana. Dia usap-usap rambut Dinia dengan penuh kasih sayang. "Kadang, kamu jangan salahkan diri atas sesuatu yang terjadi. Tidak semua hal pantas kamu tanggung sendiri. Lihat dari banyaknya sisi," nasihat Taran.


"Taran, sejak kamu di sini. Aku gak minum obat lagi."


"Iya, kamu harus sembuh. Benar?"


Dinia mengangguk. "Lalu kita?"


"Ada apa dengan kita?"

__ADS_1


Dinia membelakangi Taran. "Memang kita gak punya masa depan."


Taran menunduk. Dia tahu apa yang Dinia maksud. "Berikan aku waktu."


"Jangan bilang kamu nyesel nyatain cinta tadi!" Sayangnya Dinia sudah marah lebih dulu sebelum mendengar penjelasan.


"Bukan itu. Dengar dulu." Taran mencoba membalikan tubuh Dinia, hanya lengan Dinia menepis.


"Aku minta waktu untuk bisa mapan finansial. Bukannya aku terlalu gengsi. Aku mikirin kamu dan Ditrian. Aku yakin kamu malu di depan Kris karena suami kamu belum punya prestasi apa-apa." Taran menunduk lesu.


Dinia bangun. Dia bergeser dan memeluk Taran. "Tidak. Jangan bilang gitu. Aku gak peduli sama omongan orang, apalagi anggapan Kris. Aku sekarang ini yang penting bisa bahagia, sama kamu."


Meski mungkin suatu hari nanti akan ada gelombang besar yang menghantam dan menghanyutkan mereka. "Aku mau terus saling berpegangan tangan sama kamu. Sampai nanti Ditrian menikah, kamu yang tetap di sini."


***


"Kita fokuskan ke kota besar dulu. Biasanya masyarakat pedesaan akan mengikuti tren yang. Karena itu sistem palet warna ini harus kita gabungkan pada konsumen agar mereka bisa mencocokkan pakaian," saran Taran di depan meja rapat.


"Kira-kira butuh berapa tenaga ahli untuk ini, Pak?" tanya salah satu staf.


"Aku pikir itu tugas kalian untuk mendata konsumen dan calon konsumen yang memungkinkan."


Sanchez membuka pintu ruang rapat, dia menepuk-nepuk jam tangan.


"Terima kasih banyak, Pak." Para staf berdiri dan membungkuk di depan Taran. Mereka satu per satu meninggalkan ruangan, sedang Taran masih ada di kursinya.


"Kerjaan kamu sudah selesai?" tanya Taran.


"Tinggal satu, menemani kamu ke tukang cukur," jawab Sanchez dengan wajah datar seakan tadi dia bukan sedang membuat humor.


"Aku bereskan ini dulu."


"Kamu bisa meminta sekretaris tadi." Sanchez menunjuk ke pintu di mana sekretaris Taran menghilang.


"Aku tidak bisa mempercayakan barang pribadi milikku pada orang lain." Dia yang biasa menjadi staf merasa tidak nyaman dilayani orang lain. Apalagi tentang catatan yang berisi banyak hasil pemikiran.


"Benar juga. Kita sudah terbiasa diajarkan untuk bergerak dengan penuh perhitungan." Sanchez masih melihat Taran memeriksa kertas di meja agar tetap saling berurutan.


Di luar, Dinia melirik satu per satu staf yang keluar sambil berdiri di samping pintu lift. Dia menghitung jumlah staf wanita. Ada empat dan cantik semua. Mendadak Dinia kesal dengan sistem perekrutan kantor.

__ADS_1


"Harusnya mereka cari pegawai yang wajahnya biasa saja," ucap Dinia kesal.


"Karena pimpinan kita ganti, aku jadi semangat rapat. Lihat wajah Pak Taran, ganteng banget," seru salah satu staf, tidak sadar ada Dinia di sana.


"Iya, aku dulu saking penasarannya pernah pura-pura kehilangan sesuatu di kantin laki-laki. Sesuai rumor, dia sangat gagah dan bersinar." Yang lain menimpali. Begitu melirik ke samping kiri, keempat berteriak kaget.


"Suamiku memang tampan, tapi aku gak tahu kalian seberani itu mengatakannya," sindir Dinia.


"Ampun, Nona. Kami tidak akan berani lagi." Saking takutnya setelah membungkuk, mereka kabur.


"Aku tandai kalian semua." Dinia menaikkan tinju.


Sanchez dan Taran keluar dari kantor. Taran tersenyum melihat Dinia di sana. "Kamu gak kerja?" tanya Taran.


"Aku lapar. Makan denganku, ya?" Dinia mendekati suaminya. Dia tarik lengan Taran.


"Aku mau pergi dengan Sanchez."


"Ke mana?" Meski bertanya pada Taran yang ditatap malah Sanchez dengan sinis pula.


"Hanya potong rambut, Nona." Sanchez terbatuk. "Lagipula saya tidak punya ketertarikan pada pria tampan."


"Baguslah, aku tidak mau kita jadi saingan." Dinia berkacak pinggang.


"Saya akan punya bayi." Sanchez melakukan pembelaan diri lapis kedua.


"Benarkah? Laki-laki atau perempuan?"


"Dia masih dalam kandungan. Saya belum tahu. Baru bulan awal," jawab Sanchez.


"Memang kalau umur segitu belum kelihatan?"


Taran menatap Dinia heran. "Kamu punya pengalaman dengan Ditrian, kan?"


Dinia dan Sanchez berdeham. "Aku lupa. Ditrian sudah besar."


"Ya sudah, aku pergi dulu. Kamu makan dengan Ditrian saja. Dia paling suka kalau makan ditemani kamu." Taran mengusap puncak kepala Dinia.


"Jangan bercanda. Ditrian lebih suka makan sendiri. Kamu gak tahu dia kalau makan pasti ditata dulu. Anakku itu memang agak lain." Dinia mengembuskan napas berat.

__ADS_1


"Tetap saja, kamu harus banyak luangkan waktu untuk dia. Nanti kita jalan-jalan mau?" tawar Taran.


Dinia bergelayut mesra di lengan Taran. "Nanti bilang sama salonnya. Bikin kamu gantengnya berkurang sedikit. Aku benci lihat perempuan-perempuan di sini genit sama kamu!" omel Dinia.


__ADS_2