
Divan menyimpan sebuah berkas di atas meja. "Lihat."
Taran mengulurkan tangan dan mengambil berkas itu. Di dalamnya ada hasil tes DNA. Pria itu membaca dengan saksama, tertulis pernyataan kalau dua sample yang digunakan saling berkaitan dan memang ayah dan anak. Kemudian tertulis nama pemilik sample tersebut, Gustavo Rubey dan....
"Saya?" Taran terkaget. Pria itu terdiam lama.
"Aku pikir kamu tahu pria itu mencari anaknya. Pablo sudah tidak memungkinkan meneruskan perusahaan. Dia berharap menemukanmu sebagai penerus."
Mata Taran memerah. Dia simpan dokumen itu di atas meja. "Bukan urusan saya. Meski darah orang itu yang mengalir di tubuh saya, kami tidak punya hubungan apa pun."
Divan bisa melihat amarah di wajah Taran. "Ibumu sudah meninggal, dibunuh. Pelakunya istri pertama ayahmu, ibunya Pablo."
"Maksud Anda, aku ini hasil hubungan tidak sah. Anak yang lahir di atas rasa sakit perempuan lain?" Taran memastikan.
"Kamu tidak salah dalam hal itu."
Taran mengepalkan tangan. Dia ingat bagaimana orang-orang menilai Ditrian dulu. "Tetap saja. Mengambil hak milik orang lain tidak dibenarkan."
Divan berdiri. Dia berjalan dan menepuk bahu Taran. "Kamu bisa hidup mewah dengan ayahmu, diakui seluruh Livetown."
Taran melirik kakak iparnya. "Tapi, aku bahagia dengan Dinia. Kalaupun pria itu datang, meminta maaf padaku, jawabanku akan sama. Aku akan tetap di samping istriku."
Divan berhadapan dengan Taran. Dia agak heran dengan pola pikir pria itu. "Taran, apa kamu tahu apa yang Rubey lakukan pada Dinia di masa lalu?"
Divan ceritakan alasan depresi yang Dinia alami. "Pablo mungkin akan kehilangan jabatan tertinggi, tapi dia masih punya segalanya. Gustavo tiada bedanya. Sebelum mereka hancurkan keluarga Kenan, mereka akan terus melakukan hal yang sama."
Tentu Taran tahu apa yang sudah Rubey lakukan untuk menjatuhkan bisnis Dinia. "Apa yang harus aku lakukan, Pak?"
"Kamu lebih tahu, Taran Rubey." Divan pamit pergi.
Di sana Taran terguncang. Tangannya memegang meja dengan kuat. Dia berteriak dengan amarah yang memuncak. "Kenapa? Dari sekian banyak keluarga, aku jadi anak dari orang yang menghacurkan wanita yang aku cintai?" Taran pukul dadanya yang terasa sangat sesak.
Lama terdiam merenungkan apa yang harus dilakukan, Taran tergugah dengan sebuah suara. "Masuk, Sayang," timpal Taran.
__ADS_1
Ditrian muncul di sana, membawa banyak bungkus snack di tangannya. "Ke sini!" panggil Taran.
Ditrian mengangguk. Dia berjalan ke arah Taran. Tanpa memberi aba-aba, Ditrian panjat kaki Taran hingga terasa cubitannya. "Pelan sedikit kenapa?" Taran gendong anak itu ke pangkuan.
Ditrian lempar ciki di tangan ke atas meja. "Cukulah. Libetin kali tangan Ian. Tadi lapal. Mau makan ini. Gak ada temen, Papa. Cedihna," keluh Ditrian.
"Mana yang mau dibuka lebih dulu?" tanya Taran.
"Ini lasa pisang." Ditrian berikan salah satu bungkus chiki.
"Ini bukan pisang, tapi kaldu ayam." Taran membaca kemasan.
"Napa walnain kuning? Nipu Ian ini. Halus lapolin puici." Anak itu mengomel.
"Mungkin kamu belajar baca nanti dengan Miss di rumah," saran Taran.
"Napa Miss. Papa cama Mama ada. Gunana apa?" Ditrian membuat Taran kena mental seolah tidak bisa mengurusnya dengan baik dan malah melemparkan ke pengasuh.
"Kalau begitu selesai kerja, Papa ajarkan baca. Kalau mau sekolah lebih baik. Ditrian akan punya teman banyak sekali." Taran peluk anak itu.
"Sekolah tidak lama." Meski dia tahu anak ini bukan anak kandung Dinia, Taran terlanjur sayang padanya.
Pintu kantor terbuka. Dinia berdiri di sana. Dia menyipitkan mata. "Entah kenapa, Mama selalu keduluan kamu kalau ketemu Papa!" protes Dinia.
"Papa cayang cama Ian ke Mama paksa," timpal Ditrian seenak jidat. Dinia hampiri putranya dan mencubit pipi Ditrian. "Kamu di kantor tadi gak repotin Sanchez, kan?"
"Ian puna kantol cindili. Main temenin Miss aja. Sanchez gak tahu, ilang. Ulusan banak katanya." Ditrian memakan satu per satu chiki hingga belepotan ke sisi mulut.
"Terus kenapa pergi duluan gak nunggu Papa dan Mama?" Taran usap rambut Ditrian.
"Beldua kalian ilang. Mana pelgi?" Ditrian teringat masalah tadi pagi.
"Kami rapat," jawab Dinia memutar bola mata.
__ADS_1
"Ian gak ajak agi. Napa? Ian cukup dewasa. Paham cumua."
"Kalau gitu, coba jelaskan sama Papa. Untuk rencana aksi korporasi di mana perusahaan menjual saham ke khalayak umum agar mendapatkan modal pengembangan usaha. Kira-kira berapa persen saham yang bisa diajukan?" tanya Taran.
Ditrian menaikkan alis. Dia garuk kening meski tidak gatal. "Ian jadi anak-anak aja. Jajan, minta uang, pegi cukula. Ian baik-baik gitu." Dia langsung menyerah.
"Gak usah kasih pertanyaan sesulit itu. Kamu cukup tanya, berapa sepuluh ditambah delapan. Dia pasti langsung nyerah." Dinia cubit pipi Ditrian.
"Kalian ceneng bikin Ian susah!" Ditrian berkacak pinggang. Taran dan Dinia sama-sama tertawa. "Kamu emang kesayangan Papa. Jangan cepat besar ya, Nak?" pinta Taran.
"Gak mau besal. Ental kasih tanya pusing." Ditrian menggelengkan kepala.
Jauh di sana Gustavo bertemu dengan anak buahnya. "Kami temukan orang itu, Pak. Yang membuang anak Anda."
Dia membawa seorang pria yang terikat di tangan. Gustavo tatap tajam pria itu. "Suruh yang lain jaga. Jangan sampai Pablo menguping pembicaraan ini lagi."
Staf Gustavo menemukan di CCTV rumah beberapa kali informasi bocor pada Pablo. Beberapa staf yang berkhianat ditangkap.
"Bayi itu, kamu buang ke mana?" tanya Gustavo.
"Aku hanya diminta seseorang, Pak. Sungguh aku tidak tahu kalau anak itu berharga." Pria itu terlihat ketakutan sampai gemetaran tangannya.
"Aku tidak peduli itu. Aku hanya ingin tahu di mana anakku!" Gustavo membentak dengan keras. Terasa ada tekanan di dadanya saking tidak sabar.
"Aku buang ke tengah padang rumput di New Green. Seorang pengembara menemukannya. Setelah itu aku tidak tahu apa pun," ungkap pria itu.
Gustavo menatap stafnya. "Cari pria itu."
"Sudah kami cari, dia pindah dengan seluruh keluarga. Tidak ada kabar tentang keluarga itu. Hanya saja, dia punya dua anak. Menurut tetangganya hanya satu anak angkat bernama Taran Calisto Green. Pria itu kini menjadi suami sah Dinia Kenan," ungkap staf tersebut.
Gustavo terbelalak. Dia sempat bertemu dengan pria itu beberapa hari lalu. Tangannya semakin gemetar. "Bawakan air!" titah Gustavo. Bahkan dia ingat bagaimana mulutnya sudah mengatai Taran.
"Bagaimana Tuan? Saya khawatir keluarga Kenan sudah tahu tentang hal ini dan memanfaatkan posisi putra Anda."
__ADS_1
Gustavo paham hal itu. "Pastikan sejauh apa keluarga Kenan tahu hal ini." Dia memandang ke luar jendela. Rasanya kini seluruh karma tengah menghadap ke arahnya. Putra pertama tidak ada guna, putra keduanya dalam pengaruh keluarga lawan.