
"Hari ini Tuan Gustavo meminta bertemu dengan investor itu untuk menjual sahamnya, Nona," ungkap Sanchez.
"Ya sudah, temukan saja orang kita dengannya dan beli semua yang dia punya tanpa sisa. Walau harus memberikan yang aku punya, aku tidak akan berhenti menjadikan keluarga Rubey ada di bawah kakiku!" titah Dinia.
"Akan saya lakukan secepatnya." Sanchez kali ini sangat yakin jalan mereka terbuka luas. Pria itu kini berdiri di depan Divan Kenan. Dia membungkuk tanda hormat.
"Jangan katakan pada Dinia tentang ini. Katakan saja kurangnya padaku. Biar aku urus." Divan membantu dari belakang. Dia tahu sifat adiknya yang sangat keras sulit menerima bantuan dari orang lain meski kakaknya sendiri.
"Baik."
Sanchez pergi menemui orang yang akan dipinjam namanya untuk menguasai saham milik Gustavo. Dia minta orang itu tanda tangan di atas materai untuk menyerahkan saham tersebut dalam jangka waktu satu bulan setelah dikuasai.
Demi uang imbalan, orang itu langsung menyetujui hal itu. Akhirnya suruhan Dinia pergi ke tempat yang sudah Gustavo tunjuk.
Dalam keadaan ini, Gustavo tidak bisa mudah keluar rumah. "Saya berharap sekali setelah nanti nama Rubey kembali bersih, Anda bisa membuka kembali kesempatan saya membeli saham itu kembali," pinta Gustavo.
"Saya tidak ingin punya kesepakatan dengan siapa pun. Jika Anda berpikir demikian, lebih baik saya mundur saja," tolak orang itu.
"Tidak, Tuan! Saya minta maaf sekali tentang itu. Untuk saat ini saya memang harus lekas mundur. Untuk itu saya titipkan perusahaan ini."
Investor palsu itu mengeluarkan surat pengalihan nama sebagai syarat yang akan diurus hingga ke pengadilan sampai saham benar-benar berganti nama.
Gustavo menghilangkan keraguan. Dia tanda tangan di atas berkas tersebut. "Staf saya akan transfer uangnya dalam waktu dekat, Pak."
Tentu semua ini belum sepenuhnya selesai hingga nama kepemilikan berganti. Sedang Pablo langsung meminta untuk bertemu Dinia secara langsung. Sayangnya dia mendapatkan penolakan. Pria itu tidak mau menyerah, kembali dia meminta bertemu dengan Chairman Kenan Group, Divan Adhlino Ravin Kenan.
Divan yang memang berniat menjatuhkan keluarga Rubey menyetujui permintaan tersebut. Pablo datang dengan penjagaan ketat, meski akhirnya dia sempat dicegat orang-orang suruhan ayahnya.
"Lepaskan aku!" Pablo gemetar saat pistol menempel di keningnya.
"Tuan besar ingin menemui Anda," ucap pria dengan topeng itu.
"Dengar, kalau terjadi sesuatu yang buruk padaku, kalian akan ikut terancam. Gustavo Rubey sudah tidak bisa apa-apa. Kita kerjasama dengan keluarga Kenan," tawar Pablo.
Para staf itu saling tatap. "Jangan bodoh. Kalian harus berlindung di tempat orang-orang kuat. Kecuali, kalian mau ikut terkubur dengannya." Pablo tidak sebodoh yang orang kira. Satu hal yang bisa dibanggakan dari seorang pengecut adalah kemampuannya mencari perlindungan.
__ADS_1
"Anda tahu dari mana soal itu?"
Pablo tertawa. "Kalian bodoh? Saham ayahku akan dijual dalam waktu dekat. Dia tidak punya apa-apa lagi karena harus membayar utang kerugian. Aku juga sama, tapi aku masih bisa menjual sahamku ke Kenan Group dan mereka janji akan memperjakan aku di sana."
Staf Gustavo saling tatap. "Kalau tidak percaya, antar aku menemui keluarga Kenan. Akan aku tunjukkan kalau aku diterima baik di sana."
Terhasut oleh Pablo staf-staf itu saling berunding. "Kalau kamu bohong, kami akan langsung bawa menemui Ketua."
"Baik."
Mereka sampai di depan black tower. Pablo masuk ke dalam gedung, sementara orang-orang Gustavo mengawasi dari luar gerbang. Bahaya kalau mereka ketahuan staf keluarga Kenan yang terkenal menakutkan.
Pablo diperiksa saat masuk. Stafnya dilarang naik dan hanya menunggu di lobi. Pria itu naik lift bersama sekretaris pribadi Divan hingga tiba di ruang tamu Chairman yang mewah, bahkan terbesar di antara kantor pengusaha di Livetown.
"Aku sudah dengar kabar darimu. Jadi intinya aku akan terima. Berapa banyak saham yang bisa kamu berikan padaku?" Divan memastikan.
"Semuanya. Tapi, pastikan aku bisa kabur ke luar negeri dengan aman. Termasuk jaminan tidak membayar hutang perusahaan."
Divan tertawa. "Kamu cukup tidak tahu diri juga. Kalau begitu, aku tidak mau."
"Tuan Kenan, aku bisa dibunuh ayahku sendiri. Bahkan dia akan melenyapkan anak haramnya juga." Pablo sampai berlutut.
"Baik, cukup beli sahamku saja dan selamatkan nyawaku."
"Tanda tangan ini." Divan siapkan kertas yang harus Pablo tanda tangani.
Lekas pria itu mengikuti apa yang Divan titahkan. "Siapa yang mau bunuh kamu?"
Pablo ungkap tentang tujuh orang yang menunggunya di luar sana. Divan menghubungi stafnya. "Duduk, minum kopi saja dulu."
Pablo terheran. Pria di depannya masih santai menikmati segelas kopi. Tak lama seorang staf datang. "Pak, kami sudah melakukan tugas."
Divan tersenyum licik. "Pulanglah. Aku tunggu saham itu berganti nama."
Pablo agak terkaget. Pria itu di matanya kini sangat menakutkan. "Kamu tahu keadaan mental adikku akibat ayahmu? Ingat Pablo Rubey, dalam peraturan keluarga Kenan, kamu berhutang sepuluh, kamu tagih seribu kali lipat. Termasuk urusan ini. Jadi, aku berikan kamu kesempatan. Menghilang dari hadapan keluargaku, atau dari dunia ini."
__ADS_1
Pablo berdiri. Dia membungkuk di depan Divan. "Aku minta maaf. Sungguh aku tidak tahu soal itu. Semua rencana ayahku."
"Pergi!" tegas Divan. Pablo berlarian karena takut.
Di rumah, Ditrian tengah naik mobil listriknya. Dia hanya keliling ruang keluarga. Sementara Taran dan Dinia duduk menonton televisi.
"Mama, beliin ampu labu belalang," pinta Ditrian.
"Lalu lintas," ralat Dinia.
"Iya. Ubah walna itu. Ijo, kuning. Apa satu agi?" Ditrian mengingat.
"Merah," timpal Taran.
"Ian tahu! Capa tanya Papa?" omelnya.
"Tadi kamu tanya. Mau diulang? Mumpung ada CCTV."
"Ian gak cubutin Papa."
"Udah, jangan berantem. Nanti Mama sakit kepala!" omel Dinia.
"Cakit tulus. Umah cakit bayal tahu!" Ditrian menginjak gas mobilnya lagi.
"Jajan terus. Makanan dan mainan kamu itu bayar!" Dinia bisa membalikan ucapan anaknya itu.
"Tugas Ian abisin. Mama cali." Ditrian mengedipkan sebelah mata.
"Anak berbakti sekali kamu." Taran tertawa.
Dinia menepuk lengan Taran. "Berhubung aku ingin istirahat panjang, aku berikan tugasku padamu ya, Sayang. Kata psikiater juga begitu. Aku ini harus bebaskan pikiran."
Taran menyipitkan mata. "Kamu lupa aku ini keturunan Rubey? Kamu rela perusahaan kamu dipimpin anaknya Gustavo?"
"Pa, urusan gini aja kamu mau jadi anak dia. Cuman supaya gak perlu megang tanggung jawab!" Dinia melotot.
__ADS_1
Taran tertawa. Dinia hendak mengambil gelas di atas meja. Baru beberapa detik, dia lari ke kamar. "Ada apa? Staf kamu ngehubungi?"
"Cakit pelut Mama. Takut kuluan. Malu. Bau." Ditrian salah sangka.