
"Hei!" Sanchez menepuk bahu Taran hingga rekannya itu terkaget.
"Sedang apa kamu?" Taran memeriksa dokumen yang menurut Dinia sangat mencurigakan. Pria itu sangat jeli memperhatikan setiap angka dan kata dalam laporam tersebut.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Taran, apa kamu sudah potong rambut? Itu terlalu panjang." Sanchez agak menunjuk rambut Taran. Bagian depannya bisa menutupi mata jika tidak ditahan menggunakan gel rambut.
"Mungkin besok. Aku akan izin pada Dinia lebih dulu," jawab Taran.
Sanchez berusaha menyusun kalimat selanjutnya yang tidak memancing rasa curiga. Dia harus berhati-hati dalam bertindak.
"Aku akan ikut dengan kamu."
Tentu Taran agak terkaget. Dia sedikit mundur kemudian keningnya berkedut. "Aku bisa sendiri."
"Bukannya aneh, suami Dinia Kenan pergi potong rambut tanpa ditemani penjaganya." Sanchez berkilah.
Sebagai orang yang percaya dengan rekan satu tim, Taran mengiyakan saja permintaan Sanchez. Selama potong rambut sudah pasti akan terasa lama dan menyebalkan. Lebih baik dia mengobrol saja dengan Sanchez.
"Kamu tahu tentang ini?" Taran berdiri dari kursi. Dia sedikit berjalan miring hingga keluar dari meja kerja dan mendekat pada Sanchez. Ditunjukkan laporan yang ada di tangan. "Apa ini masuk akal. Maksudku, bukannya kita memproduksi sendiri aksesori. Untuk apa kita memesan bros. Seingatku karyawan di sini tidak mengenakan bros tertentu. Benar?"
"Apa Nona Dinia tengah memberikan kamu tugas?" Sanchez heran karena biasanya Taran akan sibuk mengawasi musuh.
"Apa kamu lupa sekarang posisiku di sini sebagai apa?" Taran duduk di meja, tepat di samping Sanchez.
"Manager divisi perencanaan dan strategi bisnis?" jawab Sanchez dengan lancarnya.
"Benar. Karena itu aku ingin tahu apa yang dikeluarkan Divisi ini. Rupanya semua hanya omong kosong. Mereka mau bekerja apa liburan? Apalagi ini. Desain yang mana? Tidak dicantumkan."
Sanchez terkekeh. "Karena itu, Nona Dinia ingin kamu ada di posisi ini. Selamat bekerja. Jangan makan gaji buta." Sanchez berdiri. Baru berbalik, dia melihat Dinia masuk dengan Ditrian. Pria itu membungkuk tanda hormat.
"Kamu malah di sini. Istri kamu datang mencari ke kantor," ungkap Dinia.
"Benarkah?" Sanchez langsung pamit. Tidak lupa pria itu menutup pintu.
__ADS_1
Dinia dan Taran sama-sama menunduk malu. "Ditrian ingin ke kamu," ungkap Dinia.
"Ian bisa pegi dili, napa Mama antel. Aneh. Ini tidak biasa agi." Ditrian memang pembuka rahasia paling luar biasa.
"Aku takut kamu hilang."
"Ada Miss!" Ditrian menepuk kening.
Taran terkekeh. "Aku juga kangen kamu."
Ucapan pria itu kini mengguratkan rona di pipi Dinia. "Aku ada urusan. Tolong jaga dia." Dinia berbalik dan pergi. Jika Taran tidak berkata begitu, mungkin dia bisa tinggal lama. Hanya saja jantung Dinia lebih dulu berdenyut dengan kencang.
Taran hanya bisa melihat sambil tersenyum. "Andai dia selalu semanis itu. Tapi, bagaimanapun aku tetap suka," pikir Taran.
Ditrian naik ke kursinya. "Papa kalang ada luang belajalna?" Seperti biasa Ditrian selalu serba ingin tahu.
"Kamu mau pindah ke sini mainnya?" tawar Taran.
"Kamu mau ketemu Papa hanya untuk membicarakan hal ini?"
Ditrian menggelengkan kepala. "Ian mau minta bikin ini." Ditrian meminta Taran datang menghampirinya.
Taran mengenyampingkan dulu pekerjaan yang harusnya bukan tugas dia—karena dia yakin akan dipecat setelah Dinia mengumumkan perceraian. "Papa, ini gini aja bagus." Ditrian memang komentator handal. Buktinya dia bisa protes, tapi tidak bisa melakukan sendiri.
Ditrian tertidur di pangkuan Taran. Dinia ada di samping suaminya. Mereka bersiap pulang ke rumah. Dalam perjalanan di lingkar bebas hambatan, mobil keduanya hampir menabrak karena mobil di depan berhenti tiba-tiba. Dinia yang hampir terjungkal, memeluk Taran dengan refleks. Begitu sadar, kembali dia malu.
Tiba di rumah, mereka masih sama-sama diam. Entah saat ini seperti apa hubungan mereka. Yang jelas perasaan sudah terbawa ke dalam tempat yang berbeda seperti sebelumnya. Dinia bisa merasakan dingin setiap kali Taran dekat dengannya, tapi dia ingin. Hati begitu labil hingga Dinia rasa hanya mendengar nama Taran saja, pikirannya campur aduk.
"Aku baringkan Ditrian di tempat tidur," pamit Taran.
"Aku mandi dulu." Dinia lekas ke kamar. Selama mandi di berendam di bak. Perempuan itu menatap ke langit-langit. Ketika matanya terpejam, dia membayangkan wajah Taran. Kemudian Dinia membuka mata dan menepuk pipi.
Taran sama saja. Nama Dinia seperti terngiang-ngiang di telinga. Bahkan wajah perempuan itu tiba-tiba saja muncul di depan hingga Taran terkaget. Begitu sadar, itu hanya bayangan.
__ADS_1
"Taran! Dia itu cuman atasan kamu! Kamu mana akan dia terima. Kamu cuman orang miskin!"
Karena tidak bisa tidur, Taran pergi keluar apartemen malam itu. Dia mengenakan celana training dan jaket. Taran berlari di roof top apartemen yang memiliki taman cukup luas. Tubuhnya berkeringat sangat banyak. Taran berhenti dan duduk di kursi yang ada di sana.
Kaki pria itu berselonjor. Matanya menatap ke langit. Bintang tidak terlihat karena polusi cahaya di kota. Saat di New Green, benda langit itu jelas dan bertebaran. Kadang Taran rindu akan kampung halaman. Dia ingin pulang, tapi ayahnya tidak tinggal lagi di sana.
[Taran, kenapa kamu tidak kirim uang lagi? Kamu beneran buang Papa setelah jadi suami orang kaya? Ingat, kamu tidak akan ada di sana tanpa Papa sekolahkan]
Lagi-lagi Kakak angkat Taran mengeluarkan kalimat yang menyebalkan. Selama ini Taran menitip uang lewat rekan kerjanya yang bertugas mengawasi keluarga ayahnya itu. Kakak iparnya tentu tidak akan tahu. Lagipula kalau lelaki itu mengambil uang, pasti ayahnya Taran tidak akan diberikan sepeser pun.
Taran menunduk. Dia menengok ke arah kanan. Mata Taran terbuka lebar melihat Dinia naik ke taman itu. Dalam hitungan detik, mata mereka bertemu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dinia.
"Nyari angin." Taran masih di posisi semula. Dinia berjalan mendekat dan duduk di sana. "Kamu gak bisa tidur juga?"
Dinia mengangguk tanpa ragu. "Taran, apa iya aku bisa hidup selamanya dengan orang yang aku cintai?"
"Kenapa kamu selalu nanyain hal yang sama?"
Mata Dinia bergerak mencari keberadaan Taran. "Takut saja."
"Memang kamu punya? Orang yang dicintai."
"Ada."
"Siapa?"
"Gak mau bilang." Dinia bergeser menjauhi Taran. "Kamu sendiri?"
"Satu hal yang buat aku ragu. Dia anak orang kaya dan aku hanya staf rendahan."
Kali ini rasanya darah yang bergejolak di tubuh Dinia membeku. "Siapa anak orang kaya itu? Apa aku kenal?"
__ADS_1