
"Ingat, Anda jangan nangis guling-guling," saran Taran.
"Buat apa. Aku bukan wanita lemah. Satu lagi, ingat! Kamu! Sebut kayak gitu." Dinia lagi-lagi mengeluarkan nada tinggi.
"Ingat! Aku ini suami, jangan bentak-bentak," balas Taran. Dia merasa memiliki kekuatan setelah ayah mertua palsunya memberikan nasihat kemarin.
"Iya, suami yang sok tampan padahal enggak," balas Dinia.
Mereka turun di depan restoran. Dinia kenakan gaun hitam dengan belahan rok di bagian kaki hingga lutut. Lekuknya dibuat lurus agar menunjukkan citra tubuh langsing Dinia.
Sedang Taran mengenakan setelan tuxedo. Kalau dilihat-lihat pria itu lebih cocok dengan label CEO dibandingkan staf.
Saling berpegangan tangan, mereka sama-sama melangkah dengan tegap. Pelayan menyambut keduanya. Di luar sana sudah ada paparazi yang siap membidik gambar pasangan itu.
Tanpa menyebut nama, pelayan sudah tahu di mana ruangan Dinia akan bertemu dengan pria yang dia cintai. Hanya saja bukan sebagai kekasih, tapi rekan bisnis.
Ruangan itu bernuansa arsitektur Jepang. Pintu dibuka dengan cara ditarik ke samping. Dinia dan Taran masuk. Saat itu Kris Sulivan dan istrinya berdiri. Karena lebih muda, Dinia dan Taran membungkuk pada bos besar itu.
"Selamat malam, Dinia. Kamu sangat cantik hari ini," puji wanita yang berhasil membuat Kris berpaling dari Dinia.
"Terima kasih, Kakak juga. Kakak selalu terlihat elegan dan berkelas," balas Dinia sekadar basa-basi.
"Silakan duduk. Tidak baik kita bicara sambil berdiri." Kris menunjuk kursi yang sudah tersedia. Pelayan membantu menarik kursi dan memasangkan serbet.
"Lagi-lagi aku tidak bertemu dengan Ditrian," ucap Lavender, istri Kris.
"Aku ingin mengajaknya. Namun, anak-anak mudah bosan. Bisa aja pembicaraan ini tidak berjalan dengan lancar," jelas Dinia.
"Kamu hebat bisa menyeimbangkan semuanya. Sudah jadi ibu tentu bukan hal yang mudah."
"Aku berusaha untuk bisa. Lagipula jika aku sibuk, dia akan membantu." Dinia sentuh lengan atas Taran.
"Aku sering lihat kamu, sungguh tidak kutahu ternyata kamu suaminya Dinia. Maaf, aku kurang sopan tidak menyapa," ujar Kris.
"Tidak masalah. Bukan salah Anda. Aku hanya bisa menjada istriku dari kejauhan. Itu pilihan sulit, tapi demi kebaikan kami." Taran meraih dan mencium punggung tangan Dinia. Kali ini Dinia terkejut hingga pipinya memerah. "Benar, Sayang?" tambah Taran.
Dinia mengangguk. "Lebih baik kita menikmati hidangan lebih dulu." Kris meminta pelayan membawakan pesanannya.
__ADS_1
Tak lama makanan pembuka datang. "Aku harap kalian suka." Memang Kris yang menjamu mereka. Meski Dinia awalnya yang menawarkan itu.
Kali ini Dinia terkejut. Dia melihat bitterballen di sana, makanan kesukaannya. Saat Dinia melirik Kris, lelaki itu tersenyum ke arahnya. "Dia masih ingat?" batin Dinia.
"Ini kesukaan kamu. Pasti kamu bisa makan banyak," ucap Taran. Dinia mengalihkan pandangan ke arah pria itu. Tatapan Kris berubah tajam. Pria itu tidak terima ada orang lain yang tahu.
Tentu saja, Taran mengurus keperluan pribadi Dinia. Dia harus tahu segalanya. Meski begitu, tetap Kris yang tidak tahu akan salah paham.
Taran panggilkan pelayan. "Saya boleh minta wasabi segar. Istri saya lebih suka makan ini dengan saus itu," pinta Taran.
Kris meremas garpunya. Dinia tersenyum ke arah Taran. "Terimakasih banyak, Sayang."
"Sama-sama. Apa pun untukmu." Taran usap rambut Dinia.
"Tentang rencana pembuatan pakaian olahraga." Kris mengalihkan pembicaraan. Dinia dan Taran kembali ke topik awal. "Aku pikir saat ini mulai kembali berkembang. Orang mulai suka keluar rumah lagi."
"Aku sudah mencari beberapa produsen bahan kain untuk produk tersebut. Samplenya akan ditunjukkan pada Anda nanti," timpal Taran.
"Aku pikir Dinia yang akan melakukannya." Kris menaikkan sebelah alis.
Setelah itu mereka fokus makan. Dinia sesekali memuji masakan koki. "Kita pernah ke sini sebelumnya." Ungkapan Kris itu membuat beku suasana di sana.
Lavender menatap suaminya. Bola mata wanita itu memutar. Dia bukannya tidak tahu rumor tentang suaminya dengan Dinia. Hanya saja, dia ingin menunjukkan kalau mereka baik-baik saja agar Dinia tidak menggangu hubungan mereka.
"Aku tidak ingat. Kalau Kakak ingin restoran yang memorable, aku akan rekomendasikan. Aku dan Taran sering ke sana. Bahkan aku sampai ingat setiap sudut ruangan. Aku suka wangi bunga lily di sana. Taran sangat pintar mencarikan aku tempat yang bagus."
Taran tersenyum. Padahal di tempat itu Dinia hanya duduk dan makan sendiri. Sedang Taran melihat dari kejauhan. Dia tahu Dinia akan makan makanan amat pedas agar orang tidak sadar kalau dia tengah menangisi Kris.
"Orang bilang saat makan adalah waktu pasangan sangat dekat."
Begitu malam berlalu, Dinia dan Taran pamit. Tangan Dinia begitu erat memegang Taran. Bisa Taran rasakan betapa dinginnya kulit Dinia.
"Kasihan Anda, Nona," ucap Taran.
"Goul, kamu pulang naik taksi tak apa?" pinta Taran.
Dinia terlihat heran, apalagi Goul.
__ADS_1
"Kenapa memang?"
"Aku dan Dinia perlu mendiskusikan sesuatu," jawab Taran.
Goul terpaksa memberikan kunci mobil. Dinia ikut dengan Taran. Mobil itu dengan kencang membelah jalanan. "Kamu gak ada rencana nyulik aku, kan?"
"Bukannya dapat uang, aku malah kehilangan pekerjaan, Nona. Tidak pasti," jawab Taran.
"Jangan harap aku akan cium kamu lagi?" Dinia mengancam, tapi sambil terkekeh.
"Kalau ingin?" Taran mengeluarkan candaan.
"Aku serius! Kita mau ke mana?" tanya Dinia penasaran.
"Mencari kebahagiaan yang hilang," jawab Taran lagi.
Mobil meninggalkan perkotaan. Kini sisi kiri jalan berupa barisan cemara laut. Sedang di kanan pantai dengan pasir putih. Lampu-lampu di sepanjang jalan memberikan nuansa hangat dalam kegelapan yang tidak terlalu menyita.
Dinia menaikkan atap mobil hingga terbuka. Dia berdiri dan berteriak. "Dasar lelaki mata keranjang!" teriak Dinia. Taran tersenyum mendengar itu. Tidak tahu kenapa dia senang Dinia bisa memaki Kris.
"Kamu bilang cinta? Bisa-bisanya kamu tidurin istri kamu! Bohong! Mulutmu seperti sampah!" Dinia terus memaki.
Taran mempercepat kendaraannya. Dia biarkan Dinia puas melampiaskan kekesalan. Tak lama wanita itu duduk sambil tertawa. "Kamu dengar itu? Aku benci dia sekarang! Aku bisa bahagia!" Dinia memegang lengan Taran.
Mobil itu berhenti di parkiran. Mereka turun. Dinia membuka sepatu dan melepar ke dalam mobil. "Nona, hati-hati," nasihat Taran.
Dinia berbalik dan memeletkan lidah ke arahnya. Taran tutup atap mobil kembali. Dia susul Dinia dengan berlarian, takut perempuan itu hilang.
"Taran, lihat ombaknya berkilau," ucap Dinia.
"Buih," ralat Taran.
"Apa pun itu. Makasih banyak. Kamu tahu aja kalau aku ingin kabur." Dinia bergerak ke sisi kanan dan kiri seakan tengah menari.
"Anda ingin melakukan sesuatu yang gila?" tanya Taran.
"Apa itu?"
__ADS_1