Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
37. Keluarga


__ADS_3

"Dia apa sudah gak waras? Otaknya memang kurang pintar. Tak apa, biarkan saja dia tersesat dengan keadaan itu. Katakan pada mereka kalau aku dan suamiku akan datang ke sana," jawab Dinia setelah membaca undangan dari Rubey.


"Baik, Nona. Saya akan segera hubungi sekretaris perusahaan itu." Sanchez undur diri.


Kini tinggal Dinia sendirian di kantor. Sejak tadi dia sibuk merencanakan sesuatu. Iya, besok dia akan liburan keluarga dengan Taran dan Ditrian. Dulu ini hanya sekadar skenario, tapi kali ini Dinia sangat nantikan.


Pintu kembali diketuk. Taran muncul dari sana membawa beberapa berkas. "Tentang rencana yang akan timku lakukan. Ini beberapa perusahaan yang akan kita hubungi untuk melihat produksi mereka." Dokumen itu Taran simpan di atas meja Dinia.


"Baik, nanti aku akan baca," jawab Dinia.


"Tidak apa. Masih ada hal lain yang harus saya kerjakan termasuk mengajak Anda makan siang." Taran melanjutkan maksudnya.


Dinia tertegun dan mengangkat dagu. "Tumben kamu ingat aku belum makan." Dinia mengusap meja karena gemas dengan sikap Taran.


"Aku selalu ingat. Bangunlah, aku tuntun kamu ke sana." Taran ulurkan tangan.


Sesuai permintaan suaminya, Dinia bangkit. Dia raih tangan Taran. Mereka berjalan keluar kantor. "Apa Ditrian ikut dengan kita?"


"Dia sudah di sana. Tadi dia bantu aku siapkan." Taran mengusap bagian belakang kepala.


"Kenapa kamu masih lakukan itu? Ada pegawai lain."


"Apa itu salah? Aku takut istriku makan yang kurang tepat." Taran usap rambut Dinia.


Perilaku itu membuat iri karyawan lain yang kebetulan lewat. "Apa perasaan aku atau mereka makin mesra saja?" tanya salah satu staf perempuan yang tengah mengantar laporan ke ruang pimpinan lain.


"Pantas, mereka pasangan suami dan istri."


"Padahal dulu jelas sekali mereka itu hanya atasan dan bawahan. Mereka benar-benar pandai berkamuflase. Padahal aku sudah lama ingin menikah dengan Tuan Taran." Rasanya sedih melihat pujaan hati ternyata sudah dimiliki wanita yang jauh lebih luar biasa dari diri sendiri.


Taran dan Dinia naik ke rooftop. Di sana ada ruang makan khusus yang biasa Dinia gunakan makan siang kalau sedang bosan di kantor. Kadang Dinia minum kopi di sana.


"Mama, buluan Ian lapal. Pelut Ian tadi nangis," panggil Ditrian tidak sabar.


Taran dan Dinia duduk di salah satu kursi. Pelayan datang membawa makanan dan menghindangkan di atas meja. "Apa ini?" Dinia terkejut melihat kerang laut yang memang sulit dibeli karena hanya ada di desa. Kerang itu hidup di perairan yang bersih.


"Aku dengar Nyonya Bia dan Tuan Dira berasal dari Emertown. Di sana pantainya masih terjaga dengan baik. Kerang ini makanan favorit keluarga kamu." Taran merasa bangga dengan apa yang berhasil dia dapatkan.


"Ibuku dan Papaku. Kak Divan juga. Aku dan Dio tidak. Kami besar di Heren," jawab Dinia.

__ADS_1


Taran terkejut. "Tidak apa. Salah sedikit sudah biasa. Tapi, aku bisa makan ini. Lumayan enak. Makasih sudah mau berusaha suamiku," ucap Dinia.


Kerangnya sudah dikupas, mereka tinggal makan dengan saus cocol. Ditrian agak kesulitan mengambil dengan garpu. "Mau Papa bantu?" tawar Taran.


"Tidak pelu. Ian masih bulusaha." Ditrian menolak. Sikap sok dewasanya sedang muncul. Begitu dapat, dia langsung cocol dan makan. "Apa ini? Gak enak! Buluk cekali." Ditrian langsung kaget.


"Kamu terlalu banyak masukan ke saos. Pasti asin." Dinia tertawa.


"Minta bantuan Papa juga gak masalah, loh."


***


Entah keluarga macam apa yang tengah Dinia dan Taran bentuk. Namun, mereka semangat menjalani ini bersama. Pagi itu Ditrian sudah melompat di sofa. "Cepat! Lama telus. Napa olang dewasa kula-kula milip!" Karena tahu akan pergi jalan-jalan, dia jadi ingin lekas pergi.


Biasanya pukul enam pagi Ditrian masih tidur. Padahal semalaman dia terus terjaga karena ingin cepat hari esok. Tidak lama Dinia dan Taran keluar dari kamar mereka masing-masing sudah mengenakan baju untuk mendaki.


Ditrian turun dari sofa. "Let go!" serunya.


"Tidak dulu! Mama mau ambil sesuatu!" Dinia lari ke dapur.


"Pelempuan banak ulus-ulus. Libet," omel Ditrian lagi. Dia begitu ingin cepat hingga jongkok kemudian berdiri berkali-kali.


"Susu Ian bawa?" tanya Ditrian.


"Tentu. Bahkan pie susu strawberry kesukaan kamu, Mama siapkan juga."


"Mama kelen!" Ditrian memberikan tanda love dengan jemarinya.


Mereka berjalan keluar apartemen lalu menuju tempat parkir. Taran yang membawa mobil. Ditrian duduk di pangkuan Dinia. "Ian akhilna ada Papa, Mama. Malin main Mama agi. Bosen Ian," keluh Ditrian.


"Jadi kamu bosan sama Mama?"


"Bukan. Ian mau dua olang tua. Sama Mama sindili bosan. Mama gak cintai Papa. Kalang ada cinta," jelas Ditrian.


"Papa juga cinta sama kamu." Taran cubit pipi Ditrian.


"Papa tahu, ental Ian sekolah. Papa antel Ian?" pinta anak itu.


"Pasti." Taran kembali sibuk menyetir.

__ADS_1


Mereka sampai di gerbang gunung terdekat ke Heren. Memang itu bukan gunung yang tinggi. Namun, jika didaki cukup lelah juga.


Dinia melirik ke berbagai arah. "Tumben gak ada wartawan."


"Pasti ada. Hanya mereka ambil gambar diam-diam." Taran kecup pipi Dinia hingga perempuan itu tersipu malu.


Berjalan di tanah bercampur bebatuan dan naik-turun membuat mereka butuh istirahat. Taran ajak keluarganya berhenti di bawah cemara.


"Minum." Taran berikan botol minuman untuk Dinia dan Ditrian. Botol itu dia simpan di dalam tas ransel.


"Pemandangannya dari sini aja udah indah. Ternyata memang ingin mendapatkan kebahagiaan harus berjuang mendaki hambatan," komentar Dinia.


Mereka pikir Ditrian akan kewalahan. Namun, anak itu masih berjalan-jalan melihat-lihat sesuatu.


"Mainnya dekat sini saja," pint Dinia.


"Ian cali halta kalun!" balas anak itu sambil berjongkok.


Taran dan Dinia duduk bersampingan menatap anak itu. "Entah dia kalau sudah besar akan bagaimana."


"Aku gak mau dia cepat besar. Begitu saja, tetap manis dan lucu," timpal Taran.


"Aku yang asuh dia dari bayi, inginnya begitu. Namun, kenyataan tidak seindah itu Taran," timpal Dinia.


"Kalau dia besar, aku takut dia minta ingin bertemu ayahnya." Taran menunduk sedih.


"Taran, kalau ayah kandungmu ketemu, apa kamu akan lupa dengan ayah angkat?" Dinia mengalihkan pertanyaan.


"Tentu tidak."


"Ditrian juga sama. Saat ini dan ke depannya, kamu tetap Papanya."


Taran pegang tangan Dinia. "Terimakasih banyak. Kamu udah kasih aku kesempatan jadi ayahnya."


"Kalau kesempatan jadi suamiku?"


Taran terkekeh. Dia peluk Dinia dengan erat. "Itu jauh lebih aku syukuri. Aku enggak mau kehilangan kalian berdua dengan alasan apa pun."


"Kami juga gak mau pisah dari kamu."

__ADS_1


__ADS_2