Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
29. Ruangan yang sama


__ADS_3

Dinia terbangun tengah malam. Dia turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Begitu kembali, Dinia mengintip Taran yang masih tidur dengan selimut yang menjadi alas.


"Kasian dia. Dinia menarik selimutnya sendiri dan menyelimuti Taran menggunakan benda itu. Berjongkok Dinia di depan Taran. Dia tatap wajah pria itu. Saat tangannya terulur, jantung Dinia berdebar.


"Kamu sangat penyayang Taran. Aku pikir lelaki makhluk paling menakutkan. Tapi, kamu gak gitu." Satu usapan lembut mendarat di kening Taran.


Mata Dinia berubah sayu. Dia ingat apa yang Taran ceritakan. "Kamu salah apa Taran? Semua anai berhak bahagia." Wanita itu bangun. Saat melangkah, kakinya terjerat selimut hingga jatuh menindih Taran.


Dihantam tubuh Dinia yang jangkung meski langsing tetap saja rasanya berat. Taran bahkan bermimpi seperti dikejar batu besar.


"Apa yang kamu lakukan?" Taran bangun dengan lengan yang terasa sakit.


"Maaf. Aku gak tahu bakalan terjungkal. Ampuni aku, ya?" Dinia berlutut di depan pria itu.


Baru kali ini Taran melihat wajah menyesal Dinia. "Tak apa. Lain kali hati-hati. Jatuh ke lantai itu bisa membuat kamu terluka."


Dinia mengangguk. Dia naik ke tempat tidur lagi dengan wajah malu. Harusnya malam itu mereka bisa tidur dengan tenang. Namun, alarm berbunyi tanda bahaya. Dinia kembali bangun. Taran bersiap di depan pintu. Pemberitahuan kalau pelaku pemberontakan lari ke daerah itu terasa mencekam.


"Kalau dia masuk kamar ini gimana?" Dinia terlihat panik.


"Aku bisa bela diri. Semua staf di keluarga Kenan harus memiliki hal itu," jelas Taran.


Dinia memanggil. "Kamu di sini aja. Jangan jauh-jauh. Kalau tiba-tiba orangnya buka pintu dan lompat ke sini bahaya," keluh Dinia.


"Kalau mereka datang, harus lewatin aku dulu, Dinia." Taran heran dengan cara berpikir Dinia.


"Jendela! Mereka bisa lewat balkon sana."


"Memang mereka manusia laba-laba?"


"Aku lihat di dalam film banyak yang seperti itu." Dinia berucap kesal.


Taran memutar bola mata. Dibandingkan mereka berdebat dan membuat keadaan semakin buruk, lebih baik Taran mengikuti apa yang Dinia inginkan.


Mereka duduk di sisi tempat tidur. Dinia memegang lengan Taran dengan erat. Lampu dimatikan demi keamanan sehingga ruang gerak pelaku bisa dipersempit.


"Ini bakalan berapa lama?" Dinia sudah tidak sabaran.


"Biar saya keluar untuk bantu."


"Jadilah suami bertanggung jawab, Taran. Kamu masa biarin istri kamu di sini sendiri?" omel Dinia.


"Katanya ingin cepat selasai."

__ADS_1


"Bukan gitu caranya."


Terdengar suara tembakan. Dinia terkaget. Dia memeluk Taran dengan erat. "Aku takut, Taran. Pokoknya kamu jangan pergi. Aku bakalan jadi baik. Aku gak mau mati hari ini." Dinia menangis sesenggukan.


"Anda kenapa jadi penakut begitu. Terakhir ada yang hampir merapok, bahkan Anda santai saja."


Wajah Dinia berubah kesal lagi. "Waktu itu aku cuma pura-pura."


Taran mengangguk. Namun, manusia bisa lelah juga. Mereka sama-sama tertidur. Dinia terlelap dalam pelukan Taran. Sedang punggung Taran bersandar pada headboard tempat tidur.


Tepukan lembut Taran di lengan Dinia semakin membuat wanita itu nyaman. Bahkan telepon yang berdering tidak membuat mereka berdua sadar dari mimpi.


Cahaya mentari masuk melalui gorden. Kelopak mata Taran mulai bergerak. Saat kembali ke kenyataan Taran terkaget. Dia sudah berbaring saling berhadapan dengan Dinia. Tangan wanita itu erat memeluk pinggang Taran.


Perlahan Taran turun membuka lengan Dinia. Kalau perempuan itu bangun, sudah pasti dia akan menyalahkan Taran. Sayangnya, mata Dinia terbuka persis seperti mayat yang bangkit tiba-tiba. Taran terkaget hingga berteriak.


"Kenapa kamu bisa tidur di sini?" tegur Dinia.


"Kamu lupa kalau semalam minta aku temani? Kenapa kamu malah ikut tidur?" Taran tidak ingin disalahkan sendiri.


"Kenapa malah kamu yang marah? Tugas kamu itu lindungi aku. Ikut tidur lagi? Gimana kalau perampoknya masuk sini terus ngapa-ngapain aku?" Dinia berdiri dan pergi ke kamar mandi.


Taran mengusap dada. Dia merasa tenang. Paling tidak Dinia tidak memukulnya saat itu.


"Madi dulu. Ental Ian jelek. No! Ian gak pelenah jelek. Gateng slalu." Ditrian usap rambutnya.


"Mau saya siapkan air hangat?"


"Oke. Ian mau bebek madi. Tulus cabun banak-banak. Badan ian cimutin cabun ya?" pinta Ditrian menunjuk kaki sampai kepala.


"Anda setiap mandi pasti seperti itu."


Ditrian mengangguk. "Mama bulum puang? Pacalan tulus. Bikin emas Ian aja."


"Mungkin maksud Tuan Ditrian cemas?"


"Iya. Apalah. Ian kamal dulu. Mo tepon mama." Ditrian selalu tahu cara menghubungi ibunya. Tinggal tekan lama angka satu. Sedang angka dua nomor Taran.


"Miss, lama balapa dedek bikin?"


Tentu ditanyai begitu membuat pelayannya memerah. "Harusnya semalam sudah jadi."


"Malam? Ian pagil Kakak kalang ya?" titah Ditrian.

__ADS_1


"Kenapa begitu, Tuan?"


"Mama bikin adek," ungkap Ditrian sambil cengengesan.


Pukul sembilan pagi Dinia baru sampai rumah. Ditrian langsung menyambut di depan pintu. Anak itu tersenyum penuh dengan kebahagiaan. "Mama, mana?"


"Apa? Maaf, Mama tidak bawa oleh-oleh," jawab Dinia. Dia sudah mengenakan pakai sebelumnya karena minta petugas hotel untuk laundry.


"Gak apa. Dedek bayi? Papa gedong?" Ditrian mencari Taran, tapi pria itu tidak ada.


"Dedek bayi dari mana? Kamu pikir bisa bawa bayi gitu aja? Harus ada aturannya, Nak," jelas Dinia.


"Papa Mama payah. Lama pegi, dedek gak jadi!" omel Ditrian. Saking kesalnya dia langsung pergi.


Tak lama Sanchez datang. "Apa Nona baik-baik saja? Mendengar laporan dari Taran membuat saya khawatir."


"Ada apa?"


"Ada informasi tentang anak hilang," ungkap Sanchez.


"Kita ke ruanganku saja." Dinia ajak pria itu masuk. Sedang Ditrian pergi ke ruang mainnya.


Dinia duduk di kursi kantor. Dia dengan Sanchez hanya terhalang satu meja. "Perempuan ini, wanita simpanan Pablo Rubey."


"Dia cantik. Kenapa ingin dengan pria menjijikan itu?" tanya Dinia heran.


Sanchez terbatuk. "Nona, cinta kadang kalah dengan realita."


"Benar juga. Pasti karena uang. Jadi dia dan ayahnya sama saja. Keturunan memang tidak bisa dengan mudah beralih ke anak tetangga." Dinia terkekeh.


"Perempuan ini mengandung. Kemungkinan anak Pablo."


"Jadi ayah dan anak juga punya bayi di luar nikah. Kemudian dia mengataiku. Sopan sekali keluarga Rubey." Dinia bertepuk tangan.


"Bayi-bayi itu belum ditemukan. Pablo Rubey sudah pasti tidak akan membiarkan anaknya hidup. Sedang Gustavo, wanita yang dititipi bayi pergi Emertown. Saya jelajahi tempat di sana. Bayi itu sempat berganti tangan. Dan orang yang terakhir menjaga membawa ke New Green."


Dinia terdiam lama. "Bukannya Taran berasal dari sana? Berapa umur Taran sekarang?"


"Dua puluh lima." Sanchez mengingat.


Mereka saling tatap. "Mana mungkin." Dinia terkekeh.


"Taran bukan anak kandung ayahnya, kan?"

__ADS_1


__ADS_2