Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
TAMAT


__ADS_3

"Ini salah satu menu terbaik di restoran kami. Kerangnya dibawa langsung dari Redbay. Disajikan fresh dengan lemon yang segar dan memiliki sedikit rasa madu." Pelayan itu membuka tutup piring makan.


Awalnya semua baik-baik saja bagi Dinia hingga dia melihat bagaimana gumpalan sel itu terlihat seperti sesuatu yang anyir dan menjijikan. Perut Dinia seperti dikocok. Ada rasa asam menyeruak ke dalam kerongkongan, memaksa seisi perut untuk naik. Entah lift semacam apa, karena terus mendobrak pintu pertahanan.


"Maaf, aku izin dulu." Dinia berlarian meski mengenakan high heels.


Taran agak curiga dengan ekspresi istrinya yang tidak biasa. Dia ikut pamit dan mengejar Dinia. Tentu pelayan kebingungan. Dinia terlihat masuk ke dalam toilet wanita. Di sana langkah Taran tertahan. Dia berdiri di pintu.


Tak lama seorang wanita hendak masuk ke sana. "Permisi, Nyonya. Istri saya di dalam. Dia pakai gaun warna hitam. Tolong, bisakah Anda membantu saya melihat apa yang terjadi dengannya?" pinta Taran.


"Tentu. Dengan senang hati." Perempuan itu masuk dan tak lama kembali keluar.


"Apa istri Anda Dinia Kenan?"


"Benar," jawab Taran.


Perempuan itu sedikit memperhatikan wajah Taran. "Dia cukup terkenal. Sepertinya istri Anda sakit. Dia muntah dan terlihat pucat."


"Ya Tuhan, saya mohon bantu dia. Saya pikir tidak bisa masuk ke dalam."


Perempuan itu mengangguk. Taran masih menunggu hingga melihat Dinia dipapah keluar dengan penuh keringat dingin. "Kamu kenapa?" Taran memegang keningnya.


"Lebih baik Anda bawa dia ke dokter," saran perempuan baik yang membantu mereka.


"Baik, Nyonya. Terima kasih banyak sekali lagi." Taran gendong Dinia ke mobil. Dia minta staf mereka untuk mengurus rencana makan malam.


Selama perjalanan, Taran usap rambut Dinia. Dia bawa perempuan itu dalam pelukan. "Pusing sekali, Taran," keluh Dinia dengan suara lemah. Entah ke mana Dinia yang sering berteriak dengan lantang.


Tiba di rumah sakit, Taran langsung menggendong istrinya ke UGD. Staf rumah sakit sempat membawakan stretcher untuk mereka. Namun, gerakan kaki Taran lebih cepat.


"Aku takut axientynya kambuh lagi, Dok." Suara Taran sampai gemetaran.


Dokter periksa keadaan Dinia. Dia malah tersenyum kecil. "Sepertinya tidak. Lebih baik istri Anda melakukan tes urine."


"Memangnya kenapa? Apa dia salah makan."


Dokter tepuk bahu Taran. "Anda yang memberinya makan sesuatu yang salah. Itu tak apa. Normal bagi wanita yang sudah menikah."

__ADS_1


Setelah uji lab, akhirnya Taran tahu kenapa dia jadi bahan tertawaan para staf pribadi dan rumah sakit. "Istri Anda tengah mengandung. Selamat," ucap Dokter kandungan yang kini memeriksa Dinia.


Taran menatap istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang pasien. "Dokter, istriku sampai lemas begitu."


"Ini Karena usia kandungannya masih muda. Tenang saja, nanti saya resepkan vitami dan penguat kandungan. Jangan lupa diimbangi gizi yang baik. Semoga kandungannya sehat selalu, Pak."


Setelah Dokter meninggalkan ruangan, Taran duduk di samping Dinia. Dia pegang tangan perempuan itu. "Maaf."


"Untuk apa?"


"Karena aku tidak hati-hati. Kamu harus hamil. Mungkin itu akan membuat kamu tidak nyaman, mengubah tubuh kamu dan bikin kamu lelah."


Dinia cemberut. "Harusnya kamu senang. Kita mau punya anak ini!" omelnya.


"Aku sayang kamu sampai tidak ingin terluka." Taran mendekatkan wajahnya dengan Dinia. Dia kecup pipi sang istri.


"Aku juga, Taran. Tolong sambut anak kita dengan ceria, ya? Dia juga pasti senang punya ayah terbaik seperti kamu."


Selama masa kehamilan, Dinia tidak pergi kerja. Dia sudah putuskan untuk memenuhi impian sejak dulu, menjadi ibu rumah tangga seperti ibunya, Bia.


"Taran malah ditendang kemarin," timpal Dinia sambil terkekeh. Mereka tengah menikmati segelas teh dan melihat langit yang mulai berubah senja.


"Ditrian kelihatan tidak sabaran ingin adiknya lahir." Bia melihat cucunya yang tengah main di halaman. Hanya cucu dari anak keduanya yang tidak ada karena tinggal jauh dengan mereka.


"Begitu tahu adiknya laki-laki, dia terus bertanya kapan adiknya lahir. Setiap hari ajak ke supermarket. Malah dia yang minta beli baju bayi dan keperluan lainnya."


Ditrian lari mendekati ibunya. "Mama, Ian tedang bola macuk sana! Iyes!" seru Ditrian.


Dinia usap kepala Ditrian. Anak itu kembali ke lapangan. "Perasaan kamu padanya tidak berubah, kan?" Davina penasaran.


"Mana mungkin. Dia teman hidupku. Rasa sayangku padanya seperti mustahil bagi orang lain. Tapi, aku dan Ditrian punya bahasa sendiri untuk menjabarkannya."


Dari kejauhan, para pria datang. Mereka baru selesai bermain game di ruangan khusus. Memang semua lelaki sepertinya tergila-gila dengan hal yang sama.


"Siapa yang menang?" tanya Dinia. Taran duduk di samping istrinya.


"Selalu Kak Divan," jawabnya.

__ADS_1


"Kamu dan Papa sama payahnya." Divan terlihat bangga dengan pencapaian ini.


"Kalau ada Dio, kamu enggak bisa apa-apa." Tentu Dira tahu bagaimana Divan mati-matian untuk mengalahkan adiknya. Hingga akhir dia tetap saja kalah dan kehilangan sebuah mobil mewah.


"Jangan bawa-bawa dia. Yang penting kemampuan diri sendiri," kilah Divan.


Bertahun-tahun berlalu. DW fashion semakin pesat hingga hampir menguasai pasar dunia. Duduk di sofa bersama istrinya, melihat siaran ulang acara penghargaan merk fashion dunia.


"Kamu benar-benar bekerja keras," puji Dinia.


"Smua demi kamu." Taran mendekatkan bibirnya untuk mendapatkan ciuman dari sang istri. Tiba-tiba bibirnya tertahan sesuatu. Saat membuka mata, ada telapak tangan kecil yang menghalangi. "Apa ini?" tanya Taran memegang tangan itu.


"Enggak cum-cum Mama. Puna Dilan!" omel balita kecil dengan wajah marah yang lucu.


"Begitu? Maaf. Papa lupa."


"Ini mamanya Kakak, tahu!" Ditrian tiba-tiba datang dan memeluk Dinia.


"Puna Dilan!" Diran memukul lengan kakaknya. Begitu sang ayah melakukan hal yang sama, giliran Taran yang jadi korban. Anak itu menangis memeluk ibunya. "Enggak mau kacih," rengek Diran.


"Sudah. Katanya kita mau main ke pantai. Lihat mataharinya sudah mau tenggelam." Dinia ajak keluarganya pergi. Mereka berdiri. Diran memegang tangan ibunya sedang Taran menuntun Ditrian.


"Papa, tahun depan, Ditrian akan juara lagi, ya?"


"Pasti. Kalau kamh mau berusaha. Kalau ada yang sulit, Papa bantu," jawab Taran.


"Dilan enggak juala." Diran sedih.


"Soalnya kamu belum sekolah."


"Dilan mau cukula," pinta Diran. Dia pikir masuk sekolah semudah masuk ke dalam wadah cucian hingga pelayannya bingung mencari anak itu. Jadi terakhir sebelum melahirkan Diran, Dinia sempat bertemu dengan kakak kedua yang menjadi musuh bebuyutannya.


Mereka seperti biasa saling ledek. Siapa sangka saat lahir sifatnya mirip sekali dengan Dio. Dinia saja kadang kelimpungan mengasuh Diran. Kadang-kadang kalau sedang kesal, Dinia minta Taran turun jabatan dan berganti posisi menjaga rumah tangga.


"Dilan besal mau beli pantai," ucap anak itu sambil merentangkan tangan.


"Siap uang banyak," saran Ditrian.

__ADS_1


__ADS_2