Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
33. Melantur


__ADS_3

Dinia menimang Ditrian agar tertidur. Taran masih duduk di sana. Pria itu menatap bagaimana Dinia begitu menyayangi Ditrian.


"Menurutku, dia punya hak untuk bertemu dengan ayahnya, Dinia. Meski itu berat buat kamu," saran Taran.


"Ayahnya pergi tidak tahu ke mana. Sudah dicari pun belum juga ketemu," balas Dinia.


"Kamu sama sekali gak ada kontak ayahnya?" Taran penasaran.


Dinia mengangguk. Dinia bingung, apa dia harus jujur pada Taran tentang asal Ditrian sebenarnya. "Dia punya Papa, kan?"


Taran diam cukup lama. "Suatu hari nanti, aku bukan ayahnya lagi."


Kini ada jeda begitu lama di antara mereka berdua. "Taran, kamu mau jadi ayahnya Ditrian selamanya? Kamu mau sayang sama dia?" tanya Dinia.


"Aku selalu sayang pada Ditrian, meski bukan jadi ayahnya." Ponsel Taran berbunyi, pria itu lekas mengangkatnya.


"Ada apa Goul?" tanya Taran.


"Ada orang yang masuk kantor Nona diam-diam," jawab pria itu.


"Bagaimana bisa kamu tahu? Bukannya kamu masih di tempat liburan?" tanya Taran heran.


"CCTVnya terhubung ke HPku. Apa kamu lupa?" balas Goul.


Taran pikir ini keadaan darurat. Dia lekas menelepon pihak keamanan di sana. "Tunggu aku, Dinia. Ada yang harus aku lakukan." Taran meninggalkan kamar Dinia.


Wanita itu menatap lama ke depan pintu. Dinia mengusap dada. "Aku apa jatuh cinta dengannya?" tanya Dinia bingung.


Sementara Taran tiba di kantor. Tempat itu ramai dengan kedatangan anggota kepolisian. "Bagaimana, Pak? Apa yang perlu saya bantu?"


"Anda siapa?"


"Saya Taran Calisto Green, saya suami Dinia Kenan," ungkap Taran.


"Tuan, kami belum mendapatkan pelaku. Hanya kamu sedang memeriksa CCTV berharap bisa menemukan sidik jari pelaku," jelas polisi.


"Apa perlu saya berkoordinasi dengan beberapa pemilik gedung?" Taran tentu harus bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian.


"Untuk saat ini biar CCTV gedung ini yang menjadi sumber data. Untuk selanjutnya, kami akan menghubungi Anda. Biar kami yang menghubungi mereka," jawab polisi.


Taran diminta mengecek apa ada berkas yang hilang. Dia terkaget karena desain milik Dinia tidak ditemukan. "Saya yakin ini ada hubungannya dengan bisnis. Mohon lekas ditemukan karena design itu sangat penting."

__ADS_1


Taran merasa tidak tenang. Dia ingin mengatakan hal ini pada Dinia, tapi tidak ingin melihat perempuan itu sedih.


Setelah semalaman berkutat dengan pemeriksaan, Taran pulang ke rumah. Dinia baru keluar dari kamar. "Bagaimana?"


"Kamu jangan down, ya? Buku design kamu hilang," ungkap Taran.


Dinia terkekeh. "Yang hitam itu?"


"Itu yang akan kamu berikan ke tukang jahit, kan?"


Dinia malah tertawa dengan lepas. "Orang bodoh mana yang melakukan hal itu. Harusnya dia konfirmasi dulu. Itu memang design pakaian, hanya milik perusahaan orang lain. Hasil print dari internet," ungkap Dinia.


"Lalu yang asli?"


"Ada di kamarku," jawab wanita itu. Design adalah sumber perusahaannya. Mana mungkin dia seteledor itu.


"Kalau begitu, aku akan beritahu polisi." Taran hendak mengeluarkan ponsel. "Tidak! Tahan dulu. Kita manfaatkan keadaan ini untuk menakuti lawan."


"Maksud kamu?"


Dinia dekati Taran. Rok baju tidurnya bergerak cantik ke sana-sini.


"Kita akan panggil media seolah benar kehilangan barang berharga. Kita buat lawan merasa menang. Biar saja mereka buat design dan mengklaimnya. Menurutmu apa yang terjadi?" Dinia memiringkan kepalanya ke sisi kanan dan kiri dengan manja.


"Benar. Dia mana tahu kalau design itu hanya referensi. Pasti kalau dicontek, akan mirip dengan yang ada di internet," tambah Dinia. Dia memang sangat cerdas. Sayang, hanya untuk hal licik saja.


Sementara Sanchez duduk di sisi jalan. Dia janjian dengan seseorang yang sudah sangat dia percaya. "Bagaimana?" tanya orang itu. Diberikan sample berisi rambut.


"Ini yang Anda maksud?" tanya pria yang duduk di dalam mobil dan menurunkan kaca jendela benda itu.


"Benar. Apa Gustavo tahu?"


"Tentu tidak. Aku dapatkan ini dari salah satu pelayanannya. Aku pastikan ini valid," ungkap pria itu.


"Terimakasih banyak. Oh iya, ini informasi tentang Nona Dinia yang harus kamu berikan pada Rubey. Terserah kamu akan berikan pada yang mana, sama saja."


"Baik." Pria itu pergi dengan mobilnya. Sanchez kembali ke tempat dia liburan.


Sedang Taran yang kurang tidur akhirnya berbaring siang itu. Dinia pergi ke kantor untuk melihat kondisi di sana. Dia meminta sekretarisnya menghubungi media.


Berdiri di hadapan wartawan di ballroom gedung, Dinia mulai pura-pura menangis. Dia sesenggukkan seolah kehilangan sesuatu yang berakibat sangat fatal.

__ADS_1


"Saya pikir ini terlalu kejam. Sama saja seperti berusaha mematikan bisnis kami. Harusnya lawan bisa bersaing secara fair. Nyatanya cara kotor seperti ini menunjukkan seperti apa kualitas otak mereka." Mata Dinia berapi-api.


"Apa ada yang Anda curigai, Nona?" tanya salah satu wartawan.


"Saya sangat menganggap positif saingan bisnis saya. Tidak satu pun yang saya pikir akan melakukan ini pada saya. Karena itu, saya merasa seperti dikhianati."


Wartawan menatap Dinia iba. "Dia baik sekali," komentar mereka. Karena satu masalah, Dinia mendapatkan dua keuntungan sekaligus.


"Apa Anda benar tidak akan memberitahukan kami benda apa yang hilang, Nona?"


Dinia menggeleng. Tentu dia akan mengatakan. Hanya dia perlu melakukan drama lebih dulu. "Aku takut mengatakannya. Aku hanya seorang perempuan dan ibu. Takutnya mereka menyerang putraku," ucap Dinia.


"Kami akan mendukung Anda! Katakan saja Nona Dinia!"


Benar, itu yang Dinia harapkan. "Buku desainku hilang. Aku tidak punya rekapannya. Aku memang sudah lama mempelajari desain pakaian," jawab Dinia. Dihapus air mata yang menetes di pipi.


"Semoga pelakunya ditemukan, Nona."


"Aku juga tidak bisa mengklaim atas desain itu karena belum aku daftarkan ke lembaga hak cipta. Posisiku benar sangat lemah."


Setelah acara itu, Dinia berjalan menuju ruangan darurat karena kantor pribadi masih dijadikan tempat pengumpulan bukti.


"Minta Sanchez pulang sekarang juga. Bilang padanya akan aku tambahkan gaji lembur," tegas Dinia.


"Baik, Nona." Sekretarisnya langsung menghubungi Sanchez.


Di rumah Taran yang tengah bermimpi, menyebut nama Dinia. Ditrian yang diam-diam masuk kamar duduk di sampingnya sambil cekikikan.


"Dinia, jangan nangis lagi," pinta Taran.


"Papa tidul omong. Apa namanya tuh. Muluntul," seru Ditrian. Anak itu mengusap rambut Taran. "Ental Papa Bestie, Mama agi kelja cali uang."


Taran merasakan geli di kepalanya. Saat dia terbangun, Taran terkaget melihat Ditrian di sana. "Kamu lagi apa? Kenapa malah di sini."


"Papa nangis tulus. Ian kawatil," jawab Ditrian.


"Aku nangis? Gak mungkin," kilah Taran.


"Iya, Papa gini. Dinia. Pagil Mama. Kangen, Papa?" tegur Ditrian.


Kembali Taran kaget. "Ditrian, jangan kamu bilang sama Mama soal itu," pinta Talan.

__ADS_1


"Napa?"


__ADS_2