
"Biar aku aja yang dateng." Taran menawarkan diri.
"Aku mau bahagia, jangan halangi aku." Dinia sudah mandi bersih dan mengenakan parfum. Dia minta pelayan menyiapkan gaun.
"Dinia, kalau di sana kamu pingsan lagi bagaimana. Itu malah membuat Pablo senang." Taran sisir rambut Dinia dengan jemarinya.
"Suamiku, ganti baju sana. Pokoknya kita jangan lewatkan hari ini!" Dinia menegaskan.
Meski ragu, Taran dengarkan ucapan Dinia. Dia lekas pergi ke kamar. Jasnya sudah siap di atas tempat tidur. Taran menarik napas panjang. Satu hal yang dia tahu, Dinia sangat keras kepala. Meski begitu, dia tetap saja wanita lemah yang ingin Taran lindungi.
"Andai aku punya kekuasaan, aku ingin membuat dia tetap di rumah tanpa memikirkan bisnis."
Tak lama Taran keluar. Ditrian tengah main sepeda mengelilingi apartemen. "Kamu gak apa ditinggal Papa?" tanya Taran mendekati putranya itu.
"Ian jadual banak. Good luck!" Dia mengedipkan sebelah mata lalu kembali mengayuh sepeda roda tiga. Anak itu meminta pelayan memegangi rambu-rambu. Tidak punya teman membuat Ditrian mengerjai semua orang yang ada di rumah.
Bukannya tidak mau mengajak anak itu bersosialisasi, tapi Ditrian belum siap masuk sekolah secara usia. Di Livetown, anak di bawah empat tahun hanya boleh dalam pengasuh ibu. Justru ibunya yang disekolahkan orang tua, ayahnya juga.
Umur empat tahun, masuk kelompok main, anak-anak itu mulai bersosialisasi dengan anak lain. Dinia juga bukan ibu-ibu sosialita yang sering nongkrong sambil pamer kemampuan anak.
"Taran, kita pergi sekarang," ajak Dinia.
Taran berbalik, dia terkejut dengan kecantikan istrinya. Mengenakan baju tanpa lengan dan kerah, Dinia terlihat seksi dan menawan.
Taran terbatuk. "Kamu bisa pakai baju yang lebih tertutup, kan?" pinta Taran.
"Gak ada waktu. Nanti kita terlambat pertunjukannya." Dinia menarik lengan Taran. "Ditrian, jaga rumah. Kalau berhasil, Mama belikan jeli buah satu dus," pinta Dinia.
"Baik, Mama. Jaga Papa, bana suka. Ental culikuh," pesan Ditrian.
"Mama terlalu cantik untuk diduakan," timpal Dinia. Dia hendak keluar, tidak lama kembali lagi. "Kamu juga, jaga diri."
Ditrian mengerem sepeda. "Ian mau pecayai. Mama melelehkan Ian."
__ADS_1
"Bukan meremehkan, Mama peduli." Dinia melambai lalu pergi.
Duduk di mobil, perempuan itu terus cekikikan. "Aku bisa bayangkan bagaimana dia akan berakhir. Aku lupa, Tuan Gustavo sedang sakit, kan? Kasian punya anak cuman satu, ngeselin pula." Dinia nyerocos.
"Jangan senang dulu, kalau ekspretasi tidak sesuai, nanti malah kamu yang sakit hati. Bebaskan pikiran dulu," pesan Taran.
"Baik, Sayang." Dinia menyadarkan kepala ke bahu Taran. "Sanchez kenapa tidak jenguk aku?"
"Jadi kamu kangen sama dia?" timpal Taran dengan nada cemburu.
"Kayak kamu dan Ditrian, dia itu bestieku." Dinia beralasan. Taran sentuh pipinya penuh dengan rasa kasih sayang. "Taran, kalau aku mundur jadi pimpinan DW fashion bagaimana? Alasan saja aku sakit mental." Dinia memainkan jemari Taran.
"Tak apa. Kalau memang kamu lebih senang begitu."
"Tapi nanti gajiku gak banyak."
Taran malah tertawa. "Kamu bisa hidup dengan gajiku. Hanya, tidak ada tempat serba VVIP dan makan yang dibuat koki bersertifikat bintang."
Mereka tiba di tempat yang dimaksud. Dinia dan Taran saling bergandengan tangan menuju ballroom perusahaan Rubey. Mereka sempat berpose. Beberapa wartawan mewawancarai, tapi pasangan itu tidak menjawab sekalimat pun. Hanya balasan sapaan yang keluar dari mereka.
Meja Dinia berada paling depan. Baru duduk, dia sudah dihampiri yang punya hajatan. "Saya sangat merasa terhormat karena pimpinan rumah mode terpopuler di Livetown hadir di sini." Pablo menunjukkan ramah-tamahnya.
"Ini sudah kewajibanku yang diundang ke sini. Ngomong-ngomong Tuan Rubey, Anda terlihat lain hari ini. Auranya begitu menyebar. Apa ini rasa percaya diri dengan produk baru Rubey Phi?" Dinia sebenarnya tengah menyindir.
"Anda bisa saja, Nona. Sejak dulu saya begini. Justru Anda, semakin cantik. Tidak heran selama ini saya selalu tertarik dengan Anda." Rubey meraih tangan Dinia, hendak mencium punggung tangan itu.
Tiba-tiba Taran menepis. "Saya pikir lebih baik Anda lekas ke podium, Tuan. Acara akan dimulai," saran Taran.
Pablo menatapnya tajam lalu tersenyum palsu. Dia undur diri. "Katanya jijik, dipegang biasa saja."
"Sekarang kamu semakin berani ungkapin kecemburuan, ya. Aku suka." Dinia menunjukkan wajah manja dan imutnya.
Setelah acara sambutan dari beberapa pihak penting, akhirnya fashion show dimulai. Designer Rubey Phi berdiri di podium memperkenalkan pakaian yang tengah dikenakan model saat melenggang di atas panggung show.
__ADS_1
Semua orang memberikan tepukan tangan. Ada yang langsung mengkritisi. Hingga ujung acara, semua masih baik-baik saja. Tamu berdiri dan pergi ke meja hidangan.
Dinia banyak disapa pebisnis hingga Taran memilih undur diri sejenak. Dia merasa terhalang silaunya Dinia. Taran tidak marah, dia hanya tidak ingin menutupi kilau itu.
Tengah memilih makanan, Taran melihat seorang pria duduk di kursi roda. Taran kenal lelaki itu. Dia membungkuk dan menyapa.
"Ini baru pertama kali aku melihat kamu," ucap Gustavo.
"Saya Taran Green, suami Dinia Kenan."
Gustavo mengangguk paham. "Jadi ini lelaki yang membuat lamaran keluargaku ditolak."
"Saya pikir tidak begitu, saat itu kami bahkan belum bertemu." Taran masih menjawab dengan sopan meski cara Gustavo bicara amat ketus.
"Baiklah. Anggap begitu. Silakan nikmati hidangan ini. Aku yakin tanpa nama Kenan, kamu tidak akan menjadi salah-satu yang terhormat di sini." Pria itu menjalankan kursi roda otomatisnya langsung.
Taran hanya melihat dari jauh. "Dinia benar, pria yang malang. Bahkan dalam keadaan begitu, dia masih sempat menghina orang lain."
Di penutupan, harusnya semua jauh lebih baik. Namun, Pablo mendapatkan kabar tidak mengenakan. "Bagaimana mungkin? Kalau itu plagiat, harusnya Dinia yang mendapatkan tuduhan itu!" Pablo membentak stafnya.
"Kalau kita akui idenya milik DW Fashion, kita akan semakin malu, Pak." Sekretarisnya menolak.
Pablo menggigiti kuku. "Hubungi polisi kepercayaan kita. Minta dia tutupi kasus ini lagi!" titah Pablo.
"Apa yang kamu maksud?" Pablo terkaget melihat keberadaan ayahnya di sana.
Di saat bersamaan, berita mulai tersebar. Bahkan tamu yang hadir di sana. "Bagaimana bisa mereka teledor memilih designer?" Tentu itu jadi bahan gunjingan, padahal acara belum berakhir.
Pablo tidak mau keluar dan memberikan klarifikasi. Dia berdiri di antara dua jurang sambil berpegangan ke tanduk lembu.
"Lihat. Ini fiksi yang seru, kan?" Dinia menunjukkan artikelnya pada Taran.
"Iya. Sayang sekali para tamu digantung. Entah bagaimana bisa dia lepas dari keadaan ini." Taran merasa kagum dengan rencana Dinia.
__ADS_1