Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
41. ini maksudnya?


__ADS_3

Cinta itu hal paling unik di dunia. Ketika dua hati yang awalnya seperti kutub magnet sama dan saling menolak, kemudian salah satu rela berubah. Sehingga menyatu menjadi kisah syahdu dalam nada rindu.


Taran memegang tangan Dinia, menemukan dalamnya tatapan wanita itu. "Tahan sakitnya?" tanya sang lelaki, memastikan Dinia tidak akan kabur dan tetap pada posisi.


"Pelan-pelan."


Taran terkekeh. "Justru kalau pelan, sakitnya makin lama."


"Pilih ekpress saja kalau gitu," balas Dinia.


Taran menuruti naluri yang semakin jelas menuntun tahap-tahap menuju senja saat matahari mulai menghilang di garis cakrawala. Kapal mulai melintas, dipapah oleh cahaya mercusuar.


Terdengar suara klakson panjang, tanda kapal meminta pintu muara dibuka. Deruan ombak menerjang, menghalangi jalan. Namun, kapal tiada kalah. Dia tetap menggunakan tenaga uapnya yang amat kuat dan berlabuh di dalam dengan nyaman.


Ributnya sisi pantai malam itu tak terjamah manusia. Hanya ada bintang laut yang mencari makan, memenuhi perut yang lapar. Air kembali pasang, membasahi daratan yang tidak dia raih di siang hari.


Saat malam ini ada yang kehilangan dan menemukan. Pantai yang sudah terjamah dengan penjamahnya. Pohon bakau di sekitar tak mampu lagi menutupi ke indahan di dalam sana. Hanya satu doa pantai itu, biarlah hanya penjamah itu yang masuk ke sana, tiada yang lain lagi.


Saat dua kelopak mata Taran terbuka, di bawah sana Dinia bernapas dengan kuat. Keringatnya bercucuran. Wanita itu masih cantik meski rambutnya berantakan dan make upnya mulai luntur. Taran mengakhiri dengan hadiah terakhir dan menjatuhkan diri ke samping Dinia.


Lengan kekarnya memeluk Dinia erat, mencium lekukan leher tanda terima kasih atas perjuangan bersama malam ini. "Katanya masih suci, gak punya pengalaman sama perempuan," sindir Dinia dengan suara yang terpenggal-penggal.


"Karena kamu. Kucingku jadi keluar kandang." Taran berbisik mesra di telinga Dinia.


"Terus aku jadi ikannya begitu." Mereka sama-sama tertawa meski lemah. "Aku capek banget, Taran."


"Tidur saja. Aku ngantuk juga."


Hingga pagi tiba, mereka bangun akibat suara Ditrian. Tangan Dinia mengusap mata. Saat dia bangkit, tidak lagi terdengar anak itu menangis.


Taran masih tertidur pulas. Tempat tidur berantakan, pakaian mereka bahkan ada yang nyangkut di lemari televisi. Dinia tekan pipi Taran. "Bangun, Suamiku." Perempuan itu mengecup pipi Taran.


Namun, tangan Taran meraih tubuh Dinia dan mendekapnya. "Mau lagi," pintanya.


"Kamu apa gak kerja. Nanti dimarahi atasan." Dinia cubit pipi Taran.


"Atasanku lagi mesra-mesraan sama suaminya," balas Taran membuat mereka sama-sama tertawa.

__ADS_1


"Gendong aku ke kamar mandi, ya? Rasanya sakit banget. Kamu terlalu kasar tadi."


Taran bangun dengan malas. Dia rapikan rambut yang acak-acakan karena Dinia jambak berkali-kali tadi malam.


Setelah selesai mandi, keduanya baru keluar dari kamar. Meski Taran masih mengenakan pakaian semalam karena bajunya ada di kamar lain. Pelayan saling pandang. Pasalnya ini sudah jam sepuluh pagi, tapi atasannya itu baru terbangun dari tidur.


"Miss, Ditrian ke mana?" tanya Dinia tidak menemukan anaknya di kamar.


"Ikut dengan Tuan Sanchez, Nona. Katanya ingin pergi ke kantor karena yakin Anda di sana," jelas pelayan.


"Kamu gak bilang kalau aku ada di kamar?" Dinia agak terkejut.


"Sudah. Karena Tuan Ditrian mengetuk dan Nona tidak keluar, dia jadi tidak yakin dengan ucapan saya."


Dinia memutar bola mata. Salahnya juga tidak langsung bangun dan mencari anaknya. "Tak apa. Nanti aku akan menyusul. Sarapan sudah siap?"


"Saya akan hangatkan kembali. Tadi sudah disajikan pagi sekali. Anda biasanya tidak pernah terlambat sarapan." Pelayan pamit ke dapur.


Pipi Dinia memerah. "Ini semua karena Taran."


Pasangan itu berangkat ke kantor bersama. Di perjalanan mereka sempat melewati perusahaan milik Rubey. Terjadi aksi demo besar di sana karena kasus plagiat.


"Aku dengar katanya perusahaan Rubey akan melakukan perombakan besar di barisan pimpinan."


Dinia tersenyum kecil. "Sungguh miris, perusahaan keluarga diambil alih orang lain hanya karena keturunan mereka tidak kompeten. Gustavo Rubey pasti malu punya anak seperti Pablo."


Tiba di kantor, Dinia dan Taran saling menuntun. Mereka berdiri di depan lift hingga pintunya terbuka. Saling bertatapan dan tersenyum kecil. "Kalian naik setelah kami," titah Taran.


"Baik, Tuan."


Dinia dan Taran masuk ke dalam lift. Perjalanan ke lantai atas lumayan lama. Begitu pintu tertutup, mereka saling berpelukan. "Ada CCTV," tunjuk Dinia.


"Biar." Taran mencium bibir Dinia dengan panas. Matanya melirik ke arah indikator lantai. Tiba di lantai tempat kantor berada, baru Taran lepaskan.


Mereka sama-sama memperbaiki pakaian. Para penjaga di waktu bersamaan saling menutup mata. Mereka terkejut melihat pemandangan itu.


"Aman?" tanya salah satu berharap tidak melihat pemandangan langka itu.

__ADS_1


Perlahan mereka membuka mata. "Siapa orang gila yang bilang mereka menikah hanya settingan. Itu apa?" Penjaga senior menepuk kepala salah satu bawahannya.


"Biasanya mereka kelihatan dingin." Bawahannya mengilahkan.


Taran melambaikan tangan di tengah ruangan. Mereka harus berpisah mulai dari sini. Sesekali keduanya berbalik saling menatap.


"Bahaya, aku mulai kecanduan lihat dia," batin Taran menepuk kening. Staf di depan pintu membungkuk tanda hormat. Tidak ada yang aneh saat itu. Semua masih normal.


Begitu membuka pintu ruangan, Taran melihat sosok yang sangat dia hormati. "Salam untuk, Chairman," ucap Taran.


"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Dinia? Aku belum menjenguknya." Divan duduk di kursi Taran.


"Sudah masuk kerja seperti biasa. Apa yang terjadi dengan Rubey sepertinya membuat mental Nona sembuh lebih mudah," jelas Taran.


"Soal design itu? Kalian bekerja sangat baik." Divan menyangga dagu dengan kedua tangan. Taran masih berdiri, menunjukkan rasa hormatnya.


"Duduklah. Bukannya kita sudah resmi menjadi kakak dan adik ipar."


Taran masih agak sungkan. "Tentang itu, saya minta maaf. Tapi sungguh, saya sangat mencintai Nona Kenan."


"Benarkah?" Divan terlihat tidak percaya.


"Bagaimana saya harus buktikan, Tuan?"


Divan menegakkan posisi tubuhnya. "Mana yang akan kamu pilih? Dinia atau keluargamu?" Divan memberikan pernyataan yang menjebak.


"Dinia keluarga saya. Ditrian juga. Jadi saya akan pilih keluarga," tegas Taran.


"Lalu dengan keluargamu yang lain?"


"Bukannya saya sudah meninggalkan mereka dan bekerja fi sini."


Divan menggelengkan kepala. "Bukan yang itu. Tapi keluarga kandungmu. Ayah dan ibumu sesungguhnya."


Taran mengalihkan pandangan sejenak. "Mereka tidak pernah anggap saya keluarga. Kenapa saya harus begitu pada mereka?"


Divan terkekeh. "Meski mereka orang berada?"

__ADS_1


"Saya tidak ingin punya memiliki dan berhak atas itu. Sampah tidak akan kembali ke rumah pemiliknya, Tuan." Taran menunjukkan kekerasan hatinya.


__ADS_2