
"Kamu lihat ruangan ini?" Gustavo menunjukkan kantor yang awalnya ditempati Pablo. Tentu Taran pernah ke sini, mengantarkan beberapa berkas penting dari Dinia. Dia tidak pernah menyangka, lelaki yang duduk di sana adalah kakak tirinya.
"Ini akan menjadi milikmu," ucap Gustavo.
"Berapa kali aku bilang, tidak akan pernah mengambil milik orang lain," tegas Taran.
"Sampai kapan aku akan mengalami kerugian karena kebodohan Pablo? Karena itu, aku ingin kamu yang di sini, mengatur semuanya. Kalau perlu, menjadikan perusahaan ini lebih besar daripada Kenan Group." Dari matanya, terlihat jelas Gustavo sangat bersemangat.
"Perlu Anda tahu. Apa yang bisa aku lakukan selama ini atas ide Dinia Kenan, istriku. Dia yang memiliki strategi. Aku hanya mengikuti. Jadi, jangan berharap banyak." Taran bahkan tidak sudi hanya sekadar duduk di sofa tamunya.
"Kamu tidak ingin bertemu dengan ibumu? Aku bisa membawa kamu ke sana," tawar Gustavo.
Taran tersenyum licik. "Entah seperti apa orang tua yang Anda maksud. Karena entah kenapa aku sama sekali tidak menginginkan itu semua. Ibu yang melahirkan aku hanya karena kesalahan dan ayah yang menganggapku aib."
"Tidak. Mana mungkin aku begitu. Kamu lihat—"
"Kalau bukan karena ketidakmampuan Pablo Rubey, seumur hidup Anda tidak akan mencariku. Bahkan kalaupun Anda tahu, Anda hanya ingin menghilangkan aku dari dunia ini. Anda pikir saya tidak tahu apa-apa? Salah!" Taran melihat sepatunya. "Anda bukan keluarga saya."
Beberapa menit setelah itu, seorang staf datang. Dia mengetuk pintu ruangan. "Tuan, ada polisi datang. Mereka ingin mencari Tuan Taran, ungkap staf itu.
Gustavo mengepalkan tangan. Taran merasa lega karena isyaratnya sampai pada keluarga Kenan. "Katakan pada mereka, tidak ada hak mereka mengambil anakku!"
"Baik, Tuan." Staf itu mengangguk. Mereka berusaha menahan polisi di bawah sana.
"Jangan sampai reputasi Anda bertambah buruk hanya karena menyekapku di dalam sini, Pak."
Gustavo terlihat kesal. "Kamu ini memang tidak tahu diuntung! Lebih memilih jadi babu keluarga itu dibandingkan dijadikan raja keluarga sendiri!" bentak Gustavo.
Seberapa keras polisi membawa Taran, tetap Gustavo mengeluarkan banyak cara agar pria itu tetap di sana. Semakin lama, Tarab bosan juga. Meski dulu impiannya bisa rebahan dan diberikan makan enak. Nyatanya dalam keadaan ini sama sekali tidak menyenangkan.
Jauh di sana Pablo menendang meja kerja. "Bagaimana bisa kalian masih biarkan anak itu hidup?" tanya Pablo pada stafnya.
"Di kediaman ayah Anda, penjagaannya ketat, Pak." Alasan staf.
"Kalau aku tidak bisa jadi pewaris, lelaki itu pun tidak! Meski ayahku akan membenciku seumur hidup, aku lebih memilih dia mati! Lakukan secepatnya. Cari orang-orang yang bisa diandalkan melakukan itu semua!" Pablo masih keras kepala. Sebagai anak sah, tentu dia merasa paling berhak memiliki.
__ADS_1
Pablo mengusap kepala. "Tuan, Keluarga Kenan sepertinya ingin sekali Taran Green dikembalikan ke keluarga mereka. Apa perlu kita berikan bantuan? Menurut saya, ini menguntungkan untuk memperbaiki hubungan."
Pablo menaikkan alis. "Apa maksudmu?"
"Selama ini Rubey menolak kerja sama dengan Kenan karena alasan kebencian. Namun, bayangkan apa yang akan Anda dapatkan atas kerjasama. Anda tidak hanya mendapatkan keuntungan, tapi balas dendam pada ayah kandung Anda."
Pablo mengangguk. "Benar, ayahku sangat benci dengan Kenan. Aku tidak punya masalah dengan itu. Lalu Dinia, yang benar saja. Mana mau aku dengan bekas dari anak haram ayahku! Kita lihat bagaimana Gustavo akan hancur saat aku tunduk pada Kenan Grup."
"Lalu bagaimana dengan Taran Green. Apa kita biarkan dia saja?"
Pablo tertawa. "Kalian membuatku jadi bingung. Biarkan aku berpikir dulu."
Sejak dulu kelemahan Pablo hanya satu, dia plin-plan dan tidak bisa membuat keputusan. Stafnya saja sampai merasa gemas dibuat Pablo.
"Pak, sebaiknya ambil keputusan yang cepat sebelum semuanya terlambat."
"Siapa suruh kamu tadi bilang begitu, aku harus menimbangnya dulu!" Pablo bolak-balik di kantornya. "Kamu tahu pria itu ingin harta ayahku atau tidak?"
"Apa perlu saya cari tahu?"
"Artinya orang kita perlu menyusup dan menemui Tuan Taran."
Pablo tatap mereka dengan tajam. "Tentu! Aku harus ada jaminan. Kalau dia tidak mau, habisi!" tegas Pablo.
Stafnya lekas keluar dari ruangan. "Kalau dia mati, aku masuk penjara. Itu bukan hal yang baik juga. Setidaknya aku harus bisa merauk harta ayahku dan tidak membiarkan anak wanita simpanan itu mengambil selembar pun uang!"
Di rumah sakit, Ditrian tengah sibuk. Dia mengisi air ke dalam gelas dan membawa untuk ibunya. "Minum. Mama biang Ian, minum dikit kiliput. Mamana Ian halus cantik," ucap Ditrian.
Dinia mengedipkan mata. "Ditrian, apa Papa tinggalin Mama selamanya?" tanya Dinia.
Ditrian mendengkus. "Napa. Bial aja pegi juga. Mama puna Ian. Bedua lama dulu juga." Ditrian berkacak pinggang sambil mengomel.
"Mama gak berhak bahagia, ya?" Dinia sesenggukan.
"Gitu?" Ditrian naik ke kursi. Anak itu bersedekap dan melotot. "Kalo Ian gak seneng. Suka Papa aja. Ian gak sayang? Mama jahat!" Ditrian palingkan pandangan.
__ADS_1
Mendengar itu Dinia tersadar. Dia lupa bagaimana kebahagiaan itu datang setiap melihat kelucuan putranya itu. "Peluk Mama, please."
"No! Ian gak hagain. Papa agi, tulus aja. Ian kuaciwa!" Ditrian turun dari kursi. Dia lari ke dinding dan menempelkan kening di sana.
"Maaf," ucap Dinia.
Tangan Ditrian terangkat. "Apalah Ian. Jajan tulus, mainan beli mahal. Ian gak kelja agi. Bikin susu sendili, gak bisa. Payah. Papa semua bisa."
Terdiam Dinia. Sejak kemarin dia sedih sendiri tanpa memikirkan perasaan anak kecil itu. Ditrian pasti kesepian. Dia hanya punya Dinia.
"Mama senyum. Lihat Ditrian imut sekali. Kamu diam di situ kayak anak bebek," ucap Dinia.
Ditrian berbalik. "Enggak! Ian milip buluang," protesnya.
"Mana ada beruang gak suka makan ikan?" Dinia berkilah.
Ditrian lari. "Cabut ucapanmu!" tunjuknya.
"Tidak mau." Dinia menutup wajah dengan bantal.
Ditrian naik ke kursi dan ranjang pasien. "Mama, Ian gak bebek!" Anak itu menarik bantal Dinia. Namun, ibunya masih di posisi semula. Tak lama menurunkan bantal dan menggelitiki Ditrian hingga tertawa.
Bia bari datang setelah berganti pakaian. Hendak masuk, dia mendengar suara tawa anak dan cucunya di dalam. Bia mengintip kemudian menutup pintu. Dia biarkan Dinia dan Ditrian menghabiskan waktu berdua.
"Mama? Napa jali ini kasih cincin?" Ditrian menunjuk jari manis ibunya.
"Soalnya jempol kebesaran," jawab Dinia.
"Bukan."
"Terus apa?" Tentu Dinia heran, jawaban apa lagi yang mungkin.
"Kalo kasih uang, Ian aja," balas anak itu.
"Kamu tahu candaan begitu dari mana?" Dinia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1