Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
40. permainan malam


__ADS_3

"Ditrian sudah tidur?" tanya Dinia saat pulang ke rumah dengan wajah sumringah.


"Sudah, Nona. Katanya tidak ingin menunggu yang tidak pasti," jawab pelayan sambil tersenyum mengingat wajah Ditrian yang lucu.


"Biarkan saja. Aku hanya ingin melihat keadaannya." Dinia masuk ke kamar Ditrian bersama Taran. Anak itu tertidur dengan gaya. Tangan kanan di belakang kepala, sedang kiri berkacak pinggang.


Dinia alihkan agar posisinya miring ke arah kanan. Diselimuti dan diusap rambut Ditrian penuh kasih sayang. "Tidur yang nyenyak anakku," ucap Dinia. Terakhir dia kecup kening anak itu.


"Biarkan dia sendiri. Kalau dengar suara kita, pasti dia bangun." Taran berbisik pada istrinya.


Dinia anggukkan kepala. Mereka berjalan ke kamar masing-masing. Mandi di bawah shower, Dinia bernyanyi senang sambil mendengarkan berita tentang Pablo.


"Manusia itu harusnya ngaca! Jangan banyak bertingkah," komentar Dinia di akhir mandinya. Dia berjalan ke luar ruang shower, mengambil handuk untuk menutupi tubuh.


Tak lupa dimatikan televisi di kamar mandi. Dinia mengambil ponsel, ada pesan dari Taran.


[Kamu udah tidur?]


Wanita itu tersenyum licik.


[Kakiku sakit banget.]


Taran membacanya langsung merasa khawatir. Dia simpan handuk di atas kasur.


[Mau aku pijiti?]


Dinia tersenyum licik. Dia mendadak punya ide.


[Sekarang. Aku gak kuat]


Taran yang merasa kasiham lekas pergi dari kamarnya menuju kamar Dinia. Tiba di sana dia ketuk pintu kamar itu.


"Masuk aja," teriak Dinia dari dalam.


Taran buka pintu kamar dan langsung masuk. Dia heran tidak melihat Dinia di ruang tidur. Kamar Dinia memang memiliki beberapa ruangan. Yang langsung menghadap pintu adalah ruang tamu pribadi.


"Dinia, kamu di mana?" panggil Taran. Dia kembali ke ruang tamu dan kaget melihat Dinia berdiri mengenakan handuk.


"Kamu ngapain?" tanya Taran heran.

__ADS_1


"Nunggu kamu datang ke pelukanku," balas Dinia sambil berpose seksi.


"Kalau hanya mau main-main, aku pergi." Taran terbatuk-batuk dan berjalan maju. Dia dorong ke sisi tubuh Dinia dan membuka pintu. Namun, benda itu terkunci rapat.


"Mana kuncinya?" tanya Taran.


"Di sini." Dinia menunjuk bagian dada.


"Jangan macam-macam. Aku ini lelaki." Taran bicara dengan tegas dengan harapan Dinia akan takut.


"Lalu?" Dinia pindah duduk ke sofa. Dia naikkan sebelah kaki di atas kaki lainnya. Bergerak-gerak tubuh Dinia dengan manja.


"Kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, jangan salahkan aku, ya?" Taran kembali memberikan peringatan.


"Aku takut!" Dinia menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Karena itu, buka pintu. Aku mohon."


"Katanya mau mijitin kakiku." Dinia menunjuk kakinya yang mulus. "Ini beneran sakit." Dia menelungkup di atas sofa sambil memeluk bantal sofa itu.


Taran menarik napas panjang. Dia ikuti saja keinginan Dinia. Pria itu duduk di dekat kaki sang istri. "Kaki yang mana?"


"Keduanya. Kayaknya karena high heels." Dinia lagi-lagi bicara dengan nada menantang.


"Kamu gelitikin."


"Gak ngapa-ngapain. Aku cuman pegang kayak biasa." Taran menolak anggapan Dinia. Dia mengangkat kedua tangan.


Dinia bangkit dan duduk bersila. "Kamu itu apa gak punya nafsu? Aku secantik ini." Lengan perempuan itu melingkar di leher Taran. Perlahan dia maju. Tanpa sengaja handuk Dinia melorot. Pria itu lantas menutup mata.


"Kamu pakai baju sana!" titah Taran mendorong istrinya hingga terjungkal.


"Kasar banget!" Dinia pukul Taran dengan kedua tangan. "Aku pake tube dress!" omel wanita itu.


Taran membuka mata perlahan. Rupanya sejak tadi Dinia sengaja mempermainkan. Malah wanita itu tertawa senang seperti baru mendapatkan lotre.


Taran menatap kesal. Dia kembali duduk, meraih lengan Dinia. "Kamu yang minta." Di sana Dinia serasa mengawang. Taran meraih bibirnya, mencium begitu dalam hingga tersisa hening.


Dinia sempat melawan. Ujungnya dia pasrah saja. Bahkan saat Taran menggendongnya ke tempat tidur dengan posisi saling berhadapan dan kedua kaki Dinia melingkarkan di pinggang Taran.

__ADS_1


Begitu Dinia berbaring dengan pasrah, Taran serbu tempat lainnya. Perlahan menurun, membuat Dinia meracau. "Udah. Stop."


Namun tangan wanita itu berkata lain. Seolah dia meminta agar Taran tetap melakukan hal yang sama. Di saat sleting tube dress Dinia menurun, kancing baju Taran mulai terlepas.


"Apa kita harus teruskan?" tanya pria itu menatap Dinia. Suaranya lembut, membuat Dinia hilang kesadaran.


"Iya, please," pinta Dinia.


Permainan itu semakin dalam dimulai. Ketika saatnya tiba, Taran mulai mencari posisinya yang pas. Namun, teriakan Dinia membuat Taran terheran.


"Kamu? Bukannya. Ditrian?"


Ada satu hal yang Dinia lupa. Selama ini Taran tahunya Ditrian anak kandung Dinia. Namun, malam ini Dinia tidak bisa berkilah.


Perempuan itu mengatupkan bibir. "Ini juga rahasia kamu?" Taran bangkit dan terduduk dengan wajah tidak percaya.


"Maaf. Aku cuma gak mau kehilangan dia. Aku mau bilang sama kamu. Tapi, gak ada waktu yang pas. Aku takut, Taran. Takut kasih sayang kamu ke Ditrian berbeda."


Taran memegang kedua pipi Dinia. "Kita saling mencintai, kan? Jadi berhenti meragukan perasaanku. Ke kamu atau Ditrian. Gak akan ada yang berbeda di mataku."


Mereka saling menatap. Dinia tersenyum. "Makasih."


Taran peluk Dinia dengan erat. "Aku yang harusnya bilang makasih. Kamu sudah jadi bagian dari hidupku yang gak pernah jadi sempurna."


Ketika pagi datang, Ditrian bangun dengan ceria. Anak itu turun dari tempat tidur. Dia lari ke kamar Taran mengingatkan ayahnya hari ini janji akan membelikan es krim.


"Papa bulum pulang?" tanya Ditrian heran. Dia mengusap rambut. Anak itu tidak hilang akal. Dia lari ke kamar mandi dan walk in closet. "Papa pegi keja duluan? Ian gak ajak. Sedih Ian. Lapol Mama aja!" Ditrian keluar dari kamar Taran.


Langkah kecilnya menimbulkan bunyi karena benturan sandal kelinci dengan lantai. Sampai di pintu kamar itu, Ditrian tidak bisa membuka. Dia dorong berkali-kali dan hasilnya nihil..


"Mama pegi juga?" Ditrian kecewa. Dia duduk di lantai. "Mama! Jahat, kejam! Ian lapol poici!" tangisnya sambil sesenggukan.


"Tuan muda kenapa?" tanya salah satu pelayan.


"Miss napa tutupin. Bial Mama, Papa pegi tanpa Ian. Cini Ian sindilian. Ia gak keja." Ditrian mengusap wajah yang basah.


"Tuan Muda mandi dulu saja. Biar nanti Goul yang antar ke kantor," saran pelayan. Dia panggil pengasuhnya Ditrian.


Saat anaknya Dinia masuk kembali ke kamar dengan tenang, Pelayan tadi saling berbisik. "Tuan Taran di kamar Nona sejak tadi malam?"

__ADS_1


"Iya, mereka belum keluar juga. Apa perlu kita bangunkan?"


Tentu mereka ragu. Takutnya Dinia malah marah dan mengomeli semuanya. "Pasti Nona akan bangun kalau sudah waktunya."


__ADS_2