
"Papa Bestie, napa galau?" Ditrian duduk di samping Taran yang sejak tadi mendengkus tiada henti. Wajahnya menunjukkan rasa sedih yang mendalah. Ibarat ayam yang tengah flu, Taran tidak bisa berkokok.
"Tuan, Mama Anda marah lagi pada saya." Taran sampai menyandarkan kepala di dinding. Dia ingin kerja seperti biasa, hanya dilarang oleh Dinia. Katanya takut orang curiga. Jadilah Taran kini pengangguran bergaji.
"Baik agi anti. Mama malah bental. Atut kiput." Ditrian hanya bisa mengusap bahu Taran.
"Makasih banyak, Tuan. Anda selalu menghubur saya."
"Gak galatis. Dalagon mana?"
Taran baru ingat kalau dia belum mendapatkan apa yang Ditrian inginkan. "Memang Goul belum carikana untuk Anda?"
"Payah dia! Gak acik. Ian lelah jasinna." Kali ini malah Ditrian yang menyandarkan kepala ke tembok.
"Coba gambarkan seperti apa." Taran berikan kanvas di layar ponsel. Apa yang bisa diharapkan dari gambar anak tiga tahun. Isinya hanya kerumitan hidup.
"Minum dalagon!" Ian menunjuk gambarnya.
"Warnanya apa?" Taran mencoba memancing dengan beberapa clue.
"Cokat."
"Dalagon." Taran kemudian mencoba mengingat minuman yang kalimatnya terdengar hampir sama. "Dalgona?" terka Taran.
"Itu namana?" Ditrian malah baru sadar dia salah sebut.
"Kita beli di cafe dekat kantor. Mau Papa gendong?" Taran mencoba membiasakan diri. Setelah ini, entah sampai kapan Ditrian akan memanggilnya begitu.
Taran tuntun anak itu keluar dari kantor. Ada sepeda listrik yang bisa dipinjam karyawan di sini. Taran bonceng Ditrian dengan menempatkan anak itu di depan.
Dia lupa kalau ada banyak wartawa yang tengah menunggu dia keluar. Pria itu sengaja mengebut dan lekas masuk cafe. Syukur penjaga di sana langsung melakukan pengamanan. Taran bisa selamat saat ini. Entah bagaimana cara dia keluar nanti.
"Miss, saya ingin dalgona coklat. Buatkan yang mirip saja. Untuk anak ini," pinta Taran.
"Saya sarankan Chocolate milk shake, Tuan."
"Apa pun itu. Pokoknya buat mirip. Saya berikan tips yang banyak." Taran menunggu di salah satu meja di sana. Ditrian duduk di samping Taran. Tangannya melambai ke arah orang-orang. "Nanti setelah makan, mau pulang atau ke Mama?"
__ADS_1
"Mama aja. Bulum jam puang. Ian pecat bisa." Ditrian mengetuk jendela. Dia berpose di sana. Orang-orang di luar terlihat gemas dengan anak itu.
"Bahaya, Tuan. Duduk dekat Papa di sini." Taran melambaikan tangan ke arah Ditrian. Balita itu kembali. Di saat bersamaan, minumannya datang. Dalgona fake.
"Enak ini. Ia gak calah pilih," ucapnya.
Andai kalau itu kopi beneran sudah pasti Ditrian menolak. "Makan siang nanti ingin apa?"
"Makan ma Papa, ya?" Ditrian menepuk lengan Taran. Lelaki di depannya mengangguk.
"Makan ayam gimana?"
"Boleh. Ayam paha?"
"No, tidak sehat. Bagian dada dagingnya lebih banyak." Taran memberikan saran.
"Papa, ayam paha enak. Ayam ain enggak!" tolak Ditrian.
"Kalau begitu, daging saja?"
"Kacina sapi belih lehel." Ditrian merasa bersalah.
"Ayam gak ada bayi. Gak kacian." Ian menyeruput minuman. Dia mengeluarkan suara -ah dari mulutnya yang mungil. Sepertinya itu sangat segar dia rasa.
"Ada bayi ayam. Yang kuning itu." Taran mengingatkan kembali.
"Itu bayi tulul," kilah Ditrian.
"Telur itu keluarnya dari ayam." Taran ingin guling-guling rasanya.
"Boong Papa ini. Telul dali mali es." Ditrian tetap tidak mau menerima fakta. Dia persis emak-emak yang salah menyalakan lampu sign motor.
Minuman habis. Taran kembali gendong Ditrian. Dia minta diberi akses lain untuk keluar. Untung di belakang ada pintu khusus untuk staf. Di sana ayah palsu dan anak artifisial itu kabur.
Tiba di kantor, Taran ajak Ditrian ke restoran kantor. Staf di sana menatap Taran. "Aku bilang juga apa. Mana mungkin ada lelaki ganteng seumuran dia masih bujangan. Malah dia ternyata suaminya Bos Dinia." Staf perempuan ada yang mengungkapkan rasa kecewa yang tiada tara.
"Padahal aku udah beli skincare buar glow up supaya bisa deketin dia," timpal yang lain.
__ADS_1
"Gak adil emang dunia ini. Cowok kaya disikut sama cewek cantik. Cowok ganteng disalip cewek sultan."
Sedang Pablo berdiri di pinggir jalan sepi. Tak lama seorang pria datang. Dia memberikan sebuah foto. "Sudah dipastikan perempuan di foto ini mati dua puluh lima tahun lalu. Bayinya juga tidak ditemukan setelah jatuh ke jurang," ungkap pria itu.
"Jadi bisa dipastikan anak tidak sah ayahku itu mati?" Pablo ingin memastikan.
"Benar, Pak. Anda tidak perlu lagi khawatir."
Pablo tertawa puas. "Biar saja ayahku terus mencari anak itu. Aku akan diam-diam mulai merauk hartanya. Aku tidak boleh kehilangan apa yang jadi hakku!" Pablo memukul kap mobil. Untung itu mobil mahal dan tinjauannya lemah, jadi tidak ada lecet sama sekali.
"Sekarang tinggal Dinia. Aku ingin kamu lakukan banyak cara untuk singkirkan pria itu!"
"Tapi, Tuan. Dia menantu keluarga Kenan. Kalau sampai ketahuan, Rubey bisa dihancurkan." Staf itu terlihat ketakutan.
"Jangan sampai ketahuan dong? Apa gunanya otakmu itu?" Pablo menoyoe kening bawahannya.
"Belakang orang yang mengawasinya sangat ketat, Tuan. Bahkan seluruh informasi tentangnya langsung hilang seperti ditelan bumi. Keluarganya pun tidak jelas di mana. Kelihatannya Nona Dinia tidak ingin masa lalu pria itu ketahuan publik."
Pablo tertawa. "Ada alasan kenapa masa lalu ditutupi, menyakitkan dan memalukan. Kira-kira yang mana? Mungkin bisa kita manfaatkan."
"Jadi saya harus apa sekarang?"
Pablo menarik kerah kemeja staf itu. "Tiduran! Tentu carikan aku cara. Dinia hanya pantas untukku!" Pablo dorong stafnya hingga jatuh.
Rupanya Pablo kurang berhati-hati. Sikapnya yang seperti itu membuat bawahan tidak nyaman dan akhirnya berkhianat.
"Jadi Gustavo Rubey punya anak di luar nikah?" Dinia tertawa. Pria itu yang membuat satu Livetown menghujat Dinia. Rupanya di sana saja. Lebih parahnya pria itu punya istri, ibunya Pablo.
"Anak itu sudah meninggal." Sanchez memberikan penjelasan kalau tidaj ada lagi yang bisa diharapkan dari kasus ini.
"Lalu? Justru itu lebih dramatis. Gustavo Rubey membuat bayi hasil hubungan gelapnya meninggal. Orang menghujat dia tidak akan setengah-setengah. Setelah itu, aku tinggal muncul. Setidaknya Dinia yang baik hati dan Taran Green mau bertanggung jawab atas anak mereka." Dinia paling pandai menirukan suara netizen.
"Tidak semudah itu, Nona. Harus banyak bukti yang dikumpulkan. Termasuk kalau Gustavo terlibat dalam kecelakaan itu. Masalahnya Gustavo mencari anak itu karena menganggap Pablo sudah tidak bisa diharapkan. Sementara beliau sudah tidak bisa punya anak karena kecelakaan dulu." Sanchez menambah penjelasan.
"Pelik sekali hidup dia. Makanya aku malas percaya dengan laki-laki." Dinia berkacak pinggang.
Sanchez terbatuk. "Nona, saya juga laki-laki."
__ADS_1
πππ