
Kabar meninggalnya Gustavo Rubey santer di seluruh masyarakat Livetown. Tentu Taran pun tahu. Dia berdiri di depan jendela kamar dengan handuk yang melingkar di pinggang.
Dinia terbangun saat mengusap ke tempat tidur, tidak ditemukan suaminya di sana. Dia duduk menutupi tubuh dengan selimut. "Taran, kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Dinia.
"Aku tidak ngantuk," jawab Taran dengan lemas.
"Ada masalah?" Dinia bangun. Dia hampiri suaminya dan memeluk dari belakang.
"Gustavo meninggal," jawab pria itu.
"Kamu mau melayatnya?"
"Aku tidak punya hak." Taran menunduk.
"Tentu punya. Walau kamu tidak datang sebagai anak. Kamu bisa datang sebagai tamu." Dinia memberikan saran.
Taran masih ragu, teringat bagaimana ayahnya memperlihatkan tatapan kebencian. "Kamu yakin? Aku malah takut dia tidak mau melihatku."
"Ketika orang mati, dia sadar kesalahan dirinya," ucap Dinia.
Pagi itu mereka sudah bersiap mengenakan pakaian serba hitam. Ternyata Dinia dan seluruh keluarga Kenan pun mendapat undangan untuk hadir di rumah duka. Semua diurus staf Gustavo. Pablo sepertinya baru tahu, jadi dia baru bisa kembali dari pelarian.
Karangan bunga menghiasi halaman rumah. Kolega datang membawa ucapan bela sungkawa. Kini Gustavo benar-benar tidak bisa membawa semua yang dia miliki. Justru dia berpulang dengan rasa sepi. Tidak ada anak yang memegang tangannya dengan erat.
Dinia turun dari mobil sambil saling berpegangan tangan dengan Taran. Mereka tentu jadi bahan perhatian karena status Taran. "Bagaimana perasaan Anda kehilangan mertua, Nona Kenan?" tanya salah satu wartawan. Dinia tidak menjawab. Dia dan Taran sama-sama diam hingga masuk ke dalam.
Tiba di sana, mereka bertemu dengan istri Gustavo. Perempuan itu begitu tajam menatap Taran. Dia berdiri dan menghampiri anak tirinya itu. "Itu semua karena kamu! Dasar pembawa sial! Harusnya kamu enggak pernah lahir dan merebut semua dari anakku!" Wanita itu berusaha untuk menarik kerah jas Taran, tapi ditahan oleh ajudan Dinia.
"Sopan sedikit. Dia menantu keluarga Kenan!" bental Dinia.
"Urusannya denganku apa? Anak ini hasil hubungan haram. Ibumu perempuan murahan! Semua tidak akan berubah begitu mudah, meski kamu masuk ke keluarga manapun!" Terus saja dia mengatai Taran.
"Jangan pernah menyalahkan kesalahan kamu dan suamimu pada orang lain! Semua murni kebodohan kalian sendiri. Satu lagi, tidak ada yang Taran rebut, secuilpun. Harusnya Anda sadar diri, Nyonya!"
Karena kesal dengan keadaan ini, Dinia ajak Taran pulang saja setelah pria itu menyimpan buket bunga di atas peti mati ayahnya. Namun, isri Gustavo mengambil buket itu dan membuangnya begitu saja.
"Ambil saja! Kalian malah buat kotor." Semua orang di sana berbisik. Bukan iba dengan Dinia, hanya tidak habis pikir dengan kelakuan istri Gustavo. Mengingat mereka sangat menghormati Kenan.
Dalam perjalanan pulang, Dinia pegang tangan Taran. Suasana memang agak hening. "Ternyata seperti itu perempuan yang membunuh ibuku."
__ADS_1
"Itu bentuk pertahanan dirinya. Dia hanya seorang ibu yang melindungi anaknya. Tanpa dia sadari ada anak lain yang terluka."
"Aku tahu tentang itu. Banyak yang disalahkan dalam hal ini. Kita kubur jauh-jauh saja." Taran usap rambut istrinya.
Tiba di rumah, mereka bersiap untuk berangkat kerja. Pakaian sudah disiapkan pelayan yang memang sudah mendapatkan daftar dari stylist terkemuka.
"Dali mana?" tanya Ditrian menghadang kedua orang tuanya di depan pintu.
"Ayahnya Papa Taran meninggal. Jadi kami harus melayat," jawab Dinia.
"Jadi hantu gak?" tanya Ditrian sambil bergidik.
"Tentu tidak. Hantu itu tidak ada." Taran gendong Ditrian dan mencium pipinya.
"Ada. Ian bobo dengel sulanya. Sakit, aw gitu."
Taran dan Dinia saling tatap. "Kapan?"
"Malam tadi."
"Kamu main dulu. Papa mau siap-siap ke kantor." Taran kembali turunkan anak itu.
"Buat apa aku bohong! Kata developernya begitu. Gedung ini milik keluarga Kenan." Dinia mendengkus.
"Terus Ditrian dengar apa? Tadi malam kita berdua, kan."
Perdebatan itu harus diakhiri. Dinia dan Taran lekas pergi ke kantor. Kali ini, Taran lagi-lagi melihat pria mencurigakan. Bedanya dia ada di luar gerbang gedung.
"Hentikan mobilnya!" titah Taran. "Kejar orang itu sekalian." Dia menunjuk pria yang mengenakan topi hitam.
Seluruh bodyguard langsung turun dan berlari mengejar pria itu. Meski pelaku lebih dulu kabur, mereka tidak bisa menyaingi cepatnya gerakan penjaga keluarga Kenan.
Dia diringkus dengan mudah dan dibawa ke depan Taran. "Siapa?" tanya Dinia bingung.
"Sejak lama aku memperhatikannya. Dia sering melihat kita dari luar." Taran turun dari mobil. Sedang Dinia memeluk Ditrian.
"Mama, takut, Ian. Olang nakal itu, ya?" tanya Ditrian dengan wajah pucat.
"Ada Papa. Kamu santai saja, ya?" nasihat Dinia.
__ADS_1
Sedang Taran interogasi orang itu di luar. "Siapa kamu?"
"Bukan siapa-siapa, Pak. Saya tidak berniat jahat," ucap orang itu dengan wajah ketakutan. Dari ekspresinya jelas dia bukan orang yang berbahaya. Namun, tetap Taran harus waspada.
"Panggil polisi. Laporkan kalau dia menguntit," tegas Taran.
"Tidak, Pak. Saya hanya ingin melihat keponakan saya." Ungkap pria itu.
"Keponakan? Siapa?" Taran terkaget.
Dia menunjuk ke dalam mobil. "Ditrian?" terka Taran.
Orang itu dibawa ke dalam kantor Dinia setelah diperiksa dan dipastikan tidak membawa sajam.
"Adikku meninggal setelah melahirkan. Suaminya, ayah anak itu tidak punya pekerjaan. Untuk makan saja susah. Dia berjuang berharap bisa membawa anaknya kembali, tapi gagal. Dia bunuh diri dua tahun lalu." Cerita pria itu.
Dinia dan Taran terlihat sedih. Entah bagaimana bilang pada Ditrian kalau orang tua kandungnya sudah tiada. "Aku hanya ingin memastikan bayi itu baik-baik saja." Pria itu menangis. "Aku menyesal tidak bisa membantu mereka."
"Ditrian baik. Katakan pada adikmu. Tidak perlu khawatir. Terimakasih sudah mau menjaganya selama ini, walau dari jauh," ucap Dinia.
Sore itu sepulang dari kantor, Dinia dan Taran meminta diantar ke makan kedua orang tua Ditrian. Keduanya dikremasi dan disimpan di satu tempat yang sama karena mahalnya biaya tanah pemakaman.
"Ditrian mirip ibunya," ucap Taran menatap kedua foto itu.
Ada rasa sesak yang tidak bisa Dinia jelaskan. Menyadari kalau anaknya tidak lahir dari rahim sendiri. Dinia memeluk Taran yang ada dalam pelukannya semakin erat.
"Mama, capa ini?" tanya Ditrian terheran.
Dinia masih kelu. Dia hanya diam sambil tersenyum tipis yang tidak bisa diartikan.
"Ayah dan ibu kamu," jawab Taran, membuat Dinia terkaget.
Taran usap punggung istrinya. "Lebih baik dia tahu sekarang. Karena dibohongi itu akan membuat kamu kecewa pada seluruh dunia," jelas Taran.
"Ini Mama, Papa. Bukan itu." Ditrian tentu tidak menerima.
"Ditrian punya dua ibu dan ayah. Ini yang melahirkan Ditrian. Mama yang asuh sampai besar dan lucu begini. Ini Papa yang jaga kamu sampai bayi. Dan ini Papa yang jaga kamu selamanya." Dinia menunjuk Taran.
-tinggal 1 chapter lagi ya-
__ADS_1