
Jalan yang lurus dengan dikerumuni lapangan hijau yang luas. Nisan-nisan berdiri dengan rapi. Beberapa di sana tidak memiliki nama. Pemakaman ini milik negara, orang-orang tertentu saja yang bisa tidur dalam kedamaiannya di sini. Dari masyarakat yang tidak mampu membeli lahan hingga orang-orang yang terbuang dan jenazah tanpa identitas.
"Ke sini." Seorang penjaga menuntun jalan pasangan suami-istri dan anak lelaki mereka. Hingga hampir di ujung jalan. "Ini dia. Belasan tahun lalu setelah kami menemukan namanya, langsung kami nama."
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Taran.
Penjaga langsung meninggalkan mereka di sana. Taran duduk berjongkok di depan nisan makam seorang perempuan. Dia mungkin pernah melihat wajah perempuan itu, hanya karena terlalu muda dan sangat lama, Taran lupa seperti apa bentuknya. Dia hanya tahu cara memanggil perempuan itu.
"Mama." Satu kata yang mampu membuat mata Taran memerah.
Dinia dan Ditrian menatap dengan sedikit jarak. Mereka ingin memberikan Taran waktu untuk bisa mencurahkan perasaannya sendiri.
"Aku sudah punya istri dan anak. Lihat, Ma. Dia lucu." Taran memegang tangan Ditrian.
"Ucapkan halo ke nenek," pinta Dinia.
"Hai, Nenek. Aku anak gateng." Ditrian melambaikan tangan.
"Iya. Kalau cantik sudah pasti Mama." Dinia menimpali.
"Mama lihat? Mereka selalu buat aku tertawa. Jadi aku gak kesepian dan sedih. Aku bersyukur jadi diriku. Ini pertama kali aku ke sini. Maaf, aku hanya berikan bunga."
Angin meniup rambut Taran. Pria itu berdiri. "Ayo kita pulang aja."
"Kenapa hanya sebentar?" Dinia terharan.
Taran hanya menggelengkan kepala. Keduanya kembali menuntun Ditrian ke gerbang makam. "Bingung aku harus bilang apa. Mungkin karena terlalu banyak yang dibahas. Lebih dari itu, rasanya kesal saja."
"Atas?" Dinia ingin tahu apa yang ada di benak suaminya.
"Jadi bertanya-tanya, kenapa ibuku harus pergi." Taran terkekeh.
"Papa ingus itu!" Ditrian menunjuk hidung Taran.
"Bukan. Air mata. Cuman netes ke hidung," kilah Taran tak terima.
"Ngaku aja, gak boong. Ingus lap, gak malu-malu. Ingus lawan kuman. Kata Om Goul biang. Ian pecaya Om. Dia ototan." Ditrian menceramahi.
"Hubungannya apa dengan kepercayaan?" Dinia terheran.
"Olang ototan hebat! Kelen." Ditrian menepuk lengannya.
__ADS_1
"Papa juga berotot. Mau lihat?"
Ditrian menggelengkan kepala. "Papa gak hebat. Sombong. Enggak pamel tauk!"
Dari pemakaman, mobil mereka menuju rumah kediaman keluarga Kenan. Taran turun untuk menemui mertuanya meski hati sudah berdebar tak karuan.
"Mereka baik. Kamu enggak usah samain sifat mereka sama aku. Soalnya aku bawa sifat buruk mereka berdua." Dinia mengusap bagian belakang kepalanya.
Taran memberanikan diri. Langkah mereka membawa hingga ke ruang tamu megah dengan desain klasik minimalis. Yang minimal tampilan, tapi luasnya luar biasa maksimal. Bahkan satu sofa bisa memuat lebih dari lima orang.
"Akhirnya kalian datang ke sini." Bia turun dari lantai atas untuk menemui anak dan menantunya.
"Nenek!" seru Ditrian memeluk neneknya dengan erat.
"Kamu sudah makan?"
"Bulum. Ian bialin lapal."
"Kebiasaan kamu! Udah habis dua piring tadi pagi," kilah Dinia.
"Bocol Mama!" Ditrian menunjuk ibunya.
Pelayan mengangguk. Mereka sudah paham apa yang dimaksud atasannya itu.
"Papa ke mana?" tanya Dinia penasaran karena tidak melihat ayahnya.
"Biasa, duduk di depam piano berjam-jam. Dia bikin banyak lagu, tapi gak dirilis. Katanya biar nanti saja dibuat kenang-kenangan keluarga," jawab Bia.
Panjang umur, Dira datang dan duduk di samping istrinya. "Tumben kamu ke sini?"
"Memangnya gak boleh?"
"Perlu kamu tahu, sudah biasa berdua itu agak sulit kalau terganggu." Dira pura-pura batuk. Disikut lengannya oleh sang istri.
"Pa, aku gak mau punya adik!" Dinia langsung mengancam.
Taran yang bingung harus berkata apa, mengingat keluarga Dinia agak lain. "Siang, Papa dan Mama." Bahkan bibirnya kaku saat mengatakan itu.
"Siang juga. Kamu sehat, Taran? Tidak perlu selalu turuti keinginan Dinia. Kalau ngamuk, tinggalkan saja. Nanti juga baik lagi." Dira langsung membongkar kekurangan anaknya.
"Harusnya kamu di sisiku, Pa!" Dinia memang menyesal membawa Taran ke sini.
__ADS_1
"Begini, Pa. Aku ingin bawa Dinia ke New Green. Ayahku sudah kembali tinggal di sana. Beliau pasti senang melihat menantunya."
"Tentu. Bawa saja. Itu lebih baik." Dira langsung setuju.
"Aku kadang lupa kalau aku ini anakmu, Pa." Kalau anak perempuan lain sudah pasti kabur, depresi dan kacau karena merasa tidak diperhatikan. Anehnya Dinia tahan dengan sifat ayahnya itu. Dia malah kena mental karena sahabat tidak tahu diri.
"Bagaimana keadaan ayahmu, Taran?" Bia mengeluarkan pertanyaan.
"Baik, Ma."
"Aku dengar, dia masuk ICU."
"Itu, aku tidak tahu. Maksudku, terakhir dia menolakku datang." Taran menunduk.
"Semua ayah di dunia ini memang begitu, Taran. Bukan artinya tidak sayang. Mereka hanya ingin mempertahankan ego, karena merasa keputusannya paling benar. Aku dulu pernah diusir dari rumah sampai tak punya uang. Ujungnya kami berbaikan dan saling terbuka." Dira mengungkapkan perjalanan hidupnya.
"Itu karena Papa yang salah. Taran lain." Dinia punya cela untuk membalas ayahnya.
"Kenapa kamu lahirkan dia dulu?" Dira melirik istrinya.
"Sudah pasti karena kamu menempel terus pada Mama. Mana mungkin karena makan kacang tanah!" Dinia rasanya tak berhenti mengumpat. Kesalnya, baik ayah dan kedua kakak laki-lakinya memiliki sifat yang sama. Tidak heran kalau Dinia harus pandai silat lidah.
"Hati-hati di jalan. Sampaikan salam kami pada ayahmu. Dinia, kamu harus hormat dengan ayah mertua. Bagaimanapun, beliau orang yang membesarkan Taran," nasihat Bia.
"Tentu, Ma." Dinia kalau bicara dengan ibunya bisa menjadi orang normal.
Sebelum pergi, mereka putuskan makan siang bersama di halaman belakang. Ditrian yang sudah mengisi perut lebih dulu, main dengan kelinci peliharaan neneknya.
"Kalau memang ingin punya anak, program saja. Lagipula Ditrian tidak ada teman lain. Di usia kurang dari enam, agak kurang baik kalau fullday. Dia harus banyak habiskan waktu dengan kalian," saran Bia.
"Kami belum bilang sama dia. Ditrian memang sudah mandiri dalam banyak hal, tapi tahu sendiri bagaimana dia masih terpusat ke diri sendiri." Dinia mendengkus.
"Normalnya di usia sekarang begitu. Kembali lagi pada kalian. Pertimbangkan matang-matang. Karena membesarkan anak, tanggunh jawab seumur hidup. Kalau sudah siap, maju."
"Makasih, Ma," ucap Taran.
"Kalau tiba-tiba di luar rencana, siapkan diri segera. Anak tidak bisa menunggu orang tuanya jadi dewasa. Sejak lahir, harus sudah diperhatikan." Dira mengambil gelas jusnya.
"Jangan seperti Mama dan Papa saat membesarkan Divan, ya?"
Dira dan Bia langsung tersedak.
__ADS_1