
Seorang wanita datang ke kantor polisi untuk mengungkapkan kebenaran atas bayi yang dia asuh selama ini. Beberapa wartawan sudah dihubungi untuk mengungkapkan proses itu.
"Bayi perempuan ini putri kandung Pablo Rubey. Saya menuntut pria itu mau melakukan tes DNA dan bertanggung jawab serta memberikan ganti rugi kepada teman saya, ibu dari anak ini yang telah meninggal," tegas perempuan itu.
"Kenapa baru muncul sekarang, Nyonya?" tanya salah satu wartawan.
"Selama ini saya mendapatkan ancaman, bayi ini juga. Bayangkan saja, seorang ayah ingin menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Sekarang saya dengar nama Rubey mulai hancur karena perilaku mereka sendiri. Saya berani bicara di depan publik, jika suatu hari saya menghilang dan tidak bernyawa, kalian semua pasti tahu siapa pelakunya," tegas perempuan itu sambil menunjuk ke arah kamera.
Berita itu sampai di telinga warganet.
[Bukannya ini lucu? Kenapa pengusaha punya anak di luar nikah?]
[Bahkan anaknya sama seperti ayahnya]
[Bahkan hubungan anak di luar nikah Gustavo Rubet dengan Dinia Kenan juga karena kecelakaan. Sungguh.]
[Sampai kapan kita harus menonton drama ini? Rubey sungguh membuat tahun ini sangat menyenangkan]
Pimpinan perusahaan Rubey melakukan rapat luar biasa. Gustavo terpaksa hadir meski kondisi kesehatannya tidak baik.
"Saya minta Anda dan putra Anda mundur serta berikan pernyataan pada publik agar konsumen tidak lari hanya karena skandal kalian berdua," tegas komisaris.
"Lebih baik Anda jual saham dan menanam modal di perusahaan lain. Selama nama Anda masih menjadi pemilik, kita tidak bisa melakukan apa pun." Direktur perencanaan terus memberikan tekanan.
Gustavo menepuk tangan. "Kalian bahkan sekarang melawanku."
"Ini kesalahan pribadi, kenapa kamu harus menanggungnya. Kalau kalian tidak ingin mundur, lebih baik kami menarik investasi, termasuk menjual saham kami semua."
Gustavo mengusap tengkuk yang semakin berat. "Aku akan cari solusi."
"Solusi atas apa? Posisi Anda saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Belum lagi kerugian perusahaan yang harus Anda bayar."
Gustavo tentu saja dalam keadaan bimbang. Menjual aset pun bukan hal yang mudah.
"Pak, jika Anda ingin menjual saham, saya kenal dengan seorang investor yang bisa membelinya dalam waktu dekat. Kebetulan dia sedang mencari tempat untuk menginvestisikan uang." Salah satu direktur yang ada di pihak Dinia mulai mencoba menipu Gustavo.
Sebagai pewaris utama keluarga ini, Gustavo tentu merasa sedih akibat harus terpuruk. Meski dia tetap memiliki aset, tapi perusahaan ini adalah titipan dari ayahnya.
"Tolong hubungkan aku dengan dia." Akhirnya Gustavo menyerah. Dia tidak bisa bertahan dengan harga saham perusahaan yang terus merosot. Dibandingkan pailit hingga dikuasai bank.
__ADS_1
Pulang ke rumah, Gustavo tak bisa menahan amarah. "Cari Pablo dan seret ke sini. Anak haram itu pun! Mereka harus sama-sama hancur denganku!"
Mendengar bocoran tentang rencana Gustavo, membuat Pablo ketakutan. Sedang keluarga Kenan memperketat keamanan. Polisi mulai gencar memberikan panggilan untuk Gustavo. Dengan keterangan sakit, pria itu masih bisa berkelit.
Taran berdiri di balkon apartemen. "Dia gila? Bagaimana bisa menyuruh orang membunuh anak-anaknya sendiri?" Goul nyerocos akibat kejadian ini sungguh di luar nalarnya.
"Ternyata jadi anak orang kaya tidak selamanya enak, kan?" Taran tepuk bahu pria itu.
"Kalau aku jadi kamu, sudah kulenyapkan tua bangka itu lebih dulu." Goul semakin menjadi.
"Sama gilanya kalau begitu." Taran masuk ke dalam rumah. Kepala Ditrian menyembul dari pintu balkon. Dia melambaikan tangan. "Ada apa, Anakku?" Taran mengulurkan tangan. Ditrian berlari memeluk ayahnya.
"Papa, Ian mo ipet. Gak bisa." Dia terlihat kebingungan.
"Tuan muda mau ayped?" terka Goul.
Ditrian menggelengkan kepala. "Goul payah!" ledek anak itu.
"Dia ingin membuat origami," jelas Taran.
"Maaf, aku punya anak aja enggak."
Taran bawa Ditrian ke ruang main anak itu. Mereka duduk di meja belajar Ditrian. "Ini keletasna, Pa. Ian bikin tadi ini."
Dibandingkan origami, ini lebih mirip kertas remas. "Kamu mau bikin bentuk apa?"
"Naga." Ditrian menirukan gerakan binatang fiksi itu.
Taran mencoba browsing melalui internet dan mengikuti langkah pembuatan. "Ikutin citu. Ian bisa uga."
"Ya sudah kamu coba sendiri," tantang Taran.
Ditrian nyengir ke arah Papanya. "Oke, Ian akui Papa hebat." Dia menunjukkan jempol.
Goul mengetuk pintu rumah. Taran izinkan dia masuk. "Taran, aku pergi duluan. Ada staf lain yang menjaga. Besok wartawan datang untuk wawancara," pamit Goul.
"Hati-hati di jalan," pesan Taran.
Kini tinggal dia dan Ditrian di kamar itu tengah main dengan gunting, lem dan kertas. Naga selesai, Taran berikan pada putranya. "Gimana?"
__ADS_1
"Bagus kali. Ini Papa hebatan. Ian kacih cium cini." Ditrian mengulurkan tangan.
Taran dekatkan pipinya. Ditrian kecup dengan gemas. "Gak usah ditekan gitu kepala Papa," tolak Taran.
"Mama ucek-ucek cium mau aja," ledek Ditrian.
"Kata siapa itu?" tegur Taran. Perasaan dia sudah sangat hati-hati dengan tidak berdekatan Dinia saat ada Ditrian.
"Ian dengel."
"Denger di mana? Kamar Mama dan Papa kedap suara." Taran mencoba menghaluskan suaranya agar Ditrian tidak merasa terancam.
"Miss oblolin dapul cana."
Jadilan saat Dinia pulang, Taran mengadu tentang suara-suara tidak enak yang Ditrian dengar. "Anak itu memang. Kenapa dia harus suka kepo dengar orang dewasa menggosip?"
"Artinya pengasuh dia tidak mengawasi dengan baik atau pelayan sengaja bicara di depannya." Taran mencari kemungkinan yang pas.
"Kalau begitu, aku akan tegur pengasuhnya. Tapi, selama kamu sembunyi di rumah artinya kamu bisa tunggui dia, kan?"
"Iya. Terus kamu mau menunggu sampai aku kembali kerja?" Taran bersedekap.
Dinia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Kamu tegur saja. Kepala rumah tangga di sini kamu."
"Nanti aku dibilang memanfaatkan istri yang kaya."
"Halah! Mereka hanya iri. Lagian pelayan di sini kalau kamu yang ajal bicara mendengarkan dengan betah akibat senang melihat ketampanan Tuan Taran." Dinia malah bercanda. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Taran ikut melepas pakaian. Dia masuk ke kamar mandi dan memeluk Dinia dari belakang. Tentu Dinia agak kaget merasakan ciuman di bahunya. "Kamu nakal!"
"Aku belum mandi," alasan Taran.
"Kenapa nunggu aku? Kangen, ya?" Dinia berbalik. Pasangan itu saling memeluk dan berciuman.
"Ditrian udah tidur?"
"Kalau belum, aku enggak akan masuk ke sini," bisik Taran.
Selesai mandi, mereka bukannya berpakaian, malah melanjutkan ronde kedua di atas tempat tidur. Dinia pasrah saja Taran meraih kenikmatan dunia darinya.
__ADS_1
Malam berlalu dengan cepat. Saat terbangun, Dinia mendapatkan panggilan telepon. Pria itu salah satu direktur perusahaan Rubey. "Apa ini kabar menggembirakan?" pikir Dinia.