Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
49. Marah


__ADS_3

"Dia perempuan desa yang pergi ke kota, berharap bisa memperbaiki nasib. Dengan wajah cantik dan tubuh indah, dia direkrut menjadi model. Harusnya jalan bisa lebih mudah, tapi orang tidak bertanggungjawab menjualnya pada Gustavo Rubey.


Terpaksa menjadi simpanan hingga mengandung kamu. Begitu istri Gustavo tahu, ibu kamu dikejar-kejar pembunuh bayaran. Dia berusaha untuk bisa pergi, melahirkan dan membesarkan kamu. Sayangnya, dia hanya bisa berusaha sejauh ini."


Saat menceritakan itu, Sanchez terdengar lirih hingga Taran meneteskan air mata. "Dia sayang dengan kamu, walau bukan anak yang diinginkan."


Tangan Taran meremas kain celana drillnya. "Artinya aku tidak salah benci pada keluarga Rubey. Karena mereka ibuku kehilangan masa depan dan nyawa!" Taran berapi-api.


"Apa kamu akan membiarkan itu semua?" Sanchez pikir Taran harus punya tujuan hidup.


Mata Taran menghadap ke arah Sanchez. "Menurut kamu, apa balas dendam paling menyakitkan."


"Selama mereka hidup mewah, tidak akan pernah sadar kesalahan. Kecuali kamu rebut semua hartanya."


"Tidak!" Dinia memotong pembicaraan kedua orang itu.


"Nona, saat ini Taran yang paling mungkin mengambil harta mereka. Gustavo sudah berencana demikian. Taran hanya tinggal pura-pura saja."


"Kalau sampai Gustavo tahu dia bisa murka. Pria itu gak mandang keluarga. Belum Pablo sudah mau bunuh dia. Aku gak mau ambil resiko tinggi! Lakukan saja apa yang aku suruh!" Dinia memarahi keduanya.


"Tenang dulu. Kamu percaya sama aku? Aku akan ikuti jalan kamu, ya?" Taran pegang bahu istrinya.


Dinia mulai tenang. "Kamu janji!"


Taran anggukan kepala.


Sanchez akhirnya pergi, sedang Taran kembali ke ruang di mana Dinia masih harus dirawat. Ditrian tengah berguling di lantai. Katanya ingin langsing. Memang belakangan perut Ditrian agak buncit. Dia tidak mau menerima saat Dinia bilang akibat banyak minum susu. Katanya susu tidak bikin kenyang.


"Besok pergi gym sama Papa?" Taran gendong anak itu dan didudukkan di pangkuan.


"Belat bebelna," tolak Ditrian.


"Katanya mau punya otot. Segitu aja berat." Dinia mencibir.


"Mama gak lasain. Coba dili cana. Mama tangis paling." Ditrian memeletkan lidah.


Pagi itu keluarga mereka pulang dari rumah sakit. Akhirnya Dinia bisa kembali berbaring di tempat tidur yang luas. Sedang Ditrian ke kamarnya, dia menyalami semua mainan.


"Napa cumua gak tululus baik?" tegur Ditrian pada pelayan.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ini sudah kami bereskan ke tempatnya," jawab pelayan. Tak ada debu sedikitpun di kamar ini, tentu karena diurus.


"No. Miss, dino main halus. Kolam cana. Bikin lumah. Mobil Ian kililing palkil cana. Miss gak mainin. Sedih meleka."


Pelayannya menaikkan alis. Kalau ketahuan main, sudah pasti mereka kena omel Dinia. "Lain kali kami akan ingat perintah Tuan Muda."


"Ian lapal. Olah laga banak


Kalang mau sosis. Setik uga. Sayul sendok satu. Enggak penuh sendok," pesan Ditrian.


"Baik." Pelayan meninggalkan kamar. Sedang Ditrian mulai mengacak mainan lagi. Tentu semua harus ada pada tempat yang sebenarnya.


"Ditrian, kamu udah mandi belum?" Taran datang ke kamar memeriksa anaknya. Biasanya Dinia yang melakukan itu.


"Papa pacalan Mama aja. Ian cini baik."


"Bukan soal itu. Kamu baru dari luar. Lebih baik bersihkan diri," saran Taran.


"Papa, Ian macih ganteng." Mata anak itu berkedip-kedip manja.


"Ditrian kalau gak ke kamar mandi juga, tidak ada uang jajan dan susu," ancam Taran.


Meski tahu anaknya berceloteh, Taran tinggalkan kamar Ditrian menuju kamarnya. Dia lekas berganti pakaian dan membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi, rambutnya basah. Kimono yang digunakan tidak terika rapi hingga otot di perut dan dada begitu tegar terpandang mata Dinia yang ternyata masuk ke dalam sana.


"Ini masih siang," keluh Dinia.


"Otak kamu itu, Ditrian masih melek. Nanti malam saja." Taran lemparkan handuk di tangan ke wajah Dinia.


"Memang aku mau ngapain? Kata Dokter harus banyak istirahat." Saat Dinia tengah bicara, pipinya dikecup Taran.


"Lapar? Kita makan bareng, ya?"


Senyum tersungging di bibir Dinia. "Memang itu yang mau aku tawarkan. Kita ke ruang makan sekarang?"


"Pakai ginian?" Taran bercanda. Dinia rapatkan kedua sisi kimono. "Enggak, cuman punya aku. Pakai baju sana, aku tunggu di sini."


Mata mereka saling tatap, kemudian bibir mengecup. Taran masuk ke walk in closet, sementara Dinia tetap duduk di sana.


"Jadi Gustavo hanya berikan kursi pimpinan? Bukan saham?" tanya Dinia.

__ADS_1


"Iya. Jelas dia tidak mau kehilangan harta, tapi tidak mampu menjalankan semua. Intinya aku memang dimanfaatkan."


Dinia berdecak. "Setua itu masih saja bertingkah."


Pasangan itu duduk di meja makan. Hari ini Ditrian membuat barisan makanan dan beranekaragam.


"Yang ingin langsing," ledek Dinia mencubit pipi Ditrian.


"Gundut kayak badut. Ian gak mau. Tapi, enak makan. Halus apa Ian?"


"Makan saja. Nanti kamu tambah tinggi, buncit ini naik ke atas," jawab Dinia.


Ditrian akhirnya makan dengan lahap. Dinia usap kepala anak itu. "Ian kalang tigian enggak?" Dia pikir bertambah tinggi itu seperti makan sambal yang langsung pedas di lidah.


"Bulan depan baru ketahuan," jawab Dinia.


Ponsel Dinia berdering. Milik Taran disita Gustavo sehingga sulit menghubungi orang.


"Anda harus lihat klarifikasi Gustavo Rubey di televisi, Nona." Goul yang memberitahukan masalah.


Dinia aktifkan televisi digital di ponselnya. Setiap channel dilewati hingga benar-benar pria itu di sana.


"Saya tegaskan agar keluarga Kenan mengembalikan putra dan cucu saya. Mereka ahli waris saya satu-satunya," pinta pria itu dengan air mata buaya.


Taran tersenyum licik. "Dinia, biar aku bicara dengan media sekarang," pinta Taran.


Dinia menolak. "Biarkan saja dulu. Kita dengar komentar orang lain. Apa kamu pikir dia akan dikasihani? Tidak."


Taran periksa media online. Komentar di sana sesuai dengan prediksi Dinia.


[Terus Pablo Rubey apa bukan anaknya?]


[Aku tidak tahu siapa yang benar. Tapi aku tidak bisa melihat ketulusan di mata pria itu]


Malam yang tengah ramai dengan pengakuan Gustavo justru damai saat Taran bisa memeluk Dinia lagi saat tidur. Ditrian lebih dulu tidur. Tadinya pasangan itu ingin membasuh rindu, tapi Dinia tidak kuat menahan kantuk setelah minum obat.


Ketika pagi datang di hari berikutnya, Sanchez ke apartemen untuk bertemu Dinia. "Aku sudah bawa bayi itu ke tempat yang aman. Usianya persis sama dengan Tuan Ditrian. Apa perlu diantarkan ke sini juga?"


Dinia ingin membuka kedok Pablo, membuat pria itu benar diusir dari keluarga Rubey. Setelah itu perlahan masuk ke kubu perusahaan dan membuat pimpinan yang bukan keturunan Rubey beralih mendukungnya ambil alih perusahaan itu.

__ADS_1


__ADS_2