
"Ini yang harus kamu hafal. Jangan sampai kamu mengatakan sesuatu di luar naskah ini." Staf kepercayaan Chairman datang menemui Taran dan memberikan wedjangan.
"Saya mengerti. Anda tidak perlu khawatir," jawab Taran. Ia merasa ini akan menjadi sesuatu yang membebani pundaknya. Meski begitu, Taran sudah terlambat untuk mundur.
Tak lama staf itu pamit pergi. Kini hanya tinggal Taran, sendiri di rumah dan memeriksa dokumen yang ada di dalam amplop coklat. Dokumen itu ditinggalkan staf tadi. Isinya status baru Taran sebagai suami Dinia dan ayah kandung Ditrian.
"Mulai hari ini, kamu harus memiliki memori baru di masa lalu, Taran," tegas Taran, kemudian mendengkus. Pria itu mulai membaca helai demi helai dokumen sebelum ia musnahkan.
Ini kisah saat Taran kabur dari rumah ke luar negeri. Kemudian bertemu dengan wanita menyebalkan yang membawa kabur belanjaannya. Rupanya mereka bertetangga. Sungguh luar biasa hingga Taran merasa, kisah ini patut dijadikan drama romantisme.
Esok harinya saat Taran berhasil menelan isi dokumen ke dalam otak, pria itu siap menghadapi popularitas yang akan hadir. Mendadak berita konspirasi tentangnya ramai dibicarakan.
"PRIA MENCURIGAKAN YANG SELALU BERSAMA DINIA KENAN."
Banyak orang yang mencoba mencari tahu masa lalu Taran, nyatanya tidak ada yang bisa. Keluarga Taran dipindahkan ke suatu tempat tersembunyi. Karena sifatnya yang kaku, Taran tidak memiliki kenalan. Intinya, tidak ada yang mengenal Taran dengan baik hingga mempermudah keluarga Kenan.
Lebih dari itu, foto-fotonya saat menggendong Ditrian pun turut populer.
"Bukannya mereka mirip. Aku yakin, dia pria itu."
Komentar netizen berhamburan di media sosial.
"Aneh juga, bagaimana bisa anak sekecil itu dekat dengan lelaki dewasa, selain ayah atau keluarga lainnya."
"Seingatku, pria itu bukan anggota keluarga Kenan. Aku semakin yakin dengan anggapan banyak orang."
Bahkan, Pablo Rubey sekali pun terkejut dengan fakta yang belum jelas itu. "Bagaimana bisa informan kita lagi-lagi melewati ini. Kalau saja kita lebih dulu bisa membuktikan, kemungkinan bisa kita buat lebih buruk untuk menjatuhkan DW Fashion."
"Tuan, menurut informan kita. Selama ini keduanya memang sering bersama dan anak itu ikut dengan mereka. Hanya saja, pria itu terdaftar menjadi salah satu staf!"
__ADS_1
Pablo menggebrak meja. "Itulah bodohnya mereka! Bukti sejelas itu, mana mungkin mereka tidak tahu? Gantikan posisinya dengan orang lain!"
"Tuan, bagaimana kalau dia mengancam akan melaporkan ini ke pihak Kenan Grup?"
"Bunuh saja!" tegas Pablo. Dia mengambil jas dan berjalan keluar dari perusahaan itu. Sampai di depan pintu, Pablo bertemu dengan ayahnya—Gustavo Rubey yang memiliki bisnis minuman kemasan.
"Ke mana saja kau? Aku dengar berita di televisi. Aku pikir kamu yang buat, ternyata kamu masih saja tidak bisa melakukan apa pun," bentak Gustavo.
"Papa, aku saat ini sedang memperbaiki kesalahannya. Informan kita...."
Gustavo menampar pipi Pablo dengan keras. "Anak bodoh! Sudah gagal mendekati Dinia Kenan, bahkan kamu biarkan perempuan itu hamil dengan staf rendahan. Harusnya kamu bisa lebih pandai dari lelaki itu dan menjadi menantu keluarga Kenan!"
"Papa tahu sendiri, Dinia menolakku dengan alasan tidak ingin menikah." Pablo memegang pipinya yang sakit.
"Di otakmu hanya bisa makan saja! Siapa juga yang mau menikahimu? Kalau terus begini, lebih baik kamu biarkan adik tirimu yang ambil alih," ancam Gustavo.
Pablo menyipitkan mata. Akibat perlakuan ayahnya, perasaan ingin balas dendam pada Dinia semakin besar.
Wanita itu duduk di sofa, menaikkan sebelah kaki ke atas kaki lain. Sedang Taran masih berdiri di depan dua kopernya. "Lima, Nona. Dengan yang saya pakai ini. Lagipula saya bisa cuci dan keringkan semalam. Sebelum bekerja, saya setrika untuk dikenakan," jelas Taran.
Lain dengan Dinia yang baru akan mengenakan pakaian sama jika sudah lupa pernah memakainya. Selama masih ingat, pakaian itu tetap akan menggantung di lemari.
"Sepatu?" Dinia menunjuk kaki Taran.
"Bisa saya laundry saat libur. Jika sedang mengenakan, cukup disemir saja. Lagipula, semua barang itu dari merk mewah. Jadi Nona tidak perlu malu." Taran sudah mengumpulkan uang yang dia punya untuk membeli itu semua.
"Kamu ini! Ke mana saja gaji dariku? Mana mungkin beli pakaian saja tidak bisa?" Dinia berdiri dan menunjuk Taran.
"Apa Anda lupa kalau ayah saya sakit. Tentu saya kirim untuk beliau," jelas Taran. Dia tidak ingin Dinia pikir kalau gaji dari keluarga Kenan sedikit.
__ADS_1
"Aneh, apa guna kakak kandungmu? Jika tidak ada, lebih baik mati saja dia," ucap Dinia seenak jidat.
"Nona, dia penerus ayah saya. Selama ini saya hidup dengan mengambil kasih saya darinya. Anggap saja, saya membayar semua ini." Taran bingung bagaimana harus dia menjelaskan. Karena Taran sangat patuh pada ayahnya hingga mendapatkan pujian, kakaknya merasa cemburu dan sering dibandingkan. Hal itu membuat Taran dibenci.
"Sulit kalau kamu udah bahas itu. Kalau begitu, kamu isi kamar di samping Ditrian. Setelah itu bersiap. Kita akan pergi," ajak Dinia.
"Mau ke mana kita, Nona?"
"Apalagi? Isi lemarimu. Karena kita sudah jadi pasangan, tentu harus serasi bukan? Selain itu, ini hari keluarga," jelas Dinia.
Benar saja, begitu Taran keluar dari kamar, Dinia dam Ditrian sudah berdiri di ruang tengah. Mereka terlihat modis seperti biasanya.
"Nona, apa Anda tidak malu punya suami, orang seperti saya?" tanya Taran.
"Dibandingkan Pablo Rubey, aku lebih suka kamu. Aku gak suka ledek wajah orang, tapi paling tidak dia tahu diri. Orang ganteng yang beneran saja, tidak sok seperti dia," jawab Dinia sambil terkekeh.
"Tentang dia, aku yakin saat ini pasti dia sangat syok. Saya dengar dia terus melakukan banyak hal agar bisa berada di acara yang sama dengan Anda," ungkap Taran.
Dinia bergidik. "Lebih baik aku tidak jadi datang. Lagipula, kenapa kita harus membicarakan dia. Ayo berangkat sekarang," ajak Dinia menuntun Ditrian yang mengenakan kaca mata dan topi.
"Ayo, Talan. Ian buang uang. Ocoping!" serunya.
"Shoping, Tuan Muda. Sepertinya Anda bahagia sekali hari ini?" tanya Taran. Ditrian memegang tangan Taran dengan tangan kiri dan tangan Dinia dengan tangan kanan.
"Ian ada kuwulualga," jawab Ditrian.
"Kalau punya keluarga, harusnya kamu manggil Taran Papa," timpal Dinia. Mereka mengimbangi kecepatan langkah Ditrian.
"Papa bestie, Ian seneng selumah. Ental malem, bobo baleng. Mama cantik, Papa Bestie ma Ian, yuk?"
__ADS_1
"Gak mau!" jawab Taran dan Dinia bersamaan.
🍁🍁🍁