
"Silakan duduk, Tuan Green."
Seorang pegawai salon menyiapkan tempat duduk khusus yang kursinya empuk melebihi kursi pesawat kelas tertinggi. Melihatnya saja Taran merasa mencukur rambut kali ini tidak akan terlalu membosankan dan pegal.
Pria itu berbaring dengan badan agak condong ke belakang. Salah satu pegawai mulai melakukan perawatan pada rambut Taran.
Sanchez menunggu di kursi yang berhadapan dengan Taran, hanya berjarak dua meter. Karena ekslusif, setiap pelanggan diberikan ruang sendiri.
Sanchez masih menunggu saat di mana dia bisa mengambil rambut Taran. Namun, harus rambut utuh. Sanchez memberikan tanda agar pegawai melakukan apa yang diperintahkan.
"Aw!" Taran mengaduh, merasakan sesuatu yang sakit di kulit kepala. "Apa itu?" tanya Taran sambil membuka mata.
"Maaf, Tuan. Tadi rambut Anda tersangkut ke bagian tengah gunting."
Taran menggelengkan kepala. "Ternyata di salon begini saja masih bisa terjadi insiden begitu."
Setelah mendapatkan sample rambut Taran, Sanchez pamit. "Mendadak Nona Dinia ingin aku menggantikannya di kantor."
"Hati-hati," pesan Taran.
Sanchez memasukkan sample ke dalam saku jas. Dia berjalan keluar. Sanchez hendak ke rumah sakit di mana dokter kepercayaan keluarga Kenan berada. Tiba di sana, Sanchez bertemu dengan seorang pria. Dia membungkuk.
"Kamu bekerja dengan baik."
"Terimakasih banyak, Tuan. Semua saya lakukan sebagai wujud kesetiaan saya pada keluarga Kenan." Sanchez duduk berlutut.
"Bagaimana dengan Dinia?"
"Sepertinya mereka sudah keluar dari apa yang disepakati seperti kecurigaan Anda. Saya belum tahu seperti apa maksud Taran. Hingga saat ini masih saya pantau. Namun, bagaimana jika mereka benar-benar jatuh cinta?" Sanchez berharap keluarga itu bisa memaklumi Taran. Siapa juga yang tidak merasa nyaman dengan saling berbagi.
"Terserah Dinia. Hanya saja, Rubey tetap saja Rubey."
"Baik, Chairman."
Sanchez meninggalkan rumah sakit. Seperti apa hasilnya dia tidak akan tahu. Setelah ini akan menjadi urusan staf khusus pimpinan teratas.
Sanchez menarik napas panjang, dia menatap langit. Dalam dunia bisnis bahkan keluarga sendiri pun bisa menyimpan rahasia besar. Meski Sanchez paham apa yang dilakukan demi melindungi Dinia. Apalagi wanita itu punya masalah psikologis.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berlalu, Taran kembali ke rumah. Baru turun dari mobil, petugas apartemen terpana melihatnya. Apalagi yang perempuan.
Saat Taran mengusap rambutnya dari bagian atas kening ke belakang, seperti ada merpati putih beterbangan dari bagian belakang tubuh pria itu.
"Dia cowok fiksi, kan?" tanya salah satu karyawan sampai memeluk vas bunga besar yang menjadi bagian design lobi.
"Kayanya semua cowok fiksi terinspirasi dari dia."
Saat Taran berdiri di depan lift, mata-mata itu membeku ke arah yang sama. Taran mengusap tengkuk dan meregangkan bagian itu. Pintu lift terbuka. Taran masuk berbalik dan bersandar ke dindingnya. Begitu pintu tertutup terdengar suara orang-orang yang kecewa tidak bisa melihat ketampanan pria itu lagi.
Masuk ke dalam apartemen, efeknya tiada berbeda. Bahkan ada pelayan yang jatuh terjungkal ke balik sofa akibat tidak fokus pada jalan yang dilalui.
Dinia keluar dari kamar. Handphonenya jatuh ke lantai. "Apa-apaan ini, Taran?" protes Dinia.
"Apa?" Taran dengan polosnya seakan tidak punya dosa apa pun.
"Aku bilang apa tadi siang? Kenapa kamu pulang malah tambah ganteng! Ini tidak sesuai dengan ekspektasiku!" omel Dinia.
"Aku tidak pesan aneh-aneh. Aku hanya minta dirapikan saja." Taran menaikkan alis.
"Dirapikan? Kamu tahu sekarang ini kamu mirip tentara ganteng di drama. Di mana kamu potong rambut? Aku akan marahi orangnya!" Dinia hendak kembali lagi untuk mengambil tas.
Dinia mengerucutkan bibir. "Baiklah. Tapi aku minta imbalan atas itu."
"Imbalan macam apa?" tanya Taran.
"Tadi siang kamu janji." Dinia menarik dasi Taran. Dia mendekatkan bibir. Jantung Taran mendadak ingin lompat dari tempat. Bahkan aliran darah memanas, terpompa cepat hingga berdesir di tubuh.
"Aku belum mandi." Taran yang salah tingkah mendorong pelan tubuh Dinia lalu lari ke kamar.
Dinia kesal hingga menghentakkan kaki. Ditrian melihat kejadian itu dari pintu sambil makan popcorn.
"Mama, kasian Papa. Mama selemin telus." Kembali Ditrian mengomel.
"Mama gak nakutin Papa. Tadi cuman kasih perhatian," kilah Dinia.
"Tulus napa Papa takut? Mama boong gak baik! Contoh Ian baik." Anak itu mengangkat telunjuk dan menggerakkannya.
__ADS_1
"Papa katanya gak mau diganggu, capek. Harusnya Papa hargai Mama. Padahal Mama udah cantik gini buat sambut Papa." Dinia mencurahkan isi hati. Dia perlihatkan wajah sedih.
"Gak bialin ini! Ian tulun tangan." Anak itu berikan pop corn pada Dinia dan pergi ke kamar Taran tanpa mengetuk pintu. Untung Taran baru menanggalkan kemeja saja. Meski begitu, kotak di perutnya tetap menggoda.
"Papa! Maaf cama Mama. Papa bikin sedih. Ian tidak tobelil agi!" bentak Ditrian.
"Mama bilang apa tadi?"
Ditrian mengatakan apa yang terjadi. "Mama dan Papa sudah dewasa. Sebaiknya tidak mesra depan kamu yang masih anak-anak. Benar? Tidak apa kalau kamu tidak bisa menolerir hal itu. Tentu kamu harus lindungi Mama dari siapa pun. Namun, harus tahu titik masalahnya." Taran memang selalu pintar meraih hati Ditrian. Dikatakan begitu saja, anak itu setuju.
"Tetap maapan, ya?" pinta Ditrian.
"Iya. Nanti kalau Ditrian sibuk, Papa akan temani Mama dan minta maaf."
"Baik, Papa ganteng!" Ditrian pamit pergi.
Dinia sudah tidak sabar menunggu hasil yang dibawa putranya. "Kamu apain Papa?" Dia harap Ditrian akan memukul Taran hingga mengubah sikap.
"Ya gitu aja. Mama popokon Ian?"
Dinia berikan yang anak itu mau. "Dipukul berapa kali Papa?"
"Mama, pukul olang kejam itu." Ditrian berbalik.
"Aku kenapa harus banyak berharap sama dia?"
Di lain tempat, Gustavo terbaring. Dia menatap langit-langit. Tubuhnya semakin hari melemah. "Anakku, sampai kapan kalian akan temukan dia?"
"Tuan, saat ini lebih baik Anda fokus pada Tuan Pablo. Beliau juga butuh dukungan dari Anda."
Gustavo menggelengkan kepala. "Dia dan ibunya sama saja. Sebelum aku mati, aku harus bertemu dengan anakku." Gustavo tarik lengan stafnya itu.
Pablo mengintip dari luar. Dia berbalik dengan penuh amarah. "Apa pantas seorang ayah lebih sayang dengan anak haramnya? Lebih baik dia cepat mati saja biar aku bebas membunuh anak sialan itu!"
"Tuan, ingat acara launching pakaian kita. Sebaiknya kita tetap menjaga perusahaan tetap damai. Fokuskan pada strategi pemasaran," saran sekretarisnya.
"Apa yang tengah dilakukan Diniaku saat ini?" Pablo mengeluarkan ponsel dan melihat berita tentang wanita yang sangat dia ingini. "Undang dia ke acara kita."
__ADS_1
"Kalau Nona Dinia sadar itu design miliknya?"
"Biarkan. Jadi dia tahu kalau aku cukup cerdas untuk bisa mengalahkannya. Dengan begitu, dia bisa lebih memperhatikan aku." Pablo tertawa.