
Taran berdiri di ruang kerja Dinia. Wanita itu masih menulis surat pada selembar kertas. Tak berani Taran melihatnya. Dia memalingkan pandangan ke sisi lain.
"Kamu tahu berapa enam dikali empat?" tanya Dinia tiba-tiba.
"Maaf, Nona?"
"Dua puluh empat. Begitu saja tidak tahu," balas Dinia dengan ekspresi kesal.
"Kalau tahu kenapa tanya?" batin Taran. Meski wajahnya biasa saja, dalam hati dia sudah membayangkan mencubit pipi Dinia yang halus dan manis itu, eh!
Dinia bersenandung. Suaranya terdengar merdu. Taran tidak merasa heran, Papanya Dinia seorang penyanyi terkenal. Tentu kemampuan itu turun pada anaknya pula.
"Ini terlalu sulit." Dinia mendengkus.
"Apa perlu saya bantu, Nona?" tawar Taran.
"Kamu bisa menulis?" Dinia menyimpan pulpen ke dalam kotak pensil.
"Karya ilmiah, fiksi?"
"Hanya menulis, dengan pulpen. Aku ingin buat postingan di media sosial. Tulisannya harus aestetik. Sementara, tulisanku jelek. Lihat." Dinia menunjukkan selembar kertas di tangannya.
"Ini bagus."
__ADS_1
"Kamu mau aku tabok? Matamu bermasalah!"
Menurut Taran, tulisan masih bisa terbaca tidak masalah. Hanya saja itu tidak sejalan dengan jiwa seni Dinia.
"Saya akan coba. Apa yang harus saya tulis?" Taran berjalan mendekati. Ruangan itu terlihat mewah dengan perabotan kelas atas. Terlihat dari catnya yang rapi dan potongan yang simetris.
Meja Dinia berwarna hitam pekat. Hingga perabotan emas di atasnya terlihat mengkilap indah.
"Dengar baik-baik. Bayi mungkin tidak bisa bicara. Namun, cintanya pada ibu terasa hingga relung batin. Tanda jika cinta tak perlu terucap kata," dikte Dinia.
"Anda pandai merangkai kata, Nona."
"Tulisan kamu bagus. Apa dulu kamu perempuan?" Dinia menerka.
Dinia hendak protes. Pintu kantor itu terbuka tiba-tiba. Seorang anak kecil berjalan masuk. "Nona, Tuan Ditrian sudah bangun," ungkap pelayan.
Ditrian menggosok matanya. Dia berjalan maju. Melihat Taran di sana, Ditrian mengedipkan mata. "Papa!" panggil anak itu.
"Bukan!" balas Taran dan Dinia bersamaan.
"Dia, Om. Panggil begitu," saran Dinia.
Sepertinya itu sama sekali tidak membekas di telinga Ditrian. Anak itu menarik celana Taran dan minta digendong. "Tuan ingin ke Mama?" tanya Taran. Ditrian menggeleng. Dia menunjuk Taran.
__ADS_1
"Tapi." Taran melirik Dinia. Tidak sembarang orang bisa menyentuh bayi satu tahun itu.
"Tak apa. Gendong saja. Dia biasanya malah tidak ingin didekati orang." Dinia mengambil ponsel. Dia nyalakan fitur kamera untuk mendapatkan foto terbaik.
Taran gendong Ditrian. Anak itu dengan manja menyandarkan kepala di bahu Taran kemudian menguap, merasa nyaman seakan memiliki hubungan batin dengan pria itu.
Taran memang mendengar rumor kalau Dinia hamil di luar nikah. Kembali dari luar negeri, perempuan itu malah tertangkap kamera menggendong bayi.
Beberapa media memberitakan kepergian Dinia sengaja dilakukan untuk menutupi kehamilan wanita itu. Tidak ada yang tahu siapa ayah Ditrian. Namun, Dinia sudah terbuka dengan sering mengunggah foto Ditrian ke media sosial meski wajahnya tidak diperlihatkan.
"Dia tidur lagi, Nona?"
Dinia mendongak. Dia kaget melihat Ditrian menutup mata dengan wajah yang damai. "Kamu apakan dia?"
"Saya hanya menggendong dan mengusap punggungnya," jawab Taran.
"Kamu punya anak?" Dinia sembarang menegur.
"Mana mungkin Nona. Saya masih jejaka," kilah Taran.
Dinia terkekeh. "Di negara ini? Masih ada jejaka seusia kamu? Ya Tuhan!"
"Bukannya itu kebanggaan? Saya tidak punya waktu untuk berkencan Nona. Lebih baik saya belajar, kuliah dan kerja dengan baik. Agar hidup saya ke depannya lebih terjamin. Ketika punya anak, saya tidak akan membuat anak saya harus berjuang sekeras saya," jawab Taran.
__ADS_1
πππ