Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
44. Jangan dibaca


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan," ucap seorang staf membungkuk di depan Taran. Pria itu menaikkan alisnya. Dia dekati staf itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Kemeja kamu memang kurang kancing? Apa lepas?" tegur Taran.


Staf itu langsung salah tingkah. "Maaf sudah kurang sopan, Tuan Taran. Dia lekas mengancingkan bagian atas kemejanya."


"Tidak semua laki-laki nyaman melihat hal itu. Kalau orang lain saja risi, harusnya kamu lebih," nasihat Taran lalu masuk ke dalam kantor.


Staf tadi terlihat kesal. Bukannya berhasil menggoda salah satu atasan, malah dipermalukan Taran. "Lagian dia juga dulu cuman staf biasa. Kalau bukan karena istrinya, dia bukan apa-apa." Staf itu nyerocos. Dia berbalik dan kaget bertemu Dinia. Tidak disangka istri Taran berjalan jauh di belakang suaminya.


"Aku berikan dia jabatan bukan karena dia suamiku, tapi memang aku nilai dia mampu dalam hal itu. Departemen itu sudah lama punya masalah dan tuntas saat Taran memimpin di dalamnya. Aku tidak ingin sampai Taran dengar ucapan seperti itu dari mulut kalian dan merasa tersinggung. Banyak orang ingin kerja di sini. Kalau gak suka silakan kirim surat pengunduran diri," ancam Dinia dengan halus.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa menjaga mulut saya."


Dinia terus melangkah ke kantor Taran. Dia berdiri di depan meja pria itu. "Staf perempuan di luar, kamu tegur karena apa?"


"Yang mana?" Taran agak berpikir hingga sadar siapa yang Dinia maksud. Dia ungkap semua.


Dinia mengepalkan tangan. Dia kembali ke luar, berkacak pinggang di depan staf tadi. "Aku pikir teguran Taran tidak salah. Boleh aku tahu motif kamu pakai rok sependek itu bahkan memperlihatkan bagian agak sensitif untuk apa?" Dinia mengeluarkan teguran keras.


"Hanya fashion, Nona."


Dinia terkekeh. "Kamu lihat sekeliling. Aku tidak melarang pegawai di sini menggunakan pakaian yang fashionable. Tapi hanya kamu yang bermasalah begini. Memang orang modis gak bisa sopan. Tetap saja ini kantor, Nona."


Staf itu mengeluarkan air mata. "Nona, kalau saya dipecat, orang tua saya makan apa. Saya tulang punggung."

__ADS_1


Dinia memijiti kening. "Soal itu aku turut prihatin. Justru kalau kamu kasihan dengan keluarga, jaga nama baik mereka. Aku tidak akan pecat. Mulai sekarang kamu dipindah ke kantor lain. Biar di sana ada seragam khusus. Kecuali kamu berulah lagi."


Dinia meminta salah satu staf khususnya untuk mengumpulkan data staf tadi. Duduk di meja kerja, Dinia merasa seperti dihadapkan dengan banyak beban hidup. Dokumen menumpuk. Efek dari jatuhnya merk fashion milik Rubey, DW Fashion jadi kebanjiran orderan.


"Aku harus senang atau sedih, ya?" batin Dinia. Tangannya mengambil pulpen dan mulai membaca satu per satu dokumen di sana. "Mana lelah habis layanin Taran tadi malam. Pantas orang ingin buru-buru menikah. Aku beneran minta jadi ibu rumah tangga saja."


Dinia bisa bayangkan akan mengantar Ditrian ke sekolah, memasak dan menunggu suaminya pulang. Kalau ada waktu senggang bisa rebahan. Itu hanya impian semu karena nyatanya ibu rumah tangga tidak sesederhana itu.


Di kantornya, Taran masih menyusun data. Dia gunakan banyak aplikasi untuk bisa menuntaskan pekerjaan. Lain dengan Dinia, Taran pintar menyusun pekerjaan hingga lebih terorganisir. Bisa dilihat dari mejanya yang sangat rapi.


Tidak lama seorang staf datang. "Ada telepon dari perusahaan Rubey, Tuan," ungkap sekretarisnya itu.


"Sudah kamu tanyakan untuk apa?" Taran pikir itu hanya soal design yang mereka curi.


"Masalah pribadi. Staf itu ingin Anda langsung yang bicara," timpalnya.


Sekretaris meninggalkan ruangan. Taran mengambil gagang telepon. "Saya Taran Green, apa yang bisa saya bantu?" tanya Taran dengan nada tegas.


"Ini Gustavo Rubey. Kamu tentu tahu siapa aku."


Taran terkesiap. "Chairman, salam hormat saya. Terakhir kali kita bertemu sepertinya kesan Anda pada saya kurang nyaman. Maaf, saya hanya menantu di keluarga Kenan," timpal Taran.


"Aku ingin bertemu denganmu secara pribadi," pinta Gustavo.


"Untuk saat ini saya sudah punya jadwal tetap. Mungkin nanti akan saya hubungi." Taran ingin jual mahal. Setelah apa yang dilakukan pria itu, mana mungkin Taran memaklumi begitu mudah.


"Aku harap kamu benar-benar bisa meluangkan waktu. Ini sangat penting dan aku tidak bisa menunggu lama. Tentu kamu paham kondisi kesehatanku." Pria itu masih memohon.

__ADS_1


Taran meremas tissue. Begitu mudah lelaki itu meminta, sedang dia lupa ada bayi yang menangis memanggilnya puluhan tahun lalu. Dia hanya tutup telinga.


"Malam ini, saya akan temui Anda," ucap Taran. Matanya berapi. Kalau benar pria itu ingin mengakui kesalahan di masa lalu, Taran akan pastikan dia benar-benar menyesal hingga Taran merasa puas.


Setelah telepon ditutup, Taran tendang kursi kantor. Pria itu duduk menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Setelah pekerjaan selesai, Taran meninggalkan ruangan segera. Dia tidak ingin Dinia sadar akan kepergian. Menggunakan mobil milik sang istri, Taran menempuh perjalanan menuju vila pribadi milik Gustavo. Kedatangannya disambut dengan baik oleh pelayan, menegaskan memang dia sudah diketahui identitasnya.


Taran diajak ke sebuah ruangan, begitu pintu terbuka, terlihat Gustavo duduk di atas kursi roda. Pria itu mengulurkan tangan agar Taran mendekat. Seorang staf menyimpan kursi di samping pria itu.


"Aku sangat ingin bertemu denganmu, Nak. Ada banyak hal ingin aku ceritakan. Aku yakin, pasti ibumu tidak sempat," ungkap Gustavo.


Dia bercerita pertemuannya dengan ibu Taran hingga memiliki bayi yang akhirnya dibawa kabur. "Kalau aku tahu, akan kehilangan kamu selamanya. Mungkin aku bawa kalian ke luar negeri." Gustavo meneteskan air mata.


Taran masih terdiam, menatap pria itu. "Taran, aku ingin kamu jadi penerusku. Memperjuangkan kebesaran nama Rubey."


Taran melepaskan tangan ayah kandungnya. "Apa Anda punya bukti kalau yang Anda katakan benar? Selama tidak ada yang membuktikan itu, bagiku Anda tetap orang lain. Satu lagi, bagiku tidak pernah ada orang tua tercipta selain ayah angkatku," tegas Taran.


Pria itu berdiri. "Hargai apa yang Anda punya. Jaga istri Anda baik-baik. Nasihati anak kandung Anda." Taran melangkah pergi.


"Aku sudah lama mencarimu. Kembali, Taran. Dibandingkan kamu dinilai rendah orang lain. Denganku kamu akan dihormati, memiliki kekayaan ini," panggil Gustavo.


Kembali Taran menatapnya. "Tuan, siapa yang akan menghormati anak yang lahir atas hubungan gelap? Apalagi ada seorang wanita yang disakiti. Bagiku ada di keluarga Kenan jauh lebih terhormat. Semoga Anda lekaa sembuh." Kaki Taran melangkah. Di depan pintu, seseorang menahan. Taran menaikkan sebelah alis.


"Jangan halangi jalanku!" tegas pria itu.


"Kamu akan tetap di sini. Tidak akan aku biarkan Kenan memanfaatkanmu." Staf Gustavo lainnya masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2