Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
47. kabur


__ADS_3

"Dinia." Taran sampai melukis wajah wanita itu di atas kertas. Beberapa kali mengusap dan merindu. Rasa takut dibenci dan ditinggalkan sudah pasti akan membuat hati terasa diganggu. Meski begitu, Taran percaya Dinia akan tetap menunggunya pulang.


Pintu diketuk, Taran berdiri dari kursi kayu. "Bukannya mereka yang mengunci dari luar?" batin Taran.


Matanya menangkap selembar kertas meluncur dari cela antara pintu dan lantai. Perlahan tubuh Taran maju, meraih kertas itu dan membaca isinya.


[Aku akan bantu kamu keluar asal penuhi syarat ini]


Tak lama lembaran lainnya masuk. Taran kembali ambil dan membaca setiap poin.


"Siapa orang aneh yang bikin kesepakatan bodoh ini?" tanya Taran dalam hati. Melihat nama Pablo, dia tertawa. "Gimana bisa orang bodoh ini berasal dari bibit yang sama denganku."


Taran paham intinya Pablo tidak ingin miliknya terbagi. Hal yang sama dengan keinginan Taran.


[Aku tidak ingin uangmu. Aku hanya ingin kembali ke keluarga Kenan. Sama sekali aku tidak mau jadi adikmu]


Dia ketuk pintu untuk memastikan orang tadi masih ada di tempat.


Ketika balasan berupa ketukan yang sama, Taran kembali masukkan kertas ke dalam celah yang sama. "Kami akan mengeluarkan Anda segera," ucap laki-laki di balik pintu itu.


Taran berharap Pablo tidak ingkar janji. Dia sudah bosan di dalam sini. Meski pemandangan halaman belakang di rumah itu cukup bagus, melakukan hal yang sama berulang kali tetap bukan hal yang menyenangkan.


Malam itu, Taran tidur lebih awal dari biasanya. Pintu balkon mengeluarkan suara seakan ada yang melemparnya dengan benda. Kelopak mata Taran terbuka. Dia berdiri dan membuka pintu. Ketika menengok dari balkon, ada dua orang pria menunggu di bawah.


"Kalau kabur semudah ini, kenapa tidak aku lakukan sejak kemarin?" batin Taran.


Dua pria itu memasang tangga ke balkon di sampingnya karena lebih rendah. Melalui sambungan antar lantai, Taran berjalan menyamping hingga tiba di balkon tersebut. Perlahan dia turun.


"Aku akan tanda tangan setelah tiba di rumah," pinta Taran.


Mereka memberikan Taran jempol. Kemudian berjalan menuju gerbang belakang. "Bagaimana dengan CCTV?"


"Sudah kami matikan," jawab salah satu pria.

__ADS_1


Di depan gerbang menunggu sebuah mobil. Taran masuk ke dalam sana, duduk di kursi belakang. Sedang dua orang tadi di depan. Mobil bergerak meninggalkan perumahan newah itu.


Taran masih diam, menunggu waktu yang pas. Dia keluarkan dasi dari saku celana. Dengan kedua tangan, ujung dasi itu digenggam. Sampai di jalanan yang ramai, Taran jerat leher sopir mobil hingga kendaraan itu terpontang-panting dan berhenti mendadak. "Buka pintunya!" ancam Taran mengeratkan jeratan dasi.


Pintu mobil terbuka. Taran turun dan berlari mencari pertolongan. Kebetulan ada beberapa polisi yang tengah melakukan patroli teror terakhir kali.


Dua staf tadi tentu langsung kabur dibandingkan harus tertangkap basah. Namun, polisi tetap mencatat nomor plat kendaraan itu.


"Saya minta tolong untuk menghubungi keluarga saya, Pak," pinta Taran.


Lelaki itu hafal betul nomor pribadi istrinya. Taran melihat ke sekitar penuh kepanikan. "Anda tidak perlu khawatir, Pak. Anda aman dengan kami. Apa perlu ikut dan berlindung di kantor?"


"Tidak, Pak. Sebelum utusan istri saya yang datang, saya tidak akan ke mana-mana." Taran menolak. Dia tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Termasuk orang Pablo. Taran tahu pria itu ingin kematiannya.


Di rumah sakit, Dinia masih terlelap sambil memeluk Ditrian. Anak itu seperti biasa, tidur dengan kaki dan tangan yang merentang seakan tidak ingin terhalang. Jadilah kepala Dinia harus berada di bawah sikutnya. Sedang sebelah kaki Ditrian naik ke pinggang ibunya.


Deringan ponsel Dinia, membuat wanita itu membuka mata dengan keadaan terkaget. Diraih ponsel di atas nakas dan membukanya. "Siapa ini?"


"Dinia, ini aku," ucap Taran dengan suara gemetar.


"Aku akan kirimkan lokasiku. Tolong jemput aku di sini sebelum Rubey tahu aku kabur," pinta Taran.


Tentu kini mereka sama-sama panik. Dinia panggil kakaknya yang tengah menunggu di luar. "Divan, ke sini!"


Karena yang dipanggil tidak datang juga, Dinia turun dari tempat tidur dan membawa tiang infus ke luar kamar. Diguncang tubuh Kakaknya yang tengah tidur di sofa. Padahal ruang rawat itu punya kamar tidur khusus keluarga pasien.


"Ada apa?" Divan mengusap mata.


"Taran. Tolong jemput dia. Tadi telepon." Dinia tunjukkan ponsel yang masih dalam mode stand by.


Divan berbicara lumayan lama dengan Taran, kemudian memanggil bodyguard untuk pergi menjemput pria itu.


Dinia duduk di sofa dengan tubuh lemas. Dia tidak sabar untuk bertemu suaminya lagi setelah berhari-hari terpisah.

__ADS_1


"Taran akan baik-baik saja. Dia cukup terlatih sebagai staf khusus dulu," ucap Divan mengusap puncak kepala adiknya.


"Semoga saja." Dinia berdoa dengan wajah yang pucat.


Sedang di tempat dia menunggu, ada beberapa orang berseragam hitam turun dari mobil. "Tuan Kenan meminta kami menjemput Anda, Tuan," ucap pria itu.


"Apa urusan kalian datang ke sini?" tanya Taran.


"Sesuai dengan apa yang saya jelaskan tadi," jawabnya.


Taran lekas berlindung di balik polisi. "Mereka bukan staf keluarga Kenan," bisik pria itu. Polisi langsung mengeluarkan senjata dan membidik ke arah orang-orang itu.


"Mundur. Jika berani melawan, kalian akan terjerat hukum." Polisi memberikan peringatan.


"Kami benar dari keluarga Kenan. Kenapa Anda tidak percaya?" Staf itu masih bersikukuh sambil perlahan maju.


"Percaya pada saya, Pak. Saya staf khusus keluarga itu. Mereka tidak menjawab sesuai dengan sandi kami," ungkap Taran.


"Mundur!" Polisi memberikan peringatan.


"Lebih baik Anda masuk ke dalam mobil," saran polisi lainnya.


Perlahan mereka dekati mobil. Ada tiga polisi di sana. Jumlah mereka tentu tidak sepadan. Sedang staf palsu itu sekitar lima orang.


Terdengar suara mobil berdecit. Turun beberapa staf lainnya. "Kita bertemu lagi!" ucap salah satu staf.


"Mereka semua penjahat!" tunjuk Taran.


Merasa sudah kalah jumlah, staf palsu lekas berlari kabur. Polisi mengejar mereka. "Tuan, Nona Dinia sudah menunggu." Salah satu staf mengajak Taran masuk ke dalam mobil. Dua orang mengantar pulang sedang lainnya dengan polisi mengejar pelaku.


Taran bisa bernapas lega. Syukur tidak terjadi bentrokan yang lebih besar. Pria itu mengusap wajah. "Bagaimana kabar istriku?" tanya Taran.


"Nona Dinia tengah dirawat di rumah sakit sejak Anda menghilang."

__ADS_1


Mendengar itu, Taran merasa sakit. Bahkan di saat Dinia terpuruk, Taran tidak ada di sana. "Sekarang dia bagaimana? Ditrian? Anak itu tidak menangis, kan?"


"Tuan Ditrian sangat mandiri dan menjaga Nona dengan baik. Pasti mereka akan senang melihat Anda pulang."


__ADS_2