Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
45. Tanda


__ADS_3

"Lebih baik kalian pergi!" Taran mengancam orang-orang yang kini berdiri di depannya.


"Aku ingin kamu merenungkan untuk sementara waktu." Gustavo memajukan kursi rodanya. Taran tatap pria itu dengan wajah kesal. "Aku mendengar sepak terjangmu di keluarga Kenan. Aku ingin kamu menyelamatkan keluarga ini."


Taran tertawa. "Menyelamatkan? Selama bisnis busuk yang kalian jalani, perusahaan ini hanya akan jadi badut!" hina Taran.


"Beraninya kamu mengatakan hal itu pada ayahmu sendiri!" bentak Gustavo.


"Kenyataannya memang begitu. Keluarga Rubey selama ini mengandalkan strategi licik. Pakai logika. Untuk apa kalian diberikan kemampuan berpikir."


Gustavo mengusap tangannya. "Karena itu, aku ingin kamu ambil alih. Aku yakin kamu lebih mampu berpikir dibandingkan kakak tirimu!"


Taran mengusap kening. Ujungnya dia tetap ditahan di dalam kamar itu. Bahkan ponselnya diambil. Entah bagaimana bisa dia menghubungi rumah.


"Aku pikir pria tidak bertanggung jawab itu tidak akan sejauh ini." Taran menendang dinding untuk melampiaskan amarah. "Semoga Dinia tidak dimanipulasi lagi. Aku mohon," doanya dengan pasrah.


Di kantor, Dinia bersiap pulang. Hendak ke ruangan Taran, dia sudah diberitahu akan kepergian suaminya. Dinia tentu heran. Dia mencoba menghubungi Taran, tidak ada jawaban. Hingga terdengar suara seorang pria jauh di sana.


"Jangan hubungi anakku lagi. Mulai saat ini, kalian tidak akan memiliki hubungan apa pun. Taran akan ajukan perceraian denganmu. Satu lagi, tentang hak asuh cucuku, Ditrian. Aku pun tidak akan menyerah semudah itu." Telepon dimatikan.


Dinia mencoba menghubungi lagi, tapi tidak berhasil. Ponsel Taran malah tidak aktif. "Sanchez!" panggil Dinia dengan suara keras di dekat lift.


Staf langsung menghubungi Sanchez agar datang ke sana. Mereka tidak ingin Dinia sampai mengamuk lebih jauh. Tak lama Sanchez naik ke lantai atas. "Apa yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pria itu.


Dinia pegang lengan pria itu. "Carikan Taran untukku, aku mohon." Dinia jatuh ke lantai. Seluruh tubuhnya terasa lemas.


"Bisa tolong Anda jelaskan lebih jauh, Nona?" Sanchez kurang paham dengan apa yang terjadi.


Dinia menggelengkan kepala. "Suamiku." Dia kembali menangis dan menepuk dada. Tak lama Dinia jatuh pingsan. Ditrian yang baru keluar ruangan berlari meraih ibunya, Dia guncangkan tubuh Dinia. "Mama, bangun. Ian cini, Mama." Ditrian merengek. Dia tepuk pipi Dinia.


Lagi, Dini dibawa ke rumah sakit. Saat bangun, dia menutup telinga dan menolak didekati. "Aku memang dikutuk. Aku gak pernah bahagia! Dia gak akan biarkan aku, Mama!" Dinia histeris. Dia bahkan menepis tangan ibunya.

__ADS_1


"Kamu harus tenang. Kami mencari Taran. Aku yakin, dia akan ditemukan segera," ucap Bia. Setelah berusaha sekian lama, Dinia mau dipeluk. Bia usap rambut Dinia.


Melihat adiknya begitu, Divan tentu merasa sedih. "Setelah mendapat telepon dari Gustavo, Taran langsung pergi. Hingga saat ini dia belum kembali juga. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Kami masih menelusuri jejaknya," ucap Goul.


Divan mengusap wajah. "Kemungkinan Gustavo sudah tahu siapa Taran sebenarnya." Saat Divan berbalik, dia terkaget karena bertemu dengan sang ayah. "Pa, aku ke kantor dulu."


"Jelaskan, apa yang terjadi?" tegur Dira.


"Aku sudah tangani ini." Divan ingin meyakinkan sang ayah agar lebih fokus pada Dinia.


"Tangani? Apa kekacauan ini bagian yang kamu atur juga?" Dira mengeluarkan nada tinggi.


"Aku sudah berusaha, Pa."


"Dan aku sudah tekankan padamu. Kita keluarga, kalau ada masalah ada baiknya diskusikan bersama. Aku dan Dio bisa membantu!" tegas Dira.


Meski ragu, akhirnya Divan mengeluarkan suara juga. Dira ikut bingung. "Apa kamu yakin Taran ingin pergi sendiri?"


"Siapa yang tidak tergiur dengan harta sebanyak itu. Nyatanya dia menyetir mobil sendiri, tanpa paksaan," tuduh Divan.


Pagi itu belum ada kabar jelas. Hingga muncul artikel yang membuat Livetown gempar. Kelurga Rubey mengeluarkan pengumuman tentang Taran. Tentu semua orang terkaget karena dua keluarga yang saling berseteru itu tanpa sengaja menikahkan kedua anak mereka.


[ini lelucon yang sangat lucu]


[bayangkan, bagaimana Gustavo Rubey yang dulu bersitegang dengan Dira Kenan, mereka berkumpul untuk membicarakan cucu mereka]


Membaca itu Diori rasanya kesal. Dia matikan televisi. "Tunggu dua puluh empat jam, lalu hubungi polisi," saran pria itu.


"Mana mungkin."


Dio terkekeh. "Apa tidak aneh, Rubey memberikan pernyataan seperti ini, tapi Taran tidak terlihat sama sekali. Kenapa pria itu harus disembunyikan?"

__ADS_1


Divan dan Dira saling tatap. "Harusnya dia lakukan konferensi pers. Tapi yang dikeluarkan hanya artikel dan penjelasan dari staf."


"Hanya ada satu kemungkinan, Taran tidak mau dan dia tidak bisa menunjukkan diri." Dio membuat rangkuman.


"Alasannya tidak bisa karena?' Dira mengusap dagu.


"Disekap."


Dio menatap Dinia yang pandangannya kosong sambil mengusap rambut Ditrian. Satu-satunya hal yang membuat dia sedikit sadar, mendengar anaknya itu menyebut kata Mama.


"Ma, Ian gabal kodok. Lucu, ya?" Dia tunjukkan kertas di tangan. Dinia hanya mengedipkan mata.


"Ditrian gak lelah? Dari tadi malam belum tidur. Nenek gendong mau, ya?" ajak Bia. Bahkan hingga matahari terbit, Ditrian masih terjaga. Dia berusaha kuat, ingin menemani ibunya.


"Egak. Mama cakit. Papa pegi tahu mana. Ian halus kuat. Jaga Mama. Papa puang, Ia tidul balu," tekad anak itu.


Bia mengusap lengan Dinia."Cepat sembuh, kasihan anak kamu. Kelopak mata bawahnya sampai menghitam begitu, Dinia."


Namun, Dini malah meneteskan air mata. Dia peluk Ditrian dengan erat. "Jangan tinggalin, Mama," pintanya.


"Enggak. Ian cini ada." Ditrian kembali menangis. Setiap ibunya sakit, meski Ditrian anak yang julid, dia tetap merasa sangat sedih.


Sore itu, tepat dua puluh empat jam kepergian Taran, Sanchez pergi ke kantor polisi dan melakukan pelaporan. Sedang Taran dia paksa untuk menghadap di depan banyak wartawan.


"Ingat, Taran. Aku bisa membuat Dinia Kenana semakin gila." Gustavo mengancam.


Taran tidak punya pilihan lain ketika video Dinia pingsan di kantor diperlihatkan padanya. Akhirnya Taran maju, berdiri di depan banyak pencari berita. Kejadian itu ditonton oleh Divan dan Diori.


"Saya Taran Green yang ternyata putra kandung dari Gustavi Rubey. Mulai saat ini, saya akan melakukan kewajiban saya di perusahaan ini sebagaimana tugas keluarga Rubey lainnya," ucap Taran. Dia meneguk ludah. "Tentang pernikahan saya dengan Dinia Kenan, itu menjadi urusan internal. Untuk saat ini, kami masih membicarakan hal tersebut."


Divan tertegun, melihat tangan kanan Taran menggenggam lalu terangkat empat jari ke atas sementara jempolnya masih terlipat.

__ADS_1


"Dia meminta bantuan," tegas Divan. Lekas pria itu menghubungi Sanchez dan memperlihatkan kode itu pada polisi.


"Bagaimana kalau itu hanya jebakan, Pak?" Sanchez kurang yakin.


__ADS_2