
Taran tiba di rumah sakit. "Di mana kamar Dinia?" tanya Taran tidak sabaran. Seorang staf maju dan menunjukkan jalan.
Mereka naik lift ke lantai paling atas khusus tamu VVIP. Hingga pintu lift terbuka dengan kartu akses dari salah satu staf. Taran berlari. "Dinia!" panggil Taran dengan suara lantang.
Mata Dinia mengarah ke lorong. Melihat tubuh Taran muncul di sana, perempuan itu bangkit. Mereka sama-sama saling menghampiri hingga berhadapan. Taran tersenyum hendak memeluk, tapi mematung karena ditampar.
"Kamu berapa lama jadi staf aku? Bukan satu bulan, udah satu tahun lebih kamu kerja di keluarga Kenan! Mana mungkin masih sebodoh itu? Apa lucu masukin tangan ke mulut buaya?" bentak Dinia.
Taran menunduk.
"Kamu harapkan apa dari keluarga Rubey? Kasih sayang? Harta? Aku bisa kasih semua! Ngapain samperin mereka?" Omelan Dinia masih belum tamat sampai di sana.
Divan berdiri. Dia tahu aturan dunia, jangan pernah membuat wanita marah. Apalagi kalau sudah punya title ibu-ibu. Bahkan istrinya yang dulu korban bully dan penakut saja, bisa lebih seram dari monster film sebelah.
Tanpa berpamitan, Divan pulang. Dia pasrahkan nasib Taran pada staf yang ada di sana. Sedang Dinia terus mengeluarkan emosi. "Aku gila gara-gara kamu gak ada! Mau dengar aku mati dulu, baru kamu kembali gitu?"
"Jangan bilang gitu," pinta Taran, tidak ingin Dinia berpikiran sependek itu.
"Diam! Aku belum selesai ngomong udah motong!"
Pertengkaran satu arah itu terdengar oleh Ditrian. Sang balita turun dari ranjang pasien dengan berpijak ke kursi. Dia mengintip apa yang terjadi. Senang melihat Papanya lagi, Ditrian hanya bisa cemberut karena sang ayah tengah takluk oleh ibunya.
"Mama cakit baik. Cembuh jaat. Cakit aja deh." Ditrian berbalik. Dia masuk kembali ke dalam kamar, membuka kulkas dan mengeluarkan kotak susu.
Entah sudah ke berapa kali Ditrian minum susu. Kadang pengasuh di rumah harus menyembunyikan minuman itu. Dia bisa habiskan dua liter sendirian. Apalagi yang rasa coklat.
"Sayang, udah marahnya? Bisa dengerin aku?" Taran memegang bahu Dinia. Kali ini Dinia diam dan malah tersedu. "Aku ke sana ingin tahu tentang apa yang dilakukan Gustavo ke kamu. Hasilnya aku tahu dia benci dengan keluarga kamu. Aku gak mau harta dia Dinia. Apalagi kasih sayang. Lihat Pablo, karena tidak berguna dia dibuang dan digantikan olehku. Kalau sampai aku tidak sesuai dengan ekspektasi dia, mungkin akan diperlakukan yang sama, kan?" Taran memegangi tangan istrinya.
"Iya. Makanya tetap sama aku, ya? Jangan pergi lagi."
__ADS_1
Taran mengangguk. "Makanya aku lakukan apa pun agar kamu bisa sembuh. Jangan sakit kayak gini lagi." Mereka berpelukan. Sedang Ditrian menyaksikan sambil bersila di pintu dan meneguk susu dalam karton.
Taran usap air mata Dinia. "Kita hadapi semuanya berdua. Dengar, meninggalnya teman kamu, itu takdir dan keputusan dia. Karena kekasih tidak setia dan dia terlalu mencintai orang yang tidak pantas. Kamu gak punya urusan apa-apa. Kuta bahagia, baik-baik saja."
"Maafin aku lemah."
"Kamu kuat, makanya kita bisa bertahan sampai sekarang." Taran memajukan wajahnya. Dia hendak meraih bibir Dinia.
Tiba-tiba saja ada yang melempar sandal ke arah mereka. Melirik ke sisi, keduanya kaget ada Ditrian di sana. "Ian bawah umul, woy! Mau lusak mata Ian! Otak Ian gak suci."
Kedua orang tuanya sampai tertawa. Dinia dan Taran menghampiri anak itu. Taran gendong Ditrian dan mengecup pipi anak itu.
***
Pagi itu Sanchez datang, membawa kabar berita. "Anaknya Pablo Rubey perempuan. Sudah ditemukan. Sudah saya cek, daran Tuan Ditrian tidak ada kecocokan DNA dengan putra Anda, Nona," ungkap Sanchez.
Dinia menatap Ditrian yang tengah main ular tangga dengan Taran. Tentu Taran harus berkali-kali mengalah karena Ditrian akan protes hingga tidak mau makan.
"Masih saya pantau Nona. Kalau orang itu hanya lelaki biasa, harusnya bisa dicari dengan mudah."
"Kalau begitu, bukan skandal Pablo. Bilang pada ibu anak itu, aku akan berikan bantuan hukum. Tentang Gustavo, biar Taran yang urus."
Sanchez mengangguk. "Dan ini." Dia menyerahkan sebuah daftar nama.
"Apa ini?"
"Staf Rubey yang kita sogok untuk memberikan informasi palsu. Dua yang saya tandai, tidak menjalankan apa yang kita minta."
Dinia tersenyum licik. "Kamu tahu harus apa."
__ADS_1
Sanchez ambil kembali kertas itu. "Orang yang berusaha mengejar dan menculi Tuan Taran ada yang bekerja sebagai staf Pablo. Beberapa staf Gustavo. Memang sudah diamankan. Hanya apa Anda tidak merasa ayah dan anak itu mulai berseberangan? Bahkam Pablo mengajukan kerjasama dengan kita asal ...."
"Sanchez, tahu kakakku bilang apa? Lawan tidak kalah dengan kerjasama."
"Tapi harus dibeli sahamnya."
Dinia memberikan jempol. "Label fashion mereka kalau ganti pimpinan sudah pasti akan dilelang pula sahamnya. Bantu aku dapatkan itu."
"Akan saya usahakan. Nona, Taran sudah ada. Jangan sakit lagi," pesan Sanchez.
Dinia mengangguk. Dia bukannya tidak tahu Sanchez kadang berkhianat pada Divan. Namun, Dinia lebih paham kenapa Sanchez melakukan itu. Dia yang paling khawatir dengah kondisi Dinia, Bahkan menganggap Dinia seperti adiknya sendiri.
Sanchez sudah menjaga Dinia sejak SMP. Dia belum pernah membuat Dinia kecewa. Tujuannya berkhianat karena cemas.
Taran berdiri dia ikutin Sanchez keluar dari kamar. "Sanchez, soal permintaan Dinia, aku bisa bantu. Mungkin Gustavo akan berikan saham itu padaku."
Sanchez tepuk bahu Taran. "Jangan melakukan perbuatan bodoh kedua kali. Dibandingkan terjerumus dalam api, lebih baik kamu padamkan dari kejauhan dengan menyiramkan air," pesan Sanchez.
"Iya juga. Soal Pablo, aku memang tidak kenal dia dengan baik, hanya saja aku tahu dia mungkin bisa kita manfaatkan. Pria itu terlalu menyimpan kepercayaan diri." Taran ceritakan tentang surat yang sampai sekarang masih disimpan dalam sakunya.
"Sudah dari dulu." Sanchez menarik napas panjang. "Kadang aku tidak percaya orang tua kalian sama. Baik fisik dan otak, tidak mencerminkan," ledek Sanchez.
Taran nyengir. "Karena itu aku menolak menerima itu. Besok bantu aku siapkan tempat untuk klarifikasi. Aku akan ungkap semua kejahatan Gustavo. Hanya satu lagi, Sanchez. Tolong carikan ibuku," pinta Taran.
Sanchez heran. "Kenapa?"
"Aku ingin tahu saja. Bagaimana wajah dia. Meski aku tidak ingin kembali pada mereka. Aku cukup tahu. Setidaknya ketika aku mati, tidak akan bertanya-tanya lagi. Rasa penasaranku hilang."
Sanchez memalingkan wajah sejenak. Dia masih menyimpan beberapa file tentang masa lalu Taran. "Ini. Sepertinya kamu tahu dari mana wajah tampan kamu berasal."
__ADS_1
Pertama kalinya Taran melihat, perempuan yang melahirkannya.