Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2
22. Taran yang terkenal


__ADS_3

Ditrian turun dari mobil. Lagi-lagi dia jadi bahan perhatian meski banyak yang melihat dengan sinis. "Napa ili? Ian gateng ya?" ucap Ditrian pada mereka. Anak itu sekarang sudah tahan mental.


"Maju saja, tidak perlu kamu tanggapi," pinta Dinia. Ada banyak bodyguard yang melindungi mereka.


Di lantai bawah, Ditrian melihat mobil gunung yang tengah dipajang. Terlihat mewah dan berkelas. "Mama, napa gak bili ini?"


"Kamu mau?"


"Nona, tidak harus seluruh keinginan anak dipenuhi. Nyonya Bia pesankan itu," potong Taran.


Ditrian dan Dinia berdekatan. "Dia gak acik."


"Bukannya dia besti kamu?"


"Putus kalang. End!" Ditrian meloyor begitu saja. Taran masih mengikuti. Kini ada dua toko yang bersebrangan, satu toko mainan dan alat make up.


"Warna lipstiknya bagus banget!" seru Dinia.


"Mobin kelen. Macho. Ian pake ni laki ental!" Di toko mainan ada mobil mainan yang persis seperti mobil tadi.


"Taran, kamu jaga Ditrian dulu. Aku mau lihat-lihat make up." Dinia masuk ke toko kanan.


"Ian mo cini!" Ditrian main masuk ke dalam toko sebelah kiri. Taran ikut instruksi Bos Istri saja. Dari pada kena omel dan berujung dia harus ke rumah sakit khusus THT.


"Miss, balapa ni?" tanya Ditrian, mengusap mobil mainan ini.


"Harga sesuai yang terpajang, Tuan Muda," jawab penjaga toko.


Ditrian menghampiri Taran. Dia tarik lengan jas pria itu. "Talan, baca itu? Ian menyelah. Gak cagup Ian. Angka banak-banak."


"Anda masih bisa bayar dengan debit yang Nona Dinia berikan, Tuan."


Ditrian mengangguk. "Miss, gak calah paham ya? Ini Papa Ian. Gak genit. Papa milik Mama." Ditrian memberi tahu lebih dulu karena penjaga toko itu terlihat genit saat melihat Taran. "Dikon kacih gak? Halga potong. Ya?"


"Tuan, kalau ada diskon, pasti ada di label harganya. Anda tidak perlu tanya," jelas Taran.


"Gak bili. Ian cuka dikon."


"Kenapa begitu?"


"Mama biang, balang dikon tebaik." Ian mengalihkan pandangan ke tempat lain. Dinia memang emak-emak sejati.

__ADS_1


"Apa ni? Napa cinga lucu?" Ditrian suka singa. Binatang itu terlihat gagah di mata Ditrian. Suara aungannya yang keras, berwuju laksana raja. Mendadak singa yang kini di hadapannya punya rambut seperti bunga matahari dan wajah boneka.


"Ini seri terbaru kami. Kebetulan limited edition," jelas penjaga toko.


"Miss, cinga tu laja utan. Laja gak gemoy!" tegas Ditrian.


"Tuan, Miss ini hanya jualan. Bukan yang buat. Anda cepat putuskan yang ingin dibeli," saran Taran saking tak kuat menahan malu.


Ditrian berkacak pinggang. "Ian bili mobil tadi. Majuna colok litik?" Ditrian terlihat seperti orang dewasa yang tengah membeli mobil.


"Benar, Tuan. Bisa dipakai selama empat jam setiap kali charge."


"Kecupatan bapa tuh?"


"Anda tidak perlu cepat, Tuan. Yang penting aman."


"Talan, gak ngeti aja. Ian itu pilia. Halu kubut. Gak kubut, tulun tahta." Ditrian kembali ke mobil tadi. Dia ketuk kap mobil. "Duduk cini boleh? Jok umpuk, halusna. Patat Ian behalga."


"Silakan, Tuan."


"Maaf, Miss. Tuan saya ini biasanya jarang ke mall. Designer mainan yang datang ke rumah. Jadi dia bnayak menuntut," jelas Taran.


"Tidak apa, Tuan. Tuan Muda sangat lucu dan imut."


Sepulang belanja, Dinia kembali ke ruang kerja. Taran dan Sanchez saja yang dibiarkan masuk.


"Sanchez, pastikan jangan sampai ada yang tahu kita yang sebarkan copyan ini," tegas Dinia.


"Baik, Nona." Sanchez meninggalkan ruangan Dinia.


Sedang Taran masih di sana. Hari ini semua terasa menegangkan. Kepercayaan publik tergantung dengan berita terbaru.


"Nona, lebih baik Anda istirahat. Biar saya saja yang mengawasi semuanya. Saya pastikan semua akan baik-baik saja," pinta Taran.


"Tidak. Mau dipaksa bagaimana pun, aku tidak bisa tidur kalau semua ini belum teratasi. Apalagi keluarga Rubey mulai menggila akibat kecolongan." Dinia duduk sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia melirik ke luar jendela.


"Tentang bisnis dengan keluarga Kris Sulivan. Apa Anda yakin menerima investasi dari mereka?"


Dinia mengambil permen. "Kenapa tidak. Ini hanya bisnis. Kalau kamu pakai perasaan dalam hal ini, hidup kamu gak akan maju. Itu ajaran kakekku dari aku kecil. Bisnis bukan soal teman atau keluarga."


"Tapi keluarga Anda sangat hangat. Sungguh berbeda dengan apa yang orang lain nilai." Taran mengeluarkan pendapat jujurnya.

__ADS_1


"Kamu bilang begitu karena secara hukum sudah jadi menantu keluargaku, ya? Tenang Taran, kamu gak akan bisa gabung dengan mereka." Dinia mengangkat dan menggerakkan telunjuknya.


"Saya paham, Nona. Pria yang asal-usulnya tidak jelas seperti saya, mana mungkin bisa sepadan dengan keluarga Anda?"


"Bukan itu. Kamu kurang gila. Hanya orang-orang gila di dalam keluargaku. Kamu gak lucu, omongan kamu terlalu dijaga. Jiwa seperti kamu gak akan kuat hidup dalam keluarga Kenan."


Taran heran, ada juga ternyata aturan seperti itu. Meski begitu, Taran tidak menampik, semua itu sangat tercermin dalam sikap Dinia.


Dinia mendapatkan telepon dari Sanchez. Lekas dia angkat. Taran hanya menunggu sambil berdiri di depan meja kerja wanita itu. Tak lama Dinia menutup telpon.


"Sepertinya ini sukses. Netizen percaya!" Taran langsung mengeluarkan tablet PC dan melihat berita yang tengah viral saat ini. Dia terkejut karena hastag ayah kandung Ditrian Kenan merajai tagar media sosial.


Sesuai yang diharapkan, akte kelahiran Ditrian bocor. Lucunya mereka buat seolah akun anonim punya masalah dengan keluarga Kenan sehingga berani membocorkan itu semua.


[Apa yakin itu asli?]


[Pria di akte itu, bukannya si staf tampan yang sering dielu-elukan netizen?]


[Pantas saja anaknya Dinia ngekor ke mana-mana. Memang Papanya.]


[Ini kayak film gak sih? Dinia Kenan ditinggal nikah bos, malah milih staf]


Taran tunjukkan semua itu pada Dinia. "Saya heran. Bagaimana bisa mereka percaya begitu saja?"


"Aku kenapa baru tahu kalau banyak orang yang bilang kamu ganteng?" Dinia terdengar protes.


Taran berdeham. Dia rapikan dasi. "Maaf, Nona. Biar saya tunjukkan." Taran mencari artikel tentang orang foto staf crazy rich tertampan. Ada namanya di posisi satu.


"Bahkan saya sudah beberapa kali dipanggil agensi model." Taran juga masih menyimpan chat dan pesan panggilan audisi padanya.


"Mungkin mereka semua memang butuh kaca mata!" Dinia bangkit. Dia lantas berjalan pergi.


"Anda mau ke mana, Nona?"


"Tidur. Memang kamu pikir aku mau ke museum? Aku bukan benda langka!" Dinia membuka pintu. Sambil berjalan, dia menggerak-gerakkan bibirnya ke sisi kanan dan kiri. Sampai di dalam kamar, Dinia membuka ponsel. Dia cari nama Taran.


Julukan staf tampan hingga banyak yang menjadikannya cast novel membuat Dinia semakin murka. "Perempuan zaman sekarang! Lihat lelaki ganteng dikit langsung dipuji."


Sedang Taran menyusul menuju kamarnya sendiri. Dia merasa tidak nyaman di apartemen ini. Selain karena kamarnya luas, kasurnya terlalu empuk. Taran memang sudah lebih nyaman jadi orang miskin.


Dia melihat tas belanja hasil tadi siang. Satu per satu pakaian dari sana dia keluarkan. Taran akan cuci besok.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2