
Kecerdasannya membuat Taran mampu dibawa ke rumah keluarga Kenan. Dia dibariskan dengan staf khusus lain.
"Kalian yang berdiri di sini menjadi kepercayaan kami. Banyak rahasia yang akan kalian pegang." Kepala staf memberikan penjelasan.
Saat itu Taran beserta dua puluh karyawan lain disumpah. Bahkan dia harus menandatangani dokumen. Salah satu poinnya, jika ada rahasia keluarga ini bocor dari dirinya, Taran harus membayar biaya yang sangat besar hingga hukuman penjara seumur hidup. Mengerikan!
Beberapa hari Taran ditempatkan hanya mendampingi keluarga Kenan saat bepergian. Sesuai dengan ekspektasi, gajinya memang besar hingga dia bisa mengirim uang pada ayahnya.
Malam itu di kamar, Taran menulis surat.
Untuk Papa
Aku tidak bisa pulang dalam waktu lama. Aku kirim uang ini agar Papa bisa hidup lebih baik. Beli daging, jangan makan hanya roti dan air. Beli pakaian yang pantas.
Jangan pikirkan aku. Uang ini aku dapat secara baik. Aku tidak menipu dan berbuat kejahatan. Ke manapun aku pergi, akan aku junjung tinggi nilai dari Papa.
__ADS_1
-Taran-
Saat membawa surat itu ke pos, Taran merasa sedih. Dia ingin pulang. Hanya selama masa percobaan, dia tidak boleh meninggalkan Heren.
Pagi itu Taran dipanggil kepala staf. Dari apartemen sewaan yang lebih mirip rumah susunโ karena hanya punya satu ruangan dan kamar mandi, Taran bergegas mengenakan kemeja dan jas menuju rumah keluarga Kenan. Hanya ada dia di ruangan itu hingga tubuh Taran gemetar.
Tak lama Ernesto Kenan, ketua Kenan Groupโ karena posisi Chairman dipegang putra pertamanya, Daren, datang. Pria itu duduk di kursi yang disediakan pelayan.
"Aku punya dua cucu perempuan. Cucu pertamaku sudah menikah. Cucuku yang termuda dan masih lajang ini yang aku maksud. Kamu tentu tahu. Sebelum menjadi staf di sini, kamu hafal semua anggota keluarga Kenan, bukan?" ucap lelaki itu.
"Kamu paham juga. Mulai sekarang, kamu akan jadi staf khususnya. Aku serahkan dia padamu. Aku baca latar belakang pendidikan dan kehidupanmu, aku percaya. Jangan berani mengkhianatiku. Kamu tahu konsekuensinya."
Taran kembali membungkuk. Bahkan hanya mendengar ancaman saja, badannya sudah panas dingin. Apalagi benar terjadi. Pria itu berlutut. "Bagaimana saya berani pada Anda, Tuan? Saya sudah mengatakan sumpah setia."
Taran diantar menuju apartemen tempat Dinia Kenan tinggal. Cucu keluarga itu ada empat, dua perempuan dan lelaki. Keempatnya menjadi CEO di setiap cabang perusahaan milik Kenan Group, di luar atau dalam perusahaan. Banyak yang bilang, itu karena privilese. Mereka tidak perlu berjuang mati-matian seperti Taran, karena kakek mereka menjamin pekerjaan dan posisi.
__ADS_1
Taran masuk ke ruang tamu. Pria itu pernah melihat Dinia sebelumnya di sampul majalah. Wanita yang cantik dan berkelas. Tidak heran kalau dia mendapatkan label, incaran para pria di Livetown.
"Salam hormat, Nona Kenan. Saya Taran Green, staf khusus Anda." Taran membungkuk. Dia tak berani menatap langsung atasannya itu.
"Angkat kepalamu, aku mau lihat wajah kamu!" titah Dinia.
Tara mendongak. Di sana matanya dan Dinia bertemu. Jantung pria itu berdebar lebih cepat. "Dia... cantik," batin Taran. Setelah itu dia menggelengkan kepala.
"Aku tahu, aku ini memang cantik. Tidak perlu sekentara itu." Dia duduk dengan tegap, mengenakan dress putih tanpa lengan. Rambutnya terurai panjang dan lurus hingga sikut. Senyumnya mereka seperti kelopak mawar merah.
Taran menggerakkan perlahan bibir. "Gimana bisa dia tahu isi pikiranku," batinnya lagi.
"Terlihat di mata kamu. Semua lelaki yang tertarik padaku di pandangan pertama, reaksinya persis seperti itu." Dinia bicara tanpa ekspresi. Datar.
๐๐๐
__ADS_1