BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!


__ADS_3

Khoirul keluar dari kamar mandi dengan muka masam. Dia tidak melepaskan pandangannya pada Khadijah yang sibuk mencicipi menu makan siang dari hotel. Wanita itu duduk di atas ranjang, berhadapan dengan televisi berukuran besar.


Chanel yang dia lihat bukannya berita nasional, olahraga atau apapun yang bisa membantu proses belajar tapi malah kartun spon berwarna kuning dengan lubang di mana-mana.


"Em, enaknya," sindir Khoirul.


"Emang, Pak," jawab Khadijah santai. Dia bahkan tidak melirik Khoirul sama sekali. Sementara Khoirul sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Bisa tolong saya?" tanya Khoirul.


"Apa lagi sih, Pak? Saya sedang metime nih," gerutu Khadijah.


"Hei, saya mengajak kamu ke sini bukan untuk metime, Dijah. Saya ingin honeymoon sama kamu, sama istri saya. Kita bisa melakukan apapun berdua. Semisal seperti semalam kan bisa. Kamu aja kesenangan begitu," omel Khoirul.


Khadijah tersedak mendengar ucapan tidak senonoh suaminya, matanya mendelik, "Bapak kalau bicara disaring dulu kenapa sih? Siapa juga yang kesenangan? Bapak kali yang enak dapat daun muda, masih fresh dan ranum. Kalau nggak menikah dengan saya, bapak mana mungkin ... ampun, Pak!"


Khoirul tiba-tiba menyerang Khadijah. Dia memeluk Khadijah, lalu memberikan kecupan bertubi-tubi pada kening istrinya. Beruntung Khoirul lebih sigap dengan membawa nampan makanan itu menjauh, jadi tidak berceceran di mana-mana.


Khadijah sibuk mengontrol dirinya. Ada semburan keinginan yang begitu kuat ketika menghirup aroma shampo suaminya. Bagian tubuhnya seakan meminta haknya. Padahal dia bukan orang yang akan terpesona pada pria. Tapi kali ini lain.


Apa aku mulai menyukai suamiku? Kenapa hanya pelukan aja udah membuatku melayang begini? Pakai ilmu apa sih Pak Khoirul? Biasanya aku nggak seperti ini, batin Khadijah.


Khoirul menyentil dahi istrinya, "Apa lagi yang kamu pikirkan? Kalau kepala kamu digunakan dengan benar kamu pasti udah lulus dari kapan tahun."


"Menjauh deh, Pak. Saya nggak bisa napas," gerutu Khadijah. Dia bersiap menendang, tapi Khoirul lebih dulu menahan kakinya.


"Jangan lagi!"


"Salah sendiri bapak nggak mau menyingkir."


Tiba-tiba suasana menjadi lebih canggung. Khoirul menyusuri lekuk wajah Khadijah dengan tatapannya, "Apa semalam sakit?"


Khadijah mengangguk.


"Lalu kenapa kamu diam saja?"


"Masa saya harus teriak-teriak sih, Pak? Kita kan di kampus," omel Khadijah.


"Maksudnya bicara sama saya begitu."


"Ini saya sudah bicara."


"Ternyata kamu masih perawan," gumam Khoirul.


Khadijah mendelik, "Memangnya bapak pikir saya apa? Buktinya berdarah kan? Yang membersihkan juga bapak."


Pria itu mengusap kelopak mata istrinya agar tidak lagi penuh emosi. Dengan bijak dia mengatakan, "Kalau bicara sama suami kamu, jangan pakai otot bisa kan? Yang sopan begitu, Dijah. Saya ini lebih tua dari kamu yang perlu kamu hormati. Lagian kalau kamu lebih santai, wajah kamu jadi semakin manis."


"Emang saya manis, Pak," sela Khadijah.


"Tuh, kan, ngeyel melulu."


"Salah lagi," ucap Khadijah.


Khoirul menyunggingkan senyum tipis, "Saya bahagia menikah dengan kamu."


"Baguslah, Pak."


"Kalau kamu gimana?" tanya Khoirul penuh harap.

__ADS_1


"Nanti saya pikirkan dulu, Pak."


"Belajarlah untuk memahami saya. Saya juga akan melakukan hal yang sama."


Khadijah sudah mulai membuka diri. Kalaupun ditolak juga percuma. Mereka sudah menikah. Tinggal bagaimana nanti.


"Jadi, saya boleh minta hak saya lagi nanti malam?" tanya Khoirul.


Khadijah melotot, "Sakit, Pak. Tunggu satu minggu lagi."


"Hah?"


°°°


"Dijah, Dijah, Dijah," panggil Raisa di ujung telepon sana.


Pukul setengah tiga sore, tiba-tiba wanita itu menghubungi Khadijah. Khadijah pikir ada gosip yang mengguncang kampus, ternyata hanya kabar tentang suaminya.


"Apa sih, Sa? Heboh begitu," keluh Khadijah. Suaranya seraknya mendominasi. Dia baru bangun tidur, terpaksa bangun karena suara dering ponselnya.


"Kamu tahu nggak?"


"Ya nggaklah."


"Tunggu dulu dong. Pak Khoirul absen lagi hari ini," bisik Raisa.


"Terus kenapa?"


"Dua hari dia absen loh, Dijah. Kamu nggak penasaran kenapa tiba-tiba absen? Pak Khoirul kan nggak pernah absen."


Ya jelas absenlah. Dia aja di sampingku, batin Khadijah.


"Mungkin ada acara," ucap Khadijah asal.


"Kamu sama siapa?" tanya Raisa penuh kecurigaan.


"Nggak sama siapa-siapa."


"Kok begitu suaranya? Argh? Kayak orang yang sedang begituan," tuduh Raisa.


"Enak aja. Ngomong disaring dulu kenapa sih. Aku lagi ada acara sama orangtuaku."


Raisa tetap curiga pada sahabatnya. Jangan-jangan Khadijah punya kekasih tapi berhubungan diam-diam di belakangnya. "Yakin kamu sama orangtua kamu? Mana coba aku mau sapa."


Khadijah melirik Khoirul dengan kesal. Gara-gara ulah Khoirul, Raisa jadi curiga padanya. "Mereka sibuk. Udah ya? Jangan telepon melulu."


"Lha kok ditu..,"


Sebelum Raisa selesai, Khadijah memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Dia mendelik sengit pada Khoirul, "Bapak bisa-bisanya iseng. Saya lagi telepon ini."


"Siapa suruh ngegosipin saya?" gumam Khoirul dengan mata terpejam. Kesadarannya belum pulih benar.


"Geser, Pak, tangannya," keluh Khadijah.


"Nggak mau. Udah posisi nyaman."


"Saya lapar, Pak."


"Makan saya saja," canda Khoirul.

__ADS_1


"Terserah deh, Pak. Sudah kalau ngomong sama bapak."


Tiba-tiba perut Khadijah berbunyi nyaring. Khoirul tertawa kecil mendengarnya.


"Benar lapar ya?"


"Iya dong, Pak. Dari siang saya cuma makan sedikit."


Kelopak mata Khoirul terbuka, "Sedikit? Nasi ayam, lalapan, salad buah, minuman, sama kue kamu bilang sedikit?"


"Kan sama bapak."


"Saya cuma ambil secuil ayam kamu ya? Jangan bicara seolah saya ini tukang makan. Saya tersinggung," omel Khoirul.


"Alah, Pak, begitu saja marah."


"Terserah. Saya ngambek," ucap Khoirul. Dia memasang wajah cemberut, lalu membuang muka. Lengannya juga sudah disingkirkan dari atas Khadijah. Pria itu memiringkan tubuhnya, benar-benar marah.


Dia dewasa sebelum waktunya mungkin, batin Khadijah.


"Pak?" panggil Khadijah.


"Hm."


"Katanya ngambek. Kok masih dijawab."


"Menjawab sapaan itu hukumnya wajib," jawab Khoirul.


"Makan yuk, Pak?"


"Panggil sayang dulu."


"Jangan kayak anak kecil dong, Pak."


"Biarin saja," ucap Khoirul.


"Mau makan nggak nih? Kalau nggak saya pergi sendiri ke bawah," ancam Khadijah.


"Bilang sayang, Dijah. Susahnya apa sih? Panggil suami kamu dengan sayang. Ayo, cepetan! Saya tungguin."


Posisi Khoirul masih menghadap ke arah lain. Dia belum ingin berbalik kalau Khadijah tidak mau mengikuti permintaannya. Tapi yang namanya Khadijah mana mungkin begitu saja mengiyakan? Dia malah beranjak dari tidurnya, berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Ketika keluar dari kamar mandi, dilihatnya Khoirul masih sama posisinya. Wanita itu enggan mengatakan apapun. Dia mengambil dompet dan ponsel, lalu melenggang pergi.


Sebelum mencapai pintu, Khadijah sempat berteriak, "Saya mau cari suami baru lagi yang nggak ngambekan. Bye, Pak Khoirul."


"Nooo!" teriak Khoirul. Dia cepat-cepat beranjak dari tempatnya. Tidak mungkin dia membiarkan Khadijah begitu saja. Dia masih sempat membawa dompet dan berlari ke luar.


Pergerakannya hampir kalah dari Khadijah. Beruntung dia masih bisa masuk satu lift dengan istrinya. Di sana hanya ada mereka berdua.


Khadijah melirik penampilan suaminya yang acak-acakan. Senyum ejekannya muncul. "Bapak habis ngapain?"


"Kenapa?"


"Berantakan."


"Mana sih?" Khoirul merapikan rambutnya dengan satu tangan, tapi malah semakin memperburuk penampilannya. Khadijah turun tangan. Dia membantu suaminya. Matanya yang sibuk meneliti perhelai rambut suaminya menjadi hiburan tersendiri untuk Khoirul.


Sampai mereka di lobby hotel, ada seseorang yang memanggil Khadijah.

__ADS_1


"Dijah, sedang apa di sini? Sama siapa?"


°°°


__ADS_2