BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 48 - Mulut Marwah


__ADS_3

"Nggak apa-apa, Mas? Mas yakin bisa pindah dari kampus yang berniat menaikkan pangkat Mas?" tanya Khadijah. Dia sebenarnya bimbang jika harus pindah dari kota yang membesarkan nama Khoirul. Belum tentu di kota lain, Khoirul mempunyai keberuntungan yang sama.


"Dijah, soal pangkat itu bukan masalah. Selama aku bisa menafkahi kamu, aku nggak akan peduli. Sekarang yang perlu kamu pikirkan bukan masalah itu tapi masalah kita. Kalau misalkan nanti aku nggak bisa menjadi dosen karena suatu hal, aku akan memulai bisnis sendiri. Lagi pula orang tuaku mempunyai perusahaan cabang dimana-mana. Aku bisa meminta mereka menyisihkan satu perusahaan untuk aku kelola," jelas Khoirul. Dia sudah memikirkannya berulang kali dan hasilnya tetap sama.


Khadijah diam, berpikir lebih tepatnya. Dia mengangguk pasrah. "Aku akan mengikuti keputusan kamu, Mas. Apapun itu yang terpenting terbaik untuk kita."


"Terimakasih."


°°°


Kabar kepindahan Khoirul dan Khadijah terdengar sampai di telinga orang tua Khoirul. Mereka langsung mendatangi rumah Khoirul, memastikan bahwa kabar itu tidak benar. Marwah yang mengira kepindahan itu karena Khadijah, menyalahkan Khadijah begitu melihat wajah menantunya.


"Ma," tegur Khoirul. Dia tidak mau orang tuanya mengusik istrinya terlebih setelah kediaman Khadijah selama ini. "Kepindahan ini murni karena aku. Kalau mama menyalahkan Khadijah, aku nggak akan segan-segan menghindari Mama untuk selamanya."


"Tuh, kan, kamu sudah terprovokasi dengan Khadijah. Mama heran sama kamu. Kinerja kamu sebagai dosen sudah diakui oleh banyak orang, tapi kenapa tiba-tiba kamu harus pindah? Selama ini ada masalah dalam mengajar? Atau karena gosip yang beredar itu? Mama bingung kenapa kamu bisa terserang gosip yang nggak enak setelah menikah dengan Khadijah. Jangan-jangan dia pembawa sial? Buktinya bayi yang dikandungnya juga hilang," tandas Marwah tanpa tedeng aling-aling. Benar-benar mulut harimau.


Khadijah terhenyak. Hatinya yang masih serapuh kapas, tiba-tiba diterbangkan oleh angin topan. Matanya berkaca-kaca. Dia memikirkan yang bukan-bukan.


Apa benar keguguran yang aku alami karena diriku sendiri? Jangan-jangan emang karena aku bersikap nggak sopan pada suamiku dan bicara buruk tentang kehamilanku waktu itu. Aku yang nggak percaya kalau aku hamil, seolah-olah nggak mau menerima. Ya Tuhan, jadi semua ini salahku? Batin Khadijah menyeruak.


Kondisi tubuh Khadijah berangsur-angsur berubah. Dia seperti tidak berpijak pada bumi. Dia hanya berputar pada situasi dimana dia yang harus disalahkan. Ya Tuhan, mulut mama mertuanya membuat dia jatuh ke dalam jurang.


Melihat hal itu, Khoirul bergerak cepat dengan memeluk istrinya dari belakang. Dia mengusap lengan Khadijah, "Jangan dipikirkan ucapan mama, Dijah. Mama hanya salah bicara. Sebaiknya kamu naik dulu ke kamar, biar aku yang bicara pada mama."


Ratna yang sedang membuatkan minuman, berlari begitu mendengar Khoirul memintanya untuk menjaga Khadijah. Putrinya tampak frustasi dan tertekan. Ingin rasanya dia memaki Marwah karena ucapan kasar wanita itu, tapi dia sungkan karena Khoirul ada di sana.


Khoirul membentak mamanya, tidak ada kesopanan yang bisa dia tunjukkan pada orangtuanya. "Mama nggak pernah tahu apa yang terjadi pada kami. Beberapa minggu ini, Khadijah seperti mayat hidup. Dia nggak makan dengan layak bahkan minum pun tidak bisa dikatakan menelan cairan. Susah payah aku membuatnya seperti manusia kembali, tapi mama malah membuat istriku menjadi terbebani. Asal mama tahu, keguguran yang Khadijah alami bukan karena kesalahan Khadijah tapi karena aku. Aku yang paling bersalah."


Raden mendesis sebal. Dia juga kesal dengan sikap istrinya. "Sebaiknya mama pulang. Kalau mama di sini lebih lama lagi, suasana akan semakin canggung. Kasihan Khadijah. Dia sudah trauma berat tapi mama malah menambahi bebannya. Papa heran kenapa mama nggak bisa menyaring ucapan?"

__ADS_1


Marwah mendelik, "Enak saja mama yang papa salahkan. Mama hanya bicara tentang fakta. Kalau memang Khadijah yang membuat semuanya menjadi sulit. Lihat saja! Khoirul harus sampai pindah ke kota lain hanya karena dia. Kalau tahu begini, dari dulu mama nggak akan menyetujui pernikahan mereka. Apa sih yang dilihat Khoirul dari Khadijah? Orangtuanya sudah bangkrut dan si Burhan yang selalu meminta bantuan pada anak kita. Memangnya anak kita panti sosial? Jangan-jangan dia juga yang memaksa anak kita untuk menikahi anaknya?"


Sebelum Khoirul bicara, Raden mendahului, "MAMA! JAGA MULUT!"


"Papa kok bentak mama sih?" Sungut Marwah.


"Pulang!"


"Nggak! Mama ingin memaksa Khoirul untuk memikirkan kembali kepindahannya. Khoirul, dengarkan..," ucapan itu terhenti karena Raden berhasil menyeret istrinya untuk keluar dari rumah Khoirul.


Khoirul menghela napas lelah. Dia melangkah ke arah tangga untuk menenangkan istrinya.


°°°


Tidak ada pembahasan lagi tentang ucapan Marwah pada Khadijah. Khoirul selalu mewanti-wanti istrinya untuk melupakan ucapan mamanya. Yang terpenting sekarang bukan orang lain tapi mereka sendiri.


Kepindahan mereka sudah hampir seratus persen. Bik Sani memaksa untuk ikut bersama mereka karena takut Khadijah tidak ada yang mengurus. Wanita itu juga sudah terbiasa dengan majikannya dan tidak berniat mencari majikan baru meskipun Khoirul sudah berjanji akan memberhentikan Bik Sani dengan pesangon yang besar. Khoirul juga akan mencarikan majikan baru yang lebih baik dari dirinya.


Khoirul mengalah. Dia juga terbantu dengan kehadiran bik Sani di rumah yang baru nanti. Kepindahan dilakukan pada hari pertama di bulan setelahnya. Kota yang menjadi pilihan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Hanya berkisar lima jam dengan menggunakan mobil pribadi.


Khoirul juga sudah mendapatkan rumah minimalis yang cukup dihuni oleh lima orang termasuk satpam rumah. Begitu Khadijah turun, dia langsung terpesona dengan interior dari rumah tersebut. Suasananya juga lebih asri dari rumah sebelumnya. Mendadak wanita itu ingin berkebun melihat halaman luas mereka.


"Mas, nanti cari toko bunga yang lengkap ya?" bujuk Khadijah.


"Emangnya kenapa?"


"Mau beli bunga."


"Untuk?" Khoirul masih belum paham kemana arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Berkebun. Biar halamannya banyak bunga, Mas."


Khoirul lega karena istrinya memiliki pemikiran positif setelah pindah rumah. "Boleh. Nanti aku antar ya?"


"Terimakasih, Mas."


"Sama-sama, Sayang. Ngomong-ngomong aku lapar. Delivery makanan yuk?"


Khadijah mengangguk antusias.


°°°


Keadaan Khadijah jauh lebih baik. Tidak ada lagi air mata, kesedihan ataupun percakapan tentang bayi. Kecuali hari ini ketika dia pulang dari berbelanja di depan perumahan. Di sana, berkumpul ibu-ibu yang bertetangga dengan mereka. Hanya beberapa orang tapi terlihat banyak karena mereka membawa anak-anak.


Perumahan elite yang kebanyakan dihuni oleh pegawai negeri sipil dan aparat negara, memang sepi gosip karena mereka jarang keluar rumah kecuali untuk belanja sayuran di depan. Sapaan mereka juga hanya sebatas say hello bukannya yang ingin tahu urusan orang lain.


Makanya aneh kalau Khadijah tiba-tiba menangis ketika pulang dari berbelanja.


"Ada apa?" tanya Khoirul bingung.


"Itu, Mas, ibu-ibu itu pada bawa anak-anak. Nah, anak-anaknya pada minta jajan."


Khoirul mengerutkan keningnya, "Lalu masalahnya?"


"Nggak ada yang minta jajan sama aku, Mas," rengek Khadijah.


Khoirul menepuk dahinya. Dia terkekeh geli, "Hanya itu?"


Manisnya istrinya.

__ADS_1


°°°


__ADS_2