
Bulir-bulir bening yang keluar sejak beberapa hari yang lalu, belum mampu untuk berhenti. Khoirul tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi situasi yang ada. Istrinya terpuruk begitu lama hingga membuat dirinya ikut masuk dalam keterpurukan itu.
Sejak Khadijah dinyatakan telah mengalami keguguran akibat dari stres yang dia alami dan juga tekanan-tekanan, wanita itu tidak ingin melihat dunia luar lagi. Bahkan ketika Raisa datang, Khadijah tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurnya.
Bujukan lembut ataupun kasar tidak bisa menembus hati Khadijah. Khadijah merasa dunianya telah hancur. Kenapa harus dia yang mengalaminya? Kenapa bukan orang lain? Mengingat dia berusaha menyelamatkan bayinya ketika masuk IGD, Khadijah benar-benar tidak ingin mengecewakan Khoirul.
Khoirul bahagia melihat dia hamil. Sekarang kebahagiaan itu harus tergantikan oleh kesedihan.
"Apa yang kamu pikirkan, Dijah? Kenapa kamu begini? Apa yang harus aku lakukan agar kamu nggak lagi murung?" tanya Khoirul dengan suara parau. Semangatnya untuk mengajar pupus ditambah dia harus memikirkan keadaan Khadijah.
Khadijah terdiam. Dia bergerak untuk bangkit karena punggungnya terasa sakit. Dia hanya menempelkan punggungnya pada kepala ranjang, lalu bungkam.
"Khadijah," gumam Khoirul. Disentuhnya lengan istrinya lembut, "kamu mau aku nggak makan berhari-hari? Iya? Kamu mau aku seperti kamu, Dijah? Begitu yang kamu inginkan?"
Khadijah terdiam. Separuh pikirannya memintanya untuk segera menjawab, tapi lidahnya tidak kunjung bergerak. Dia lebih mirip patung hidup dari pada manusia yang masih bisa bernapas dengan baik.
"Baiklah. Aku akan mengikuti alur yang kamu inginkan," gumam Khoirul, lalu bangkit. Dia berdiri dengan gamang, "kalau kamu menganggap aku marah sama kamu karena kegagalan kamu, kamu salah besar, Dijah. Insiden ini bukan kegagalan bagiku. Kamu harus tahu itu. Aku nggak pernah memaksa kamu untuk hamil. Semuanya mengalir begitu saja. Kalau kamu keguguran, apa salahnya? Tuhan memang menghendaki begitu. Anggap saja kita diuji sebagai pasangan suami istri, apakah kita bisa melaluinya atau nggak. Tapi yang aku lihat, kamu belum bisa melaluinya. Entah sampai kapan kamu akan meratapi nasib seperti ini. Jujur saja, aku kecewa dengan sikap kamu."
Khoirul pergi begitu saja karena Khadijah hanya diam. Di depan pintu kamar mereka, pria itu mematung. Dihelanya napas berulangkali, sesak namun tidak kunjung pergi. Tuhan bukan hanya menguji Khadijah tapi juga menguji kesabarannya. Akankah dia berhasil menguatkan istrinya ataukah dia akan ikut terjun bersama kesedihan istrinya.
°°°
Satu minggu kemudian ...
Ratna dan bik Sani menyiapkan makan malam untuk Khadijah dan Khoirul. Wanita itu tinggal bersama mereka sudah satu minggu ini karena permintaan Khoirul. Dia pikir Khadijah pasti mau membagi keluh kesahnya pada mamanya.
Apakah ada perubahan? Tentu belum. Khoirul dan Ratna sedang berjuang untuk memperbaiki semuanya. Ratna masih punya banyak kesabaran untuk membuat putrinya bicara.
"Makan dulu, Khoirul!" perintah Ratna ketika melihat Khoirul pulang dari kampus.
__ADS_1
Khoirul menghampirinya, lalu menyalaminya dengan muka super kusut. "Nanti saja, Ma. Aku belum lapar."
"Jangan begitu, Khoirul. Meskipun kamu nggak bisa makan, kamu harus tetap makan. Kasihani tubuh kamu yang udah seharian mengeluarkan tenaga. Nanti mama siapkan makanan untuk kamu dan Dijah. Mau makan dimana?"
Khoirul sejujurnya benar-benar tidak ingin makan apapun. Tubuhnya tidak bisa menerima asupan makanan. Tadi pagi saja ketika dia ingin makan roti bakar rasanya mulutnya kebas dan makanan itu tergeletak begitu saja di atas meja. Siangnya juga dia tidak makan apapun, hanya minum kopi dan mengunyah permen mint. Harapannya dia bisa menelan makanan setelah mulutnya terasa dingin. Tapi harapannya tidak terkabul.
Karena tidak baik menolak kebaikan hati orangtua, akhirnya Khoirul mengangguk. "Aku makan di sini saja, Ma. Oh ya, Ma, mama nanti malam tidur di kamarku saja. Jaga Dijah dulu karena aku ada tugas yang harus aku selesaikan. Sementara waktu aku tidur di kamar tamu."
Ratna tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk. Dia memandangi punggung Khoirul dengan sedih. "Anak itu juga ikut murung."
°°°
Ratna membawa semangkuk bubur tiga rasa untuk Khadijah. Apapun akan dia lakukan untuk mengisi perut kosong Khadijah. Khadijah sudah mau makan meskipun hanya dua suap saja selebihnya minum air putih hampir tiga botol air mineral dalam sehari.
Sedikit banyak Ratna mencoba mengajak bicara tapi kenyataannya hanya sepatah kata yang Khadijah ucapkan.
"Mama bawakan bubur, Dijah," ucap Ratna sembari menaruh nampan tersebut di atas nakas. Dia lalu duduk di samping Khadijah. "Kamu tahu, Sayang? Suami kamu pulang dengan wajah kusut. Mama rasa dia ada masalah di kampus. Kamu lihat nggak?"
"Kasihan dia. Makan juga nggak banyak. Hanya dua suap lalu pergi ke kamar. Oh, ya, malam ini Khoirul tidur di kamar tamu katanya ada tugas kampus. Mama disuruh tidur di sini. Setelah selesai makan, istirahatlah!"
Khadijah bergeming. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada suaminya.
°°°
Semalaman Khadijah belum bisa tidur. Dia tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatap langit-langit kamar. Di sampingnya, Ratna sudah memejamkan mata, tidur dengan pulas.
Pikiran Khadijah melayang pada Khoirul. Kira-kira Khoirul masih mengerjakan tugas apa pria itu sudah tidur? Khadijah sebenarnya penasaran tapi dia belum ingin memastikannya.
Pukul 02.00 ...
__ADS_1
Dua kelopak mata itu belum juga menutup. Pandangannya menerawang jauh. Sudah diputuskan jika dia akan segera bangkit. Sekian lama sejak dia sudah tidak berjalan-jalan jauh lagi, kakinya gemetar ketika menyentuh lantai.
Cengkeraman tangan Khadijah pada pinggiran ranjang menguat. Napasnya yang berirama teratur memberikan semangat untuknya segera berjalan. Diliriknya Ratna sebentar, mamanya masih tertidur.
Perlahan tapi pasti wanita itu berjalan ke luar kamar. Khadijah perlu menyesuaikan dirinya untuk menuruni tangga. Dia menyesal kenapa dia tidak bisa bergerak lebih sering ketika dia berada di dalam kamar.
Waktu yang harusnya hanya satu menit, terlewati lebih lama. Khadijah menatap permukaan pintu dengan pandangan nanar. Dia kebingungan, apakah dia perlu masuk atau tidak. Dalam hati dia mengkhawatirkan kondisi Khoirul. Lama dia terdiam hingga akhirnya memutuskan untuk berbalik.
Tidak disangka suaminya sedang berdiri di belakangnya, menunggu. Khoirul membawa secangkir kopi di tangannya.
"Butuh sesuatu?" tanya Khoirul. Nada suaranya datar, berbeda dari sebelumnya.
Jleb! Dalam hati Khadijah merasa tersisihkan. Kemana saja selama ini dirinya?
Khadijah menggeleng, "Aku hanya..,"
"Masuklah!"
"Em, boleh, Mas?" tanya Khadijah gugup.
"Boleh. Siapa yang bilang nggak boleh? Masuklah! Kamu mau minum?"
Khadijah menggeleng, dia tidak haus sama sekali. Dia mengikuti langkah Khoirul untuk masuk ke dalam kamar itu. Laptop masih menyala di atas meja, lalu lembaran kertas bertebaran di sampingnya.
Khoirul menaruh kopi tersebut di atas meja, lalu dia duduk di tepi ranjang. Tatapannya tertuju pada Khadijah, "Duduklah! Kenapa kamu hanya diam?"
"Boleh, Mas?" tanya Khadijah gugup.
"Sejak kapan aku melarang kamu untuk duduk di rumah kita sendiri? Jangan merentangkan jarak di antara kita, Dijah. Aku benar-benar nggak tahan lagi."
__ADS_1
°°°