BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 35 - Insiden Berkali-kali


__ADS_3

"Kak Dijah nggak apa-apa?" tanya Kinan takut. Dia memburu Khadijah yang berhasil menyingkir dari terjangan motor. Motor tersebut menabrak tiang listrik dan pemiliknya terbanting ke sisi lain.


"Nggak apa-apa," sahut Khadijah kesal. Dia tidak menghiraukan luka di telapak tangannya akibat pendaratan yang tidak maksimal di aspal jalan tadi. Wanita itu menghampiri si pengendara motor dan menghardiknya. "Mas kalau bawa motor jangan membahayakan orang dong. Gimana sih?"


Pria pembawa motor sialan itu bangkit. Keadaannya juga sama babak belurnya. "Ya namanya musibah, Mbak. Saya minta maaf."


"Kalau saya nggak menghindar, Mas pasti masuk kandang besi," sungut Khadijah. Dia bukannya tidak kasihan tapi dia juga mengalami kesakitan yang sama. Jantungnya pasti protes karena harus memompa lebih cepat. Beruntung refleksnya bagus, kalau tidak dia sudah berbeda alam dalam hitungan detik.


Si pengemudi diam saja, dia menilik motornya yang sudah tidak bisa bergerak itu. Bagian depannya rusak parah. Barang-barang yang dia bawa juga sebagian berceceran. Biarkan saja. Khadijah tidak berniat membantu. Orang-orang juga tidak bergerak untuk membantu bahkan mengabadikannya melalui ponsel.


Kinan meminta Khadijah untuk berhenti. Dia memastikan bahwa kakak iparnya baik-baik saja kalau tidak dia bisa diamuk Khoirul. "Mana lagi yang sakit, Kak, selain telapak tangan? Perutnya sakit nggak? Atau pinggang?"


Khadijah menggeleng, "Nggak ada. Aman-aman aja, nggak tahu kalau nanti malam tiba-tiba perut kram."


"Aku belikan obat merah dulu ya, Kak? Telapak tangan kakak parah banget ini lukanya. Untung kakak langsung gerak, kalau nggak aku bisa habis sama kak Khoirul," ucap Kinan. Bola matanya menyiratkan ketakutan yang jelas sekali. Dia meminta Khadijah untuk menunggu di dalam sementara dia mencari obat merah.


Khadijah sudah menolak karena mereka bisa membelinya nanti ketika pulang, tapi kecemasan Kinan benar-benar berlebihan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya wanita itu kembali dengan obat merah, plester dan juga alkohol.


Dengan telaten, Kinan membalut luka Khadijah. Dia baru bernapas lega ketika melihat luka itu sudah terobati dengan baik.


"Kita pulang saja, Kak," ucap Kinan.


"Nggak jadi beli bakso?"


"Nggak deh, Kak. Jantungku masih belum stabil takut keselek kalau makan bakso. Nanti malah masuk rumah sakit," gurau Kinan.

__ADS_1


Mau tidak mau Khadijah tersenyum geli. Dia mengikuti arahan Kinan untuk menunggu di depan pusat perbelanjaan sementara dia mengambil mobil. Dia berharap sesampainya mereka di rumah, Khoirul tidak ada. Dia bisa kabur lebih dulu agar tidak mendengar ocehan kakaknya.


°°°


"Kenapa ini?" tanya Khoirul ketika dia pulang dari kampus. Dilihatnya Khadijah sedang menonton tv dengan telapak tangan terbungkus plester yang ukurannya lumayan besar. Pria itu duduk di samping istrinya, "kenapa? Abis dari mana kok diplester begini? Saya buka ya?"


Tanpa menunggu persetujuan Khadijah, Khoirul membuka plester tersebut. Luka yang masih merah menganga itu membuat dia geram. Ditelannya bulat-bulat istrinya melalui tatapan cemas bercampur kesal. "Kamu habis main apa sama Kinan? Ini luka nggak kecil, Dijah. Bisa-bisanya kamu terluka. Cerita sama saya biar saya marahi itu anak."


Khadijah mengecup bibir suaminya sebagai ganti agar pria itu tidak marah-marah lagi. "Stop! Bapak ini kok malah marah-marah sih? Kinan nggak salah. Tadi ada motor yang tiba-tiba oleng. Saya berusaha menghindar tapi malah jatuh di aspal. Ini karena jatuh itu bukan karena Kinan. Kasihan adik bapak kalau dimarahi melulu. Nanti dia nggak mau main lagi ke sini."


"Makanya hati-hati. Lihat kanan kiri kalau kamu mau menyebrang jalan," ucap Khoirul. Dia lalu melanjutkan, "kamu ingat plat nomornya? Biar saya laporkan ke kantor polisi. Dia nggak mau bertanggung jawab kan?"


"Nggak perlu segitunya, Pak. Lagi pula kalau saya tadi mau minta tanggung jawab, udah saya paksa dia. Tapi keadaan dia juga nggak lebih baik dari saya. Anggap saja hari ini hari sial saya," tukas Khadijah.


Ketegangan Khoirul masih belum berhenti. Dia tetap memikirkan kondisi istrinya. Setelah cukup tenang, dia membersihkan luka itu dan meminta istrinya untuk makan malam.


Khoirul terbangun. Dengan kelopak mata yang setengah terbuka, dia bertanya pada istrinya, "Kenapa?"


"Nggak apa-apa, Pak," elak Khadijah.


Khoirul merasa ada yang tidak beres dari istrinya. Dia turun dari ranjang, keluar ke bawah untuk mencari obat oles khusus pijat. Dia kembali ke kamar dan meminta istrinya untuk berbaring dengan benar.


Perlahan dia mengoles obat tersebut ke bagian kaki dan juga pinggang Khadijah. Sembari bercerita, dia memberikan pijatan lembut di sana. Pria yang dengan sukarela membahagiakan istrinya pasti akan mengalami hari baik setelahnya.


Khadijah terharu, sangat. Dia hampir meneteskan air mata ketika tangan-tangan besar Khoirul membuat dirinya nyaman. Amal baik apakah yang dia perbuat dulu sampai Tuhan memberikan suami yang perhatian. Tanpa bicara pun dia memahami istrinya.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Khoirul. Dia bukan mengakhiri tapi menanyakan keadaan istrinya.


Khadijah mengangguk, "Sudah, Pak. Terimakasih."


"Ada yang lain lagi? Kamu yakin nggak mau dirontgen?"


Khadijah tidak merasa perlu karena keadaannya baik-baik saja. "Terimakasih tawarannya, Pak, tapi saya sudah lebih baik."


"Istirahatlah." Khoirul meletakkan obat oles di atas nakas, lalu dia beralih ke posisinya. Sebelum tidur, dia kembali menceritakan kisah mahasiswanya yang unik ketika dia mengajar mereka.


Tiba-tiba Khadijah penasaran akan sesuatu. "Kenapa bapak terkenal dengan dosen killer pemberi nilai D minus? Kenapa nggak C minus atau B minus?"


"Nggak tahu. Saya juga nggak paham kenapa julukan itu melekat pada saya. Pokoknya saya lebih suka memberikan anak-anak nakal yang jarang mengerjakan tugas saya seperti kamu contohnya, nilai D minus. Dari pada Z minus?"


"Ish, mana ada Z minus? Ngarang aja nih, Bapak," ucap Khadijah. Kelopak matanya mulai menyuruhnya untuk tidak banyak bicara. Kehangatan dari obat oles tadi membuat tubuhnya lebih rileks.


Melihat istrinya hampir tertidur, Khoirul mengusap dahinya agar kantuknya semakin menyerang. Posisi itu terjaga hingga Khadijah mengeluarkan dengkuran halus. Pria itu mengamati istrinya cukup lama hingga dia menguap. Dia terpejam bersamaan dengan waktu yang mulai menunjukkan tengah malam.


°°°


Kejadian tempo hari yang hampir mencelakakan Khadijah, kembali terulang ketika Khadijah dan Kinan pergi berdua untuk menonton di bioskop. Di perjalanan, entah dari arah mana tiba-tiba sebuah sepeda motor memotong jalan mereka.


Saat itu, Kinan yang menyetir kendaraan, terpaksa membanting stir ke arah kanan hingga bagian depan mobilnya menghantam mobil lain. Insiden yang hampir membuat keduanya dalam bahaya, akhirnya meluapkan amarah Khoirul.


Dia membawa istrinya ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Kinan. Kondisi Khadijah yang sedang down karena istrinya tiba-tiba tidak nafsu makan, diperparah karena benturan pada kepala istrinya. Namun di balik semua kejadian itu, Khoirul merasa Tuhan masih menyayanginya.

__ADS_1


"Selamat, Pak," ucap dokter tiba-tiba.


°°°


__ADS_2