
Raisa menyenggol lengan Khadijah sembari berbisik, "Siapa?"
Khadijah mengangguk enggan, "Ibu Miranti?"
Miranti tersenyum lebar, "Iya. Saya kira saya lihat tadi tapi ternyata benar kamu. Kuliah di sini juga? Siapa nama kamu? Khadijah bukan?"
"Iya, Bu."
Kenapa sih harus bertemu dengan dia? Padahal universitas ini gede kok masih aja bisa tatap muka, batin Khadijah.
Khadijah sebenarnya malas bertemu Miranti. Miranti terlalu perfeksionis, Khadijah agak minder ketika dia harus berhadapan dengan wanita itu.
Bukannya Khadijah tidak menghargai dirinya tapi yang namanya wanita pasti ada hal-hal di luar nalar yang membuat mereka lebih baik menghindar.
Kali ini Miranti mengkombinasikan warna gelap dengan sangat baik. Beberapa bagian tubuhnya tampak menonjol dan menggoda siapapun yang melihatnya. Bagaimana kalau Khoirul melihat Miranti dengan pandangan lain?
Khoirul pria tulen pasti punya getar-getar ketika melihat Miranti. Bukan Miranti saja tapi masih banyak wanita di luar sana yang banyak menggunakan tubuhnya untuk menggoda laki-laki.
"Oh ya, ini siapa?" tanya Miranti sembari menunjuk Raisa.
Raisa memberi salam, "Saya Raisa, Bu. Anak ekonomi."
"Sama. Saya mengajar di bidang pertanian dan hari ini pertama kali saya mengajar. Salam kenal ya, Raisa?"
Raisa melongo, Miranti terlalu ramah untuk dilihat. Dia membalas ucapan Miranti dengan balasan basa-basi. Lalu Miranti kembali mempertanyakan siapa yang menikah?
"Siapa yang menikah, Bu? Kami membicarakan mengenai dosen yang mengadakan acara pernikahan di hotel bintang lima. Kalau nggak salah namanya Miss Tiara. Iya, dosen fakultas bisnis," jelas Khadijah.
Beruntung dia ingat mengenai makanan tempo hari yang diberikan satpam ketika mereka menginap di ruangan Khoirul.
Miranti yang tidak tahu siapa itu Tiara hanya berucap 'oh' dan pergi karena dia ada kelas pagi. Tapi sejujurnya dia belum puas dengan jawaban Khadijah karena yang dia dengar mereka membicarakan soal Khadijah bukan Tiara.
Raisa mencerca Khadijah, dari mana Khadijah tahu siapa Miranti. Begitu dia mendengar langsung dari mulut sahabatnya, Raisa melongo kembali. "Benar-benar rumit. Yang sabar ya. Aku yakin Pak K hanya suka sama kamu. Makanya dong, Dijah, dandan yang cantik. Pakai baju yang agak formal, jangan kaos celana pendek. Kemeja sama rok pendek juga. Dasar emang."
"Pak K?"
"Hm, dari pada orang lain dengar kan gawat. Kita pakai sinyal saja."
Khadijah saja tidak berpikir sampai sejauh itu. Tapi dia mengiyakan. Ucapan Raisa mengena di kepalanya. Apa dia perlu berganti mode pakaian? Tapi dia sangat nyaman dengan penampilannya sekarang. Masa iya dia perlu mencoba pakaian seperti Miranti?
Memikirkannya saja membuatnya bergidik.
Tidak akan! Khadijah akan tetap menjadi Khadijah yang sekarang.
°°°
Lain di mulut lain di hati. Khadijah menolak mengikuti gaya pakaian Miranti tapi dia malah pergi ke pusat perbelanjaan setelah kelas selesai.
Khadijah pergi sendiri karena takut diolok-olok oleh Raisa. Rencana ke perpustakaan gagal. Nanti saja kalau dia pulang dari pusat perbelanjaan.
Dia menilik beberapa brand pakaian yang mewah dan mahal. Kenapa harus takut membeli barang-barang branded itu kalau dia membawa kartu hitam milik suaminya.
Ketika wanita itu melihat outer tidak terlalu panjang dengan motif cantik, dia ingin memadukannya dengan t-shirt polos dan celana kulot berbahan ringan. Namun dia ragu karena dia belum pernah memakai celana kulot.
"Apa bagus?" gumamnya.
"Trend sekarang memang begitu, Mbak. Kalau mbak kurang yakin, coba saja," ucap pramuniaga ramah.
__ADS_1
Khadijah mempertimbangkan apakah dia harus mencobanya atau tidak. Tidak lama kemudian, wanita itu akhirnya mengangguk. Dia memilih pakaian yang bisa dipadukan dengan pakaian lain.
Di dalam ruangan fitting, Khadijah menilai penampilannya di depan cermin. Ada yang salah dengan penglihatannya karena dia terlihat lebih gemuk. Tapi warnanya sangat cocok. Lagi-lagi wanita itu harus menelan kekecewaan. Dia tidak akan membeli semua pakaian yang dia coba.
Sebagai gantinya dia membeli dress yang mirip blazer korea, yang panjangnya hanya selutut. Benar-benar tampak menawan. Khadijah juga membeli tas berwarna senada dan beberapa kosmetik.
Wanita itu melihat etalase jam tangan yang modelnya cukup unik. Tanpa berpikir panjang, dia masuk ke dalam. Melihat salah satu koleksi benda yang sering dipakai laki-laki itu dengan serius.
Apa yang disukai Pak Khoirul ya? Warna apa yang dia sukai? Kok aku nggak tahu apa-apa? Apa berlebihan kalau aku membelikan jam tangan? Duh, niat hati baik tapi aku malah bingung, batin Khadijah.
Drrt!!!
Ponselnya bergetar. Khadijah mengalihkan pandangannya, lalu menerima panggilan.
"Iya, Pak," jawabnya.
"Sedang apa?"
"Belajar."
"Belajar dimana kok ramai begitu? Kamu main-main ya?" tebak Khoirul.
Khadijah menepuk dahinya, dia lupa dia sedang berada di tempat yang banyak sekali orang. "Bukan main, Pak. Tapi jalan-jalan. Saya bosan kalau belajar terus. Oh, ya, saya mau tanya. Warna apa yang bapak suka?"
"Merah," jawab Khoirul cepat.
"Kalau barang, bapak suka koleksi apa? Jam tangan, tas, dompet atau apa?"
"Jam tangan."
"Kok pas?" gumam Khadijah.
"Eh, nggak, Pak. Kalau jam tangan suka model simpel atau yang warnanya mencolok?"
"Menurut kamu saya suka warna yang gimana?" tanya Khoirul balik.
"Mungkin gelap. Seperti muka bapak yang nggak pernah senyum itu," canda Khadijah.
"Siapa bilang?"
"Saya," jawab Khadijah.
"Dasar kamu. Kalau sudah selesai, telepon ya. Saya mau ke kampus dulu."
"Jangan!" teriak Khadijah.
"Kenapa?"
Kalau ke kampus, ada Miranti, Pak Khoirul. Nanti kalian tebar pesona melulu lalu semakin dekat. Udah mengajar online saja, batin Khadijah.
"Ya nggak apa-apa. Tanggung," elak Khadijah. Dia mana berani menyuarakan isi hatinya.
"Nggak masalah. Saya masih ada kelas satu lagi. Kamu jangan keluyuran kemana-mana lagi!" perintah Khoirul.
"Iya."
"Panggil Mas coba?"
__ADS_1
"Iya, Mas."
"Nah begitu dong, Dijah. Saya tutup ya?"
"Tutup saja, Pak. Siapa yang melarang," gerutu Khadijah.
Klik!
Khadijah menebarkan pandangannya ke segala arah, dia akhirnya memilih jam tangan berwarna silver dengan model yang simpel. "Dibungkus yang rapi ya, Mbak?"
"Iya, Mbak."
°°°
Khadijah pulang dengan menggunakan taksi, dia juga tidak memberitahu Khoirul kalau dia sudah pulang. Biarkan saja suaminya mencarinya. Dia ingin memberikan kejutan. Tapi ...
"Nih!"
Khadijah terkejut karena ketika dia memasuki pintu utama, Khoirul tiba-tiba menyorongkan sebuah paper bag. "Apa ini, Pak?"
"Hadiah. Hari jadi pernikahan kedua puluh hari," jawab Khoirul.
"Masa?" Khadijah sama sekali tidak ingat kapan tanggal pernikahan mereka. Tapi keningnya berkerut, "kok merayakan di hari kedua puluh hari sih, Pak? Biasanya kan tiga puluh hari atau satu tahun."
"Suka-suka saya lah. Mau nggak? Atau saya bawa kembali lagi?" ancam Khoirul karena Khadijah tidak juga menerima paper bagnya.
Khadijah mendesis, "Aneh." Dia membuka paper bagnya. Matanya membulat penuh. Sebuah benda persegi panjang yang canggih dan baru saja rilis terlihat dari atas sana. Jarinya bahkan tidak sanggup menggenggamnya.
"Terharu ya?" tebak Khoirul senang.
"Nggak sih, Pak. Hanya terkejut saja. Terimakasih ya."
Khadijah hendak melipir pergi tapi Khoirul menahannya. Pria itu menopangkan dua telapak tangannya ke udara, seperti menginginkan sesuatu.
"Apalagi, Pak?"
"Kado buat saya mana?"
Khadijah menggeleng lesu, "Nggak ada, Pak."
Kado saya lebih murah dari kado bapak. Saya malu kalau hanya memberikan jam tangan yang harganya hanya dua juta. Sedangkan kado bapak saja mahal. Nanti apa yang bapak pikirkan? Batin Khadijah.
Khoirul tidak percaya, "Nggak mungkin."
"Ya sudah kalau nggak percaya."
Raut wajah Khoirul tampak kecewa, "Kenapa kamu tanya-tanya saya soal kesukaan saya?"
"Saya ingin tahu saja," gumam Khadijah.
Khoirul benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia berbalik tanpa mengatakan apapun. Padahal dia sudah berharap banyak.
Sejujurnya Khadijah iba melihat Khoirul tapi dia lebih mementingkan egonya. Sampai akhirnya, Khoirul yang tidak puas dengan ucapan Khadijah, membuka isi tas Khadijah ketika wanita itu tidur.
Memang tidak etis tapi dia sangat penasaran. Khoirul menemukan paper bag kecil dengan isi kotak di dalamnya. Khoirul memperkirakan itu adalah hadiah yang akan diberikan Khadijah.
"Kenapa dia bilang nggak punya kado untuk saya?" gumam Khoirul.
__ADS_1
"Karena saya malu, Pak. Saya bahkan nggak memperkirakan bapak akan memberikan hadiah mewah untuk saya," aku Khadijah perlahan.
°°°